
“Berkata bahwa kalian akan melakukan transaksi Patung Budha di suatu tempat tertentu. Dengan begitu, aku yakin orang-orang yang mengikutimu akan melapor pada atasannya.”
“Dan mengirimkan seorang professional ke tempat yang akan kau tuju. Disaat kau dan atasanmu sedang bertransaksi, diam-diam aku akan memantau kalian dari kejauhan menggunakan sniper.”
“Menembak mati orang yang berada di tempat itu, jika perlu.”
“Wah, kau memang sangat cerdas.” Emir mengangguk paham.
“Masalahnya adalah, sangat sulit menemukan tempat yang pas untuk baku tembak berlangsung,” tambah Zaid.
“Kau tak perlu memikirkan itu. Ada tempat yang bagus untuk melakukan itu disini. Aku akan berbicara pada atasanku, lalu membawa peralatan yang kau butuhkan. Aku juga akan mengirimkan lokasinya padamu nanti.”
“Omong-omong, bagaimana dengan wanita itu, Anna? Apa kau berhasil merebut hatinya?”
“Hampir berhasil. Tenang saja, aku yakin dia sedang memikirkanku seharian ini.” Zaid terkekeh.
Benar saja. Wanita mana yang tak dibuat bingung saat dia bertemu dan diperlakukan oleh laki-laki seperti Zaid.
Kadang Zaid bersikap manis, kadang jahat, kadang dingin. Semua sikap itu pasti membuat seorang wanita berpikir seharian penuh.
__ADS_1
***
Hari demi hari berlalu. Setiap malamnya, Zaid dan Emir melakukan semua persiapan untuk memancing musuh yang mencari Patung Budha.
Beberapa hari sebelumnya, Emir telah melakukan apa yang dikatakan Zaid. Orang-orang yang mengikutinya itu pasti telah melaporkan pada majikannya, dimana dan kapan transaksi akan berlangsung.
Satu hari sebelum rencana dilangsungkan, Emir dan Zaid menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkannya.
Rompi anti peluru, sniper, pistol Tokarev, dan berbagai macam jenis peluru yang ada.
Dan pastinya Zaid juga menyiapkan rencana cadangan, jika rencana itu tak berhasil.
“Apa kau ada waktu besok? Mari kita bertemu dan berbicara secara langsung.” Begitulah isi pesan teks dari Anna.
Zaid menyeringai lebar. Rencananya berjalan sesuai keinginannya. Anna pasti mulai jatuh hati pada Zaid.
Akan tetapi, Zaid tak membalas atau bahkan membuka pesan itu. Zaid hanya membacanya lewat notif, lalu membiarkannya begitu saja.
Satu jam, dua jam, tiga jam, Zaid hanya membiarkan pesan itu tak dibalasnya. Pastinya hal itu membuat Anna bertanya-tanya dan kesal karena menunggu pesannya tak terbalas.
__ADS_1
Zaid tetap fokus pada rencana yang akan dilakukannya esok hari, dan bersantai sejenak sambil membaca buku saat dia mulai lelah.
Hingga notif pesan dari Anna pun muncul kembali, tapi, kali ini Emir lah yang membacanya, karena Zaid meninggalkan ponselnya di atas meja, saat dia merebahkan dirinya di sofa.
“Hei, bukankah kau harus bertemu dengan wanita ini? Lihatlah! Dia terus mengirimkan pesan padamu. Apa kau sibuk? Itu pesan terakhir yang kubaca. Katamu,, kencan itu tentang reaksi, bukan?”
“Sudahlah, kau tak akan paham apa yang kulakukan saat ini. Terkadang, tidak melakukan apapun adalah reaksi terbaik. Saat ini aku harus mengabaikannya untuk sementara waktu.”
“Agar dia mulai berpikir kenapa aku tak membalas pesannya.”
“Baiklah, kalau begitu. Terserah kau saja.” Emir pun melanjutkan pekerjaannya yang hampir usai.
***
Keesokan harinya. Pukul 5 sore, di sebuah konstruksi bangunan yang gagal dibangun. Di tempat itulah penyerahaan dan transaksi Patung Budha akan terjadi.
Gedung-gedung menjulang tinggi, tapi, hanya sekedar bersemen, dengan cor yang belum usai.
Batu bata merah, semen, pasir juga terlihat berserakan di sekitar bangaunan konstruksi yang gagal itu. Semua itu diselimuti dengan salju tipis di atasnya.
__ADS_1