
“Kemarin malam, aku menemui atasanku di BIT, dia juga salah satu orang yang bertanggung jawab untuk misi ini. Pak Ricky, itulah namanya. Pria berusia 40 tahunan yang menjadi salah satu petinggi BIT.”
“Dia berkata bahwa, pihak kerajaan Pulau Dewata, Bali telah memindahkan patung itu dengan menjualnya ke sebuah tempat pelelangan di pasar gelap.”
“Ada sebuah forum investasi tahunan Eurasia. Semua orang-orang dari benua Eurasia berkumpul di dalam forum itu. Mereka mengadakan rapat di siang hari, dan melakukan transaksi rahasia pada malam hari.”
“Pelelangan itu terbatas karena memiliki sistem keanggotaan. Hanya beberapa anggota yang boleh berpartisipasi dalam acara itu.”
“Pihak panitia memberitahukan lokasi khusus pada semua anggotanya tepat sebelum acara dimulai.”
“Tunggu!” Zaid menyela. “Lantas, bagaimana kita akan masuk dan bergabung dengan acara itu?”
“Agen kita yang menghilang, Agen C. Dia memiliki kartu keanggotaan yang digunakannya saat membuat dana gelap Babel Group. Dan saat ini kartu itu mungkin berada di tangan informan Agen C.”
“Wah, misi ini sungguh berbelit. Babel Group? Informan?” Zaid mengeluh. Misi itu saling terkait satu sama lain seperti akar yang menjalar dan bercabang.
“Akan tetapi, kartu keanggotaan itu berbentuk sebuah gelang. Gelang yang hanya dimiliki oleh anggota grup pelelangan. Gelang itu memiliki sensor khusus yang akan diperiksa saat akan tiba di undangan.”
__ADS_1
Emir mengambil tablet. Menunjukkan foto bentuk gelang yang dimaksudnya.
“God’s hand, itulah nama samaran informan dari Agen C, dan yang lebih menariknya lagi adalah, ternyata informan yang dimiliki oleh Agen C itu adalah ayah kandung wanita yang kau cium tadi, Anna.”
Zaid semakin tercengang lagi. Dunia sungguh sempit! Bagaimana bisa ayah Anna menjadi informan agen yang menghilang itu.
Padahal, Zaid pernah menguping pembicaraan Anna saat menelpon sang ayah yang berada di penjara, saat ia di rumah Can.
“Apa maksudmu? Bukankah ayahnya berada di dalam penjara saat ini?”
“Ya, kau benar. Dia masuk ke penjara karena kasus penipuan dan penggelapan dana yang dilakukannya. God’s hand adalah Yohan, ayah kandung Anna sendiri.”
“Informanku berkata bahwa Yohan menanyakan keberadaan gelang yang diberikannya pada Anna saat dia berulang tahun. Aku yakin gelang itu adalah kartu keanggotaan yang kumaksud tadi.”
“Jadi, apa yang sudah kau lakukan tadi sangat benar sekali. Target kita selanjutnya adalah Anna. Merayu wanita adalah keahlianmu, bukan? Kau bisa memanfaatkan wajahmu yang tampan itu.”
Zaid mendengus. “Brengsek! Tapi, bukan begitu juga aku merayunya. Laki-laki macam apa yang langsung menyosor bibir seorang wanita. Astaga, itu sungguh menggelikan.”
__ADS_1
“Tak apa, Zaid. Anggap saja itu sebuah kesialan.”
Zaid menyandarkan punggungnya ke kursi. “Akan tetapi, firasatku tidak enak soal misi ini.”
“Kenapa? Apa menurutmu akan terjadi hal buruk?”
“Entahlah, aku juga tak yakin dengan hal itu.” Zaid menggeleng. “Apa mungkin karena Anna tidak terlalu cantik?” Zaid terkekeh.
“Aku akan membantumu untuk mengeluarkan Yohan dari penjara, agar dia bisa kembali ke rumah dan mempermudahkan misimu.”
“Mengeluarkan? Apa maksudmu?” Zaid tak mengerti.
Emir menyeringai lebar, menjelaskan. Sebenarnya Emir telah menjadi Jaksa sebelum dia bergabung menjadi agen di BIT. Emir memiliki 2 profesi sekaligus di Turki.
Maka itu, Emir akan mudah memberikan ayah Anna, Yohan bebas bersyarat, karena tindikann kriminal yang dilakukan oleh Yohan tak begitu berat, dan diapun sudah mendekap di penjara selama 3 tahun lebih.
“Wah, sulit dipercaya. Tak kusangka kau adalah seorang Jaksa.” Zaid terkekeh. “Bagaimana bisa orang sepertimu menjadi jaksa?”
__ADS_1
Emir mendengus ketus mendengar Zaid yang meremehkannya.