TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 079


__ADS_3

“Entahlah, aku hanya lelah sekali dan sedang tak ingin bekerja,” jawab Zaid ketus. Dia langsung duduk di kursi khusus milik Can. Mengangkat satu kakinya.


“Kenapa kau duduk disana? Itu adalah kursi Can, kenapa kau duduk disana?”


Zaid membuka kacamata hitamnya, “Lantas kenapa? Apa ada masalah?” Zaid menatap tajam Si Sopir.


“Tak apa. Baiklah, silahkan duduk disana.” Si Sopir menunduk memalingkan wajah ketakutan.


Sementara Anna, dia hanya diam menatap tingkah laku Zaid yang tak seperti biasanya itu.


Anna dan sopir pun mulai berbisik. Membicarakan tentang perilaku Zaid yang tiba-tiba menjadi aneh.


“Oh, itu dia. Tuan Can.” Si Sopir menyapa Can yang baru kembali dari syuting. Berjalan bersama para kru dan perias yang mengikutinya di belakang.


“Pengawal Zaid, dari mana saja kau? Aku mencarimu sejak semalam. Kapan kau datang kemari?”


Zaid menghela nafas. Bersandar. “Baru saja aku datang.”

__ADS_1


“Lantas … Bukan, maksudku, bukankah itu kursi khusus milikku? Kenapa kau duduk …..”


“Aku lelah dan sedang tak ingin berbicara pada siapapun,” jawab Zaid ketus. “Aku akan pergi dari sini, jika kau menyuruhku untuk berpindah dari kursi ini. Pantatku sudah sangat berat sehingga aku malas untuk memindahkannya.”


Semua orang terdiam melihat tingkah laku Zaid. Astaga, apa yang dilakukan Si Pengawal tengil itu?


Can sedikit membungkuk, mencoba membujuk Zaid. “Pengawal Zaid, sepertinya, kau harus pergi ke rumah sakit. Apa kau mau aku memanggil ambulans untukmu? Kau mau apa? Katakan saja! Aku akan mengabulkan semua permintaanmu.”


“Ah, sial!” bentak Zaid kesal. Dia berdiri dan menatap Can dengan ngeri, karena terus mengoceh. “Tak perlu. Aku hanya sedang malas saja, bukan sakit.”


“Astaga, kupikir itu bukan tindakan yang tepat sebagai pengawal,” sahut Si Sopir melihat Zaid mulai menjauh dari lokasi syuting.


“Kau benar. Dia bukanlah seorang pengawal lagi, tapi, Pengawal Zaid adalah saudaraku, dan juga keluargaku, dan keluarga juga harus saling mengerti satu sama lain,” jelas Can.


“Aku juga saudaramu, bukan? Dan aku juga sangat lelah hari ini, karena harus menyetir dengan jarak jauh,” celetuk Si Sopir. Dia beranjak menuju kursi khusus Can dan hendak mendudukinya.


“Sedikit saja bokongmu menyentuh kursi itu, aku akan memotong gajimu satu bulan,” tegas Can.

__ADS_1


Si Sopir pun kembali ke tempat duduknya.


Kursi khusus milik Can itu didesain dengan sedemikian rupa. Kursi itu dapat memijat punggung, dan menyetel kekuatan pijatan yang diberikan oleh kursi itu.


Siapapun yang melihatnya pasti ingin mencoba kenyamanan dari kursi tersebut.


Can pun duduk di kursi. Kembali menggunakan jaket tebal setelah dia syuting menggunakan pakaian tipis di musim salju. Dan juga menikmati teh hangat yang telah disiapkan.


Buru-buru Can menghabiskan teh panas itu. Karena sebentar saja teh panas dibiarkan, maka teh akan menjadi dingin karena cuaca salju.


“Omong-omong, apa kau sudah selesai syuting, Kak? Kenapa cepat sekali? Tak ada 15 menit, kau sudah kembali.”


“Mereka tak memiliki properti yang memadai, dan berkata padaku untuk menunggu, jadi, aku kembali saja kemari. Sungguh membosankan  menunggu disana.”


“Aku harus mengenakan pakaian tipis saat musim salju. Itu gila. Apa mereka ingin membunuhku?”


“Jadi, kau memutuskan untuk menghentikan syuting?”

__ADS_1


__ADS_2