TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 037


__ADS_3

Dari halaman depan kedai itu hanya dihiasi dengan lampu terang, dan tulisan besar terpampang di banner.


Dinding-dinding terbuat dari kayu jati sederhana yang dipoles, juga kaca jendela yang gelap. Terlihat dari dalam, tapi tak terlihat dari luar kedai.


Meja dan kayu yang ada di dalam kedai juga terbuat dari kayu jati yang dipoles berwarna kecoklatan. Terlihat klassik dan sangat memanjakan mata.


Terletak tepat di persimpangan salah satu gang yang ada di daerah itu.


Pemilik kedai itu adalah seorang wanita tua sekaligus penjaga dan yang melayani setiap pelanggan. Dia telah mendirikan kedai itu selama 20 tahun terakhir.


Juga mengenal baika Can Yaman, karena dia merupakan pelanggan tetap di kedai itu sebelum dia terkenal.


Dan pada saat Can sudah terkenal pun, dia tak melupakan kedai kesayangan itu. Dia mencuri-curi kesempatan untuk pergi ke kedai. Hanya untuk merasakan masakan Bibi pemilik kedai.


Si Pemilik kedai juga memberikan ruangan khusu pada Can saat dia mulai terkenal, guna untuk menghindari para penggemar yang akan mengganggunya saat dia menikmati makanan.


Ruangan khusus itu hanya berukuran 4X4 dengan satu meja dan satu kursi.


Dan disanalah Can berada saat itu. Dia kabur dari rumah, dan pergi ke kedai itu secara diam-diam, karena tak ingin melakukan diet yang dipaksakan.

__ADS_1


Di atas mejanya sudah tersedia beberapa potong ayam goreng yang siap dihidangkan. Ayam goreng yang sangat kering, dipenuhi dengan asap yang mengepul di atasnya.


Ayam goreng dengan lobak dan acar. Perpaduan yang sangat cocok untuk hidangan di malam hari.


Pastinya ayam itu baru saja diangkat dari tempat penggorengan.


Can mendekatkan hidungnya, dan menghirup aroma khas bumbu dari ayam dan acar.


“Wah … Aromanya sungguh lezat,” ucapnya. Menggunakan sarung tangan dan siap untuk menyantap satu potong paha ayam yang menggiurkan.


WUTTT!


Sebuah sumpit tajam tepat mendarat di salah satu potongan ayam milik Can.


Anna datang tepat sebelum Can dapat melahap potongan paha yang ada.


“Apa ini? Apa yang kau lakukan disini, Tuan Can Yaman?”


“Aku …. Aku hanya …. Apa kau mau paha ayam, Nona Anna?”  Can celingukan bingung akan alasan apa.

__ADS_1


“Jika kau berani menyentuh ayam itu, maka aku tak akan memaafkanmu. Aku akan menusukmu dengan sumpit tajam itu,” tegas Anna.


Mata cewek tengil itu melotot membuat Can tercengang.


“Astaga, ayolah. Kau tak boleh ……”


Whus!!!!


Dengan cepat Can mengambil potongan paha, lalu membawanya lari melalui pintu belakang.


“Hei! Jangan lari!!!!” Anna berteriak, lalu mengejar Can.


“Astaga, ada apa ini? Kenapa kalian ribut sekali?” Si Pemilik kedai keluar, melihat Can dan Anna yang sudah pergi dari kedainya.


Di malam yang sudah mulai sepi, Can berlari sekencang kencangnya menghindari Anna.


Menggunakan tempat yang saat itu berada di dalam gang sempit, berlari, berputar, bersembunyi, tapi, Anna tetap mengejarnya meski tertinggal cukup jauh.


Hingga sampai saat Can berada di dalam gang yang lebih sempit lagi, dia bertemu dengan Zaid yang langsung menariknya ke suatu tempat. Bersembunyi di balik tumpukan barang.

__ADS_1


“Astaga, apa ini? Apa kau datang untuk menyelamatkanku?” Can ngos-ngosan.


“Prioritas seorang pengawal adalah keselamatan majikannya.” Zaid menatap datar Can.


__ADS_2