
Ini adalah penjara yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan perempuan yang dipenjara. Seperti Rebibbia Maschile, Rebibbia Femminile juga memiliki blok sel dan fasilitas pendukung yang mirip.
Namun, ada juga fasilitas khusus untuk ibu dan anak, mengingat beberapa narapidana perempuan membawa anak kecil bersama mereka.
Selama berada di dalam Penjara Rebibbia, narapidana diberikan akses ke berbagai program rehabilitasi dan reintegrasi. Program ini mencakup pendidikan, pelatihan kerja, konseling, dan berbagai kegiatan kreatif.
Tujuannya adalah membantu narapidana mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat setelah pembebasan mereka. Selain itu, ada juga program medis dan perawatan kesehatan yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan fisik dan mental narapidana.
Rebibbia juga memiliki sistem keamanan yang ketat. Pengawas penjara dan petugas keamanan bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban dan keamanan di dalam penjara.
Pemeriksaan rutin, pengawasan kamera, dan protokol keamanan yang ketat diterap.
Tak jarang terjadinya kerusuhan yang terjadi, karena para narapidana yang mendekap di penjara tersebut bukan hanya warga Italia saja.
__ADS_1
Mereka kumpulan para gangster, anggota mafia, yakuza, dan bahkan ******* yang berasal dari berbagai macam negara. Banyak dari mereka yang membentuk geng sendiri di dalamnya.
Semakin kuat geng itu, maka semakin makmur hidup mereka.
Pagi hari yang cerah. Hari pertama Zaid berada di penjara Rebibbia. Dia beranjak dari ranjang, dan keluar dari sel. Menikmati suasana khas di dalam penjara.
Pagi hari itu banyak yang sudah melakukan aktivitas seperti biasanya. Menyantap sarapan, berjemur dibawah sinar matahari, dan berolahraga ringan lainnya.
Dia datang ke penjara itu tepat pukul 01.00 dini hari. Mudah saja bagi Matteo untuk memasukkan dan mengeluarkan seseorang di dalam penjara, dengan semua kekuasaan dan koneksi yang dimilikinya di negara itu.
Zaid menyusuri seluruh sudut penjara, mulai ujung hingga ujung. Melihat celah yang akan digunakan untuk kabur nantinya.
Beberapa kali Zaid juga melihat orang-orang yang sedang bertransaksi rokok, hingga narkoba sekalipun. Mudah saja mereka melakukan semua transaksi itu.
__ADS_1
Karena beberapa sipir korup juga membiarkan mereka, asal mereka membayar para sipir untuk bungkam mulut. Tak ada yang mustahil dilakukan.
Di lapangan tempat para napi berolahraga. Banyak sekali para napi yang berkumpul di lapangan itu.
Bermain futsal menggunakan kayu untuk gawangnya, bermain voli, dan beberapa lainnya yang mengangkat barbel dari semen di pinggir lapangan.
Zaid hanya berjalan santai dan melihat kegiatan para napi itu dengan senyuman. “Astaga, kenapa mereka bahkan tak terlihat lesu, bahkan saat dalam penjara,” gumam Zaid.
Bersiul, meletakkan tangan di belakang badan, dan terus berjalan menyusuri penjara. Dia berpapasan dengan empat napi yang menghadangnya di lorong.
Keempat napi itu memiliki perawakan yang gempal dengan tato di setiap bagian tubuhnya. Mereka menggotong seorang napi lainnya yang sudah babak belur.
Sepertinya mereka telah memukuli napi yang bernasib malang itu.
__ADS_1
“Hei! Kudengar kau seorang pengacara. Bagaimana hukumnya, jika aku memukuli batang hidungmu seperti aku memukuli pria ini?” ucap salah satunya.
Zaid menyeringai lebar. Pasti keempat napi itu ingin mencari gara-gara dengannya. Dia juga mendengar bahwa keempat napi itu adalah predator yang suka memangsa pria muda yang tampan.