TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 065


__ADS_3

“Wah, lihatlah. Kita terlihat sangat serasi saat menggunakan setelan ini.” Can menyeringai lebar. “Omong-omong, apa kau melihat Manajer Anna? Aku tak melihatnya dari tadi.”


Zaid melipat dahi, menatap Anna yang jelas-jelas berdiri di sebelahnya. “Apa? Maksudmu ….”


“Tidak, hanya saja yang kulihat sekarang ini adalah bidadari kecil yang sangat cantik dengan gaun putih itu.” Can tersenyum menatap Anna.


Zaid menghela nafas. Brengsek! Ternyata Can hanya sedang melucu yang bahkan tak lucu baginya.


“Astaga, dimana rubah kecilku pergi kali ini?”


“Cukup, Kak. Hentikan itu!” Anna memukul pundak Can karena menggodanya.


“Baiklah, mari kita pergi.” Can mengulurkan tangan pada Anna.


“Tentu.”


Mereka berdua pun bergandengan tangan mesra seperti seorang Cinderella yang bertemu Pangerannya.


“Sial! Apa-apaan ini?” umpat Zaid kesal. Dia pun juga beranjak dari lobi menyusul Can.


Di depan hotel, telah tersedia sebuah mobil SUV dengan sopir yang yang sudah disewa untuk menjemput Can, Anna, dan juga Zaid.

__ADS_1


Can dan Anna duduk di bangku belakang, sementara Zaid duduk di sebelah kemudi sopir.


Mobil pun melesat pergi dari hotel.


Tiga puluh menit berlalu. Waktu menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit. Sampailah rombongan Zaid di depan gerbang halaman rumah VIctor.


Dari depan, bangunan rumah Victor seperti kerajaan romawi kuno. Terletak di pinggiran kata Moskow, tapi, memiliki luas dan bangunan yang sangat megah.


Beberapa anak buah VIctor terlihat menjaga gerbang itu. Membawa senjata api di setiap tangan mereka. Semua penjaga gerbang itu memiliki badan yang tinggi bongsor, juga wajah garang.


Tak satupun pandangan luput dari tatapan mereka.


Dua orang penjaga memeriksa mobil yang dinaiki Zaid. Mereka membawa satu anjing helder, juga alat pelacak dan pendeteksi bom.


Anjing helder itu langsung mengendus, mengelilingi setiap sisi mobil.


Juga seorang penjaga lainnya yang memeriksa menggunakan alat pendeteksi bom itu.  Tak cukup sampai disana.


Salah seorang penjaga mengetuk pintu jendela mobil. Menyuruh untuk membukanya.


Dia memasukkan kepalanya sedikit ke dalam, dan melihat setiap orang yang berada di dalam mobil.

__ADS_1


“Astaga, apa-apaan ini? Keamanannya sungguh tak masuk akal,” bisik Can pada Anna.


Anna hanya diam menunduk. Ketakutan melihat anak buah Victor yang berwajah garang itu.


Berbeda dengan Zaid. Dia tetap tenang, dan balik menatap anak buah Victor saat dia menatapnya. Meski wajah Zaid tak segarang penjaga itu, tapi, tatapan Zaid tak kalah mengerikannya.


Zaid tahu bahwa para penjaga rumah itu sebenarnya adalah anggota mafia dan tukang pukul yang dimiliki Victor, tidak seperti Can menganggap Victor hanyalah seorang pengusaha logam.


Setelah dirasa tak ada yang mencurigakan, barulah pengawal itu membukakan pintu gerbanng, dan mobil pun dapat memasuki kawasan rumah.


Harus menempuh jarak sekitar 400 meter lagi dari gerbang menuju rumah utama Victor. Sepanjang perjalan menuju rumah Victor itu banyak sekali bangunan megah yang berada di sekitarnya.


Taman-taman dengan tumbuhan hijau. Beberapa bangunan yang megah juga bangunan yang telah lama tak terpakai. Bahakan, Can pun sampai terkagum melihat luas rumah yang dimiliki Victor.


Setelah sampai di depan pintu rumah utama, mereka disambut lagi dengan penjaga rumah Victor.


Berdiri sigap. Menggunakan setelan jas berwarna hitam, kemeja putih, dan dilengkapi senjata api di tiap tangannya.


Salah satu penjaga membukakan pintu mobil untuk Can. Disusul dengan Zaid yang keluar, membuka pintu untuk Anna.


“Wah, Fantastik!” seru Can melihat rumah mewah Victor.

__ADS_1


__ADS_2