
Para pasukan pun sudah tahu bahwa itu ulah Zaid. Hanya dia yang berani menentang perintah atasannya sendiri. Pria yang tak mau diatur dan bertingkah semaunya sendiri.
Ketiga mayat perompak itu segera diamankan oleh para tim, dan segera mengevakuasi para sandera.
Menggunakan skateboard yang rusak, Zaid pergi ke tempat para pasukan berada. Akan tetapi, kedatangannya malah tak disambut dengan baik dengan Jendral Komandan.
Zaid kembali mendapatkan cacian dan makian, karena Jendral menganggap apa yang dilakukan Zaid dapat membahayakan para sandera.
Persetan dengan makian dari Jendral. Zaid hanya menunduk dan pura-pura tutup kuping saja. Melihat seorang anak kecil yang berhasil selamat sudah membuatnya sangat bahagia.
Akibat dari ulahnya itu, Zaid pun mendapatkan sanksi. Dia harus dikeluarkan secara tidak hormat dari militer dan melepas semua jabatannya.
Zaid hanya mendengus. Sudah lama dia mengharapkan hal itu terjadi. Sebelum dia melangkah pergi, seorang anak kecil wanita menghampirinya, lalu memeluk Zaid dengan erat.
“Terimakasih!” kata anak kecil itu.
Zaid hanya membalasnya dengan senyuman kecil dan kedipan mata. Wanita itu adalah putri dari seorang ibu yang ditodongkan pistol oleh para perampok di kereta.
Dia melambaikan tangannya kepada Zaid, berjalan kembali pada ibunya. Sang Ibu pun juga tersenyum dan menunduk pada Zaid yang telah berhasil membunuh ketiga perompak itu.
__ADS_1
Kini Zaid dipulangkan dan harus kembali ke negara asalnya, Turki.
***
Keesokan harinya, Zaid telah kembali ke kota kelahirannya, Istanbul Turki. Tepat pukul 11 malam, pesawat yang ditumpanginya mendarat di bandara Internasional Turki.
Dia menarik nafas panjang-panjang, saat keluar dari bandara. Sudah lama sekali dia tak menghirup udara segar Turki.
Baru saja Zaid akan meninggalkan bandara, beberapa orang dari pihak (BIT) Badan Intelijen Turki sudah menunggunya di pintu keluar bandara., Menyambut kedatangan Zaid.
Menunjukkan surat perintah, lalu membawa Zaid ke kantor. Mau tak mau, Zaid pun harus melakukan kegiatan yang membosankan itu.
Sesampainya di kantor BIT, Zaid langsung diarahkan ke ruang interogasi.
Karena, meski Zaid memiliki sifat seperti itu, dia tetap tentara bayaran yang mematikan. Dia bahkan mampu merobohkan gedung BIT itu sendirian dengan kemampuannya.
Ruangan interogasi berukuran 4X4 dengan sistem keamanan penuh. Terdapat juga alat pendeteksi kebohongan di ruangan itu. Poligraf.
Poligraf, juga dikenal sebagai "detektor kebohongan", adalah salah satu alat interogasi yang paling umum digunakan.
__ADS_1
Ini melibatkan pemasangan sensor pada tubuh seseorang yang dapat memantau perubahan fisiologis seperti denyut jantung, tekanan darah, dan pernapasan.
Poligraf mengasumsikan bahwa perubahan ini dapat terjadi saat seseorang berbohong.
Zaid menyeringai kecil melihat alat yang dianggapnya tak berguna itu.
Salah satu pria berada di ruangan untuk menginterogasinya, setelah memasangkan Poligraf itu pada Zaid
“Nama?”
“Zaid.”
“Umur?”
“Aku lahir di tahun 1000, berarti umurku sekitar 900 tahun,” jawab Zaid asal.
Pria yang menginterogasinya itu mendengus. Merasa Zaid mempermainkannya, tapi, dia tak bisa berbuat apapun, karena Poligraf itu mengatakan bahwa Zaid tak berbohong sama sekali.
“Apa kau punya pacar? Istri?”
__ADS_1
“Tidak. Aku tak punya pacar ataupun istri, tapi, aku suka laki-laki sepertimu. Kau sangatlah tipeku.”
Lagi-lagi Poligraf itu mendeteksi bahwa Zaid tidak berbohong. Pria yang menginterogasi Zaid itupun mulai putus asa. Dia mengetuk-ngetuk meja memegangi kepalanya.