
“Jika kau memang tak nyaman, maka lupakan saja. Daripada aku harus menyusahkanmu, maka lebih baik ….”
Belum selesai ucapan Zaid, Anna melangkah mendekat, lalu mencium bibir Zaid. Persis seperti saat Zaid mencium bibir Anna saat itu.
Di bawah langit gelap dengan kemerlip bintang. Mereka berciuman mesra di atas bukit yang indah itu.
Cukup kesusahan bagi Anna untuk mencium bibir Zaid. Dia harus berjinjit, memegang jaket tebal Zaid agar bisa meraih bibir Zaid.
“Ah, sial! Sudah kuduga ini akan terjadi,” batin Zaid.
Lima detik lamanya mereka berciuman. Anna bergegas mundur sebelum ada para pengunjung bukit yang mengetahui keberadaannya.
Suasana kembali canggung. Anna tersenyum, menunduk. Tersipu malu karena tiba-tiba dia mencium Zaid. Pertanda Anna sudah menyatakan perasaannya kepada Zaid.
Langkah awal yang baik. Zaid telah berhasil mendapatkan hati Anna. Itu akan mempermudahkannya mendapat apa yang dia inginkan.
Tiba-tiba ponsel Anna berdering. “Ya, halo? Siapa ini?”
Seseorang dari sana berkata entah apa itu.
“Ayah? Ayah sudah bebas?”
__ADS_1
Zaid pun ikut terkejut mendengarnya. Begitu cepatnya Emir dapat memberikan bebas bersyarat pada Ayah Anna. Pertanda Emir pun juga sudah bergerak untuk melancarkan rencananya.
“Baikalah, Ayah. Aku akan segera kembali pulang.” Anna menutup telepon, lalu mengajak Zaid untuk kembali.
Setengah jam perjalanan. Mereka berdua pun telah sampai di depan apartemen Anna. Di depan pintu gerbang, berdirilah seorang pria berumur 50 tahunan dengan rambut yang mulai memutih.
Dia adalah Yohan. Ayah kandung Anna, sekaligus seorang informan dari Agen C, agen hantu BIT yang menghilang.
Zaid bertanya-tanya di benaknya. Bagaimana bisa Agen C menjadikan pria seperti itu menjadi informannya? Yohan bahkan masuk penjara karena penipuan, penggelapan, dan pencucian uang.
Berkali-kali dia masuk dan keluar penjara hanya karena masalah yang berkaitan dengan uang. Hingga Anna pun juga tak menyukai sifat ayahnya yang seperti itu.
Ibu Anna telah lama meninggal saat Anna masih kecil. Begitupun kakek yang merawatnya juga meninggal saat Anna masih remaja.
“Astaga, Putri Ayah. Ayah sudah kembali, Nak.” Yohan langsung menghampiri Anna begitu keluar dari mobil Zaid.
“Apa yang terjadi padamu, Ayah? Kau sudah bebas? Kau tak kabur dari penjara, bukan?”
“Tentu saja tidak. Ayah berkelakukan baik sehingga ayah mendapatkan pembebasan bersyarat.” Yohan terkekeh.
Dan benar dugaan Zaid. Emir lah yang membebaskan Yohan dengan pembebasan bersyarat.
__ADS_1
“Akan tetapi, siapa pria tinggi dan pucat ini?” Yohan menatap Zaid yang baru keluar dari mobilnya.
“Ah, dia adalah rekan kerja yang …..”
“Namaku Zaid, Tuan.” Zaid membungkuk memperkenalkan dirinya.
“Anna, apa kau berkencan dengan pria ini?”
“Ayah … Sudahlah!” Anna menarik jaket ayahnya.
“Apa kau mengencani putriku?” Yohan menatap mata Zaid galak.
“Ya, kau benar Tuan,” jawab Zaid dengan tegas. “Aku adalah kekasih dari putri semata wayangmu.”
“Wah, bagus sekali! Berarti kau adalah calon menantuku.” Yohan berseru.
Menantu? Apa-apaan menantu. Zaid kebingungan mendengarnya.
“Astaga, senang bertemu denganmu, Nak!!!!” Yohan melangkah dan memeluk Zaid dengan erat. “Akhirnya putriku telah menemukan jodohnya. Kau sungguh tampan. Tampan sekali!”
Yohan terus memeluk Zaid dan menepuk-nepuk punggung belakangnya. Sementara Zaid hanya menekuk dahi. Pasrah saat Yohan terus membual dan memeluknya.
__ADS_1