TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 032


__ADS_3

Di dalam kereta. Banyak sekali penumpang yang ada. Dari kalangan para siswa, anak kuliah, hingga para pekerja yang memilih menaiki kereta KRL karena menghindari macet.


Beberapa ada yang berdiri berpegangan pada tiang karena tak mendapat tempat duduk. Ada yang mendengarkan musik, bermain ponsel, hingga membaca buku.


Begitupun dengan Zaid yang masih memegang tangan Can. Mereka berdua berdiri tepat di pinggir pintu.


Can menepuk-nepuk tangan Zaid, agar melepaskan tangannya.


Segera Can menutup wajahnya dengan tangan. Ketakutan jika para penumpang kereta itu menyadari bahwa ada artis terkenal yang menaiki kereta KRL bawah tanah.


“Hanya butuh sekitar 15 menit lebih awal untuk sampai ke lokasi syuting, jika kita menaiki transportasi ini. Aku yakin kau tak akan terlambat,” ucap Zaid.


Can mendekat dan berkata lirih. “Sial! Apa kau gila? Orang-orang disini akan mengenalku. Ini transportasi umum dan terbaru di negri ini.” Cna mengambil kacamata hitam milik Zaid, lalu memakainya.


Zaid melihat orang-orang disekitarnya yang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Kembali mengambil kacamata miliknya, lalu memakainya kembali. Melangkah menjauh dari Can.


Berdiri di seberang Can.

__ADS_1


“HEI!!! Apa yang kau …..” Tamat sudah. Can keceplosan berbicara dengan nada tinggi. Membuat semua penumpang yang ada dalam gerbang itu menoleh melihatnya.


Astaga, lihat itu! Itu Can Yaman! Wah, lihatlah! Tak kusangka aku akan bertemu di tempat ini! Ini sungguh keberuntungan bagiku.


Keributan pun tak bisa terhindar. Beberapa wanita dari kalangan pelajar dan mahasiswa pun mulai menyerbunya.


Mereka semua merengek. Meminta tanda tangan, berfoto bersama, hingga selfie.


Setiap tangan dari penggemar telah memegang kamera dan memotret Can berulang kali. Sebelum mereka mendapat giliran untuk berfoto bersama.


Sesekali Can melirik ketus pada Zaid, tapi, Zaid hanya bersikap dingin dan membiarkannya dikerumuni oleh para penggemarnya sendiri.


***


Siang harinya pukul 2, di lokasi syuting. Semua kru telah serempak membereskan peralatannya. Sesi adegan syuting telah usai.


Terlihat juga Can yang berjalan kembali ke stand tendanya diikuti oleh Zaid di belakangnya, dan para kru dari tim make up yang selalu mengikutinya.

__ADS_1


Can masih menggunakan kostum yang dipakainya saat adegan berlangsung. Setelan kasual dengan penuh darah dan luka tusuk buatan, karena dalam sesi itu dia harus berpura-pura mati.


‘Astaga, sungguh melelahkan. Dalam adegan tadi aku sangatlah puas, meski aku harus mati dan berlumuran dengan darah buatan seperti ini,” seru Can.


Dari stand tendanya, terlihat Anna yang langsung berlari ke arah Can. “Hei! Apa kau baik-baik saja, Kak?”


Sejak kedatangannya di lokasi syuting, Anna belum bertemu dengan Can sama sekali, karena Anna datang ke lokasi terlambat dan syuting pun telah dimulai.


“Bagaimana bisa aku baik-baik saja? Aku baru saja mati,” ucap Can asal.


“Astaga, benar juga. Kau hampir mati saat berlari tadi pagi. Astaga, kasihan sekali kau.” Anna memegang kedua pipi Can dengan sifat centil nya seperti biasa.


Anna berbalik menatap ketus Zaid.


“Lihat ini, Tuan Pengawal! Apa yang baru kau lakukan tadi pagi? Kau tak bisa bertindak sesukamu seperti tadi, dengan membawa Kak, Can ke transportasi umum.”


“Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Apa kau bisa bertanggung jawab? Apa-apaan kau ini? Kau berlari dan menggandeng tangannya seperti tadi pagi.”

__ADS_1


__ADS_2