
Zaid kembali melangkah mendekati ranjang.
“Tuan Can Yaman. Bangun tepat pukul tujuh pagi. Sangat sesuai dengan jadwal yang sudah tertera,” ucap Zaid.
Can menatap Zaid ketus. Mereka berdua saling melemparkan pandangan satu sama lain.
“Ini palsu, bukan?” tanya Can masih memegang jam weker dan menggerak-gerakkannya. “Ini tak mungkin meledak, bukan?”
“Mempercayai seorang pengawal dan percaya padanya adalah dasar dari keamanan, Tuan Can. Kau melakukannya dengan sangat baik.”
Plok plak plak Zaid menepuk-nepuk tangannya tiga kali.
“Segeralah bangun. Aku akan menyiapkan kendaraanmu bersama sopirmu. Aku permisi.” Zaid menunduk, lalu beranjak pergi.
“Hei, tunggu! Beraninya kau bergurau denganku. Apa kau tak tahu sopan santun pada orang yang lebih tua?” Can berteriak kesal.
Zaid berbalik mendekat. “Sungguh kau lebih tua? Tahun berapa kau lahir?”
“1970. Kau?”
“Kita sama. Aku juga lahir di tahun itu. Bulan?”
__ADS_1
“Desember,” jawab Can.
“Aku Agustus. Jelas, bukan. Aku lebih tua darimu.” Zaid kesal.
Can menunduk. Merasa terintimidasi. “Tapi …. Bagaimana mungkin kau bisa terlihat lebih muda seperti itu?”
Zaid mendengus, lalu pergi meninggalkan kamar.
Sementara Can hanya melongo. Dia masih terduduk di atas ranjangnya. Tak bisa berkata apapun.
***
Tepat pukul 08.00 pagi. Can akan berangkat ke lokasi syutingnya. Zaid dan sopir pribadinya telah menunggunya lebih awal di depan rumah.
Sengaja menggunakan mobil minibus karena untuk membawa semua barang yang diperlukan saat di lokasi syuting. Beberapa setel milik Can, handuk, dan peralatan mandi lainnya.
Menggunakan 2 mobil untuk berangkat ke lokasi saat itu. Mobil Van yang diisi oleh Zaid, Can, dan sopir pribadinya.
Serta mobil type suv yang dikendarai oleh Anna. Membawa beberapa orang dari tim make up.
Kedua mobil itu pun berangkat bersama. Melesat pergi ke jalan raya. Menuju lokasi syuting.
__ADS_1
Tiga puluh menit berjalan. Perjalanan mereka cukup aman tanpa kendala apapun. Jarak satu kilometer lagi dan mereka sudah sampai di lokasi syuting.
Akan tetapi, semuanya harus bingung ketika beberapa kendaraan bermotor dan bermobil mulai memadati jalanan. Membuat jalanan sangat padat dan macet.
Mereka yang menggunakan kendaraan roda dua, tak begitu terpengaruh dengan kemacetan itu.
Motor dapat berkelok-kelok menyalip dan mendahului mobil, tapi, sial bagi mereka yang membawa mobil.
Mereka harus berdiam diri di jalan, dan menunggu mobil di depannya untuk maju.
Hanya 5 menit sekali. Kendaraan bermobil itu dapat melaju, dan itu pun mereka harus berhenti dan menunggu lagi.
Akan memakan banyak waktu jika tetap seperti itu. Can juga akan terlambat pergi ke lokasi syuting, karena terjebak macet total.
“Hei, kenapa kita masih berhenti di jembatan? Apa kau tak memeriksa lalu lintas sebelum pergi?” tanya Can pada sopirnya. Dia duduk di kursi belakang sendiran. Sementara Zaid duduk di sebelah kemudi sopir.
Zaid tetap tenang bersikap dingin dan menikmati suasana kemacetan yang terjadi.
“Sudah kukatakan padamu, Tuan. Jika kita terlambat lima menit saja, maka kita akan terlambat satu jam. Aku juga tak menyangka jalan raya akan ramai di pagi ini,” jawab Si Sopir.
“Kalau mereka datang tepat waktu, mereka pasti berangkat dari kemarin. Tak ada yang bisa untuk selalu tepat waktu.”
__ADS_1
Si Sopir mendengus kesal karena Can yang terus mengoceh.