
Zaid menunduk, lalu membalas senyuman kecil pada pelayan ramah itu. Setelah pelayan pergi, barulah Zaid menatap Anna dengan ketus. “Bagaimana kau bisa menemukan alamatku?”
“Aku … Aku tahu karena melihat alamat yang kau berikan di CV-mu. Kau memasukkan alamat rumah itu ke dalam CV-mu.”
“Emir bajingan! Kenapa dia harus memasukkan alamat itu ke dalam CV,” batin Zaid kesal.
“Omong-omong, Pengawal Zaid. Kenapa kau tak mengangkat telponku tadi?”
“Memangnya kenapa?”
“Dengan berat hati, aku dan Kak Can dan semua tim kami tak bisa menerima surat pengunduran diri darimu,” ucap Anna.
“Aku sudah menjelaskan semuanya pada majikanmu, jadi, tak ada yang perlu kukatakan lagi sekarang. Permisi, aku harus pergi.”
“Tunggu, Pengawal Zaid. Maafkan aku.” Anna menghentikan Zaid sebelum dia beranjak berdiri. “Maafkan aku Pengawal Zaid. Aku sungguh minta maaf padamu.”
__ADS_1
“Aku hanya memikirkan diriku sendiri dan bersikap kejam padamu. Aku melakukan itu karena, aku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tak terbalas. Kau adalah orang pertama yang sakit hati karenaku.”
“Kau juga satu-satunya orang yang cemburu dan mencemaskanku secara berlebihan, seperti saat aku minum alkohol berlebih kemarin malam. Kau tak bisa lebih dekat, tapi kau juga tak bisa pergi.”
“Hatimu terluka saat melihat seseorang, tapi, kau terpaksa untuk tersenyum. Aku tak ingin kau mengalami hal semacam itu, Pengawal Zaid.”
Zaid menghela nafas panjang. Mendengar bualan Anna yang semakin menjadi-jadi itu. Diam sejenak, memikirkan cara untuk mengatakan sesuatu pada Anna.
“Astaga, sepertinya kau memang tak mengerti maksudku, saat aku bilang bahwa itu sudah tak penting lagi. Saat di bawah tangga rumah Victor, itulah yang aku maksud.”
“Maksudmu …. Apa maksudmu?” Anna tak mengerti.
Zaid mendengus kesal. Entah Anna bodoh, atau dia hanya lamban untuk berpikir saja. “Apa kau berpikir jika aku menyukaimu? Sungguh, kau berpikir seperti itu?”
Anna terdiam mematung mendengarnya. Selama ini dia salah mengira dan terlalu percaya diri akan hal itu.
__ADS_1
“Kau tak perlu khawatir. Aku tak menyukaimu.” Zaid menyeringai lebar. “Gadis sepertimu bukanlah tipeku, dan tentu saja aku tak akan pernah tertarik dengan gadis semacam itu.”
Mata Anna mulai berkaca-kaca. Dilema dengan keadaan yang dihadapinya saat itu. Dia cukup malu dan merasa sakit karena perkataan Zaid yang blak blakan padanya.
“Pengawal Zaid. apa …….”
“Kau sudah bersikap tidak sopan padaku dengan membuat keputusan dan kesimpulan atas asumsimu sendiri yang tak berdasar itu. Kau juga mengabaikan apa yang kukatakan dan berkata sesukamu.”
“Kau bahkan berkata sesuatu yang tak pernah kukatakan sama sekali. Aku menyukaimu? Astaga, itu mustahil.” Zaid terkekeh.
“Mendengar celotehanmu saja sebenarnya sangat membosankan dan membuatku merasa tak nyaman. Kau tak pernah sekalipun memikirkan orang yang harus mendengar celotehanmu itu.”
“Akan tetapi, seiring berjalannya waktu aku tersadar, bahwa kau tak tahu cara berbelok kanan maupun kiri. Kau hanya lurus dan sangat amat polos. Kau berlagak tangguh, tapi, sebenarnya kau adalah pemalu.”
“Dan pada saat malam tiba. Saat kau sedang sendirian di kamar, kau berpikir keras, merenung, dan akhirnya menangis. Kau sangat naif dan juga berlebihan. Wah, sungguh melelahkan menjadi seperti itu.”
__ADS_1
Mata Anna pun mulai berkaca-kaca. Rasa malu, sedih, bercampur aduk dalam hatinya.