TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 059


__ADS_3

Beberapa saat Anna melantur, kini pun Anna telah terlelap sepenuhnya. Matanya tertutup dan mulutnya tak mampu mengoceh kembali. Perlahan Zaid melangkahkan kakinya. Beranjak pergi dari kamar.


Berdiri sejenak di depan pintu kamar. “Aku harus menemukan cara untuk menggerakkan Can Yaman.”  Zaid turun ke lantai satu untuk beristirahat di ruang tengah.


Di ruang tengah, dia melihat Can yang sedang menonton dan menikmati opera komedi di salah satu stasiun tv.  Tersenyum melihat Zaid yang berjalan menuruni tangga.


“Ada apa denganmu? Apa Anna mengganggumu? Dia memang kerap kali tidur di kamar itu jika sedang mabuk. Jika kau tak keberatan, kau bisa tidur di kamarku saja. Aku sedang ingin begadang malam ini.”


“Lihatlah, acara opera komedi itu sangat lucu.” Can terkekeh melihat komedian yang menampilkan acara.


“Apa kau ingin minum bersamaku? Kita bisa menikmati alkohol dan menyantap ayam goreng. Bagaimana?”


“Wah, waktu yang sangat tepat!” Can beranjak dari kursinya. Menghampiri Zaid. “Anna sudah tidur, jadi, dia tak bisa mempergokiku.”


“Baiklah. Kau bisa menunggu disini. Aku akan memesankan ayam dan mengambil beberapa botol vodka dari kulkas.”

__ADS_1


“Wah, aku benar-benar jatuh cinta padamu, Pengawal Zaid.,” seru Can menepuk-nepuk pundak Zaid.


Zaid tersenyum kecil. Berbalik mengambil beberapa botol whiskey, juga memesan ayam goreng dari kedai langganan Can.


Setengah jam berlalu. Ayam goreng telah diantar oleh kurir, dan mereka berdua pun makan dan minum bersama di balkon. Menatap langit malam yang indah. Dipenuhi bintang-bintang yang menghiasinya.


Satu meja bundar, dengan dua buah kursi yang saling berhadapan. Di atas meja telah tersedia beberapa potong ayam goreng, juga minuman alkohol.


“Wah, sudah lama sekali aku tak menikmati menu seperti ini.” Can menggosok kedua tangannya. Tak sabar untuk menyantap potongan ayam yang menggiurkan.


Sementara Zaid menuangkan alkohol ke dalam gelas sloki miliknya dan milik Can.


Malam yang panjang juga penuh keluh kesah dari Can. Dia bercerita panjang lebar pada Zaid, bagaimana dia memulai karirnya dulu, hingga semua masalah yang terjadi selama berkarir.


Begitupun dengan Zaid yang bercerita tentang semua perkataan yang keluar dari mulut Anna saat mabuk di kamarnya.

__ADS_1


“Kumohon kau mengerti, Pengawal Zaid. Kurasa Anna mabuk seperti itu karena terlalu stres memikirkanku,” jelas Can.


“Tak apa. Tampaknya semua orang dari timmu juga cemas.”


“Hmmm, apa kau juga berpikir bahwa aku terlihat sangat menyedihkan?”


“Saat orang memutuskan untuk pergi, aku yakin mereka punya alasan untuk kembali. Kau harus memikirkan dirimu sendiri mulai saat ini. Fokuslah pada pemulihan yang kau jalani.”


Can menyeringai lebar. Merasa tersanjung karena Zaid memperhatikannya.


“Setelah mengalami kecelakaan sebanyak 2 kali, sepertinya aku menjadi penakut. Aku takut di depan kamera, aku takut melakukan adegan syuting, dan bahkan aku takut untuk menyetir mobil sendirian.”


“Kau tak perlu khawatir. Itu semua akan segera berlalu. Hal itu terjadi karena kau tak bisa melupakan dengan mudah semua kenangan yang menyakitkan itu.”


Can bergantian menuangkan alkohol ke dalam sloki milik Zaid, lalu meminum bersama.

__ADS_1


“Kaki kiriku hampir saja lumpuh saat kecelakaan pertama. Saat aku menjalani proses terapi, terasa seperti di neraka. Seperti, aku berada di sumur penderitaan yang sangat dalam dan tak bisa keluar dari sumur itu.”


“Akan tetapi, bukankah kau dapat melalui semua itu?”


__ADS_2