TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 082


__ADS_3

Tepat saat Anna ingin menegak alkohol di gelasnya, Zaid berdiri, lalu merebut gelas itu dari Anna.


“Ada apa?” tanya Anna loyo. Nampaknya dia sudah sedikit terpengaruh dengan alkohol.


“Tak apa. Minumanku sudah habis, dan aku malas untuk menuangkannya kembali.” Zaid pun menegak minuman itu hingga tetes terakhir.


“Woahhhh!!!!! Sepertinya kau memang butuh menenangkan diri untuk sementara waktu, Pengawal Zaid. Kau sudah bekerja terlalu keras belakangan ini. Benar begitu, Pengawal Zaid. Kau harus minum sebanyak-banyaknya.” Can berseru.


Anna mengambil gelas baru juga botol vodka yang masih terisi penuh. Menuangkannya hingga gelas terisi penuh.


“Brengsek! Dasar wanita gila! Lihatlah, badannya kurus, tapi dia tak tahu diri,” batin Zaid.


Tepat sebelum Anna ingin menegak gelas itu, Zaid lebih dulu merebut gelass itu. Dia tak ingin menjadi korban Anna saat teler.


“Berhentilah minum minuman seperti ini, jika kau tak bisa mengendalikan dirimu,” tegas Zaid.


“Apa maksudmu?”


“BERHENTILAH MINUM!!” brak!!! Zaid membentak dan menggedor meja. Membuat semua orang ketakutan melihat reaksi Zaid.

__ADS_1


“Ah, sial! Badanmu kurus, tapi, kau banyak sekali minum. Kau tak kasihan dengan organ dalammu? Kau ingin mati cepat? Dasar, Bodoh!”


Zaid pun menegak isi gelas itu hingga tuntas.


Semua orang bertepuk tangan kecil. Menyoraki Zaid.


“Bravo!!! Pengawal Zaid, kaulah yang terbaik! Kau adalah penyelamat kita semua,” seru Can.


Zaid menekuk dahi. Dia merasakan pengar dari alkohol yang ditegaknya dua gelas penuh sekaligus. Zaid pun segera mengambil 3 buah potongan semangka di atas piring, dan menelannya satu persatu.


“Astaga, sepertinya Pengawal Zaid terlalu mencemaskan Manajer Anna. Kau memang pria sejati, Pengawal Zaid.” Can mengacungkan jempolnya pada Zaid yang masih merasakan pengar.


Anna melongo linglung melihat sekitar. “Benarkah, dia mencemaskanku?”


Zaid berdiri dari kursi. Berjalan menuju pintu. Melangkah perlahan dan memegangi perutnya yang kembung karena alkohol.


“Hei, Pengawal Zaid! Apa kau mau pergi? Astaga, berhati-hatilah. Pesan saja taksi agar lebih aman.”


Zaid tak menghiraukan perkataan Can dan terus melangkah pergi. Berjalan dengan sempoyongan. Merasakan pengar dari pengaruh alkohol yang ditenggaknya.

__ADS_1


Di teras rumah Can, Anna menyusul Zaid yang akan pulang ke markasnya.


“Tunggu, Pengawal Zaid! Kemana kau akan pergi?” Anna berlari kecil berdiri tepat di depan Zaid.


“Aku mau pulang,” jawab Zaid ketus.


“Apa kau pulang karena aku?”


“Ya. Itu semua karenamu.”


“Hmmm, baiklah. Aku tahu kau kesal karena diriku. Aku selalu menghalangimu dan membuatmu cemas. Akan tetapi, aku juga tahu bahwa tak mudah bagi seseorang untuk memberitahu perasaan mereka pada orang yang dicintainya.”


Zaid terdiam. Berpikir sejenak, lalu menghela nafas panjang. “Astaga, apa Si Bodoh ini mengira bahwa aku benar-benar menyukainya? Sepertinya aku bisa memanfaatkan Si Bodoh ini,” batin Zaid.


Dengan berpura-pura menyukai Anna, dan membuat Anna jatuh cinta, lalu Zaid akan mencampakkan Anna setelah itu. Mungkin hanya itu satu-satunya cara yang bisa digunakannya untuk berpamitan.


“Sungguh. Aku sangat tahu perasaanmu, Pengawal Zaid. Akan tetapi, maaf aku jika tak memiliki perasaan yang sama dan tak dapat membalas perasaanmu.”


“Tentu. Aku juga mengerti akan hal itu.” Zaid berpura-pura sedih.

__ADS_1


__ADS_2