
“Kenapa kau melakukan sesuatu, jika akhirnya kau harus meminta maaf? Apa kau harus menguji sistem keamanan seperti yang kau lakukan tadi? Terlepas dari itu, apa kau suka membuat semua orang terlihat bodoh?”
Anna kembali mengoceh.
“Bukankah kau sendiri yang berteriak dan membuat onar tadi? Aku bahkan tak bersuara sama sekali tadi,” timpal Zaid.
“Itu karena kau tertangkap telah mengambil barang-barang milik orang lain. Astaga, kau masih saja berdalih. Kau dari Babel Group yang memiliki nama cukup besar, tapi, kurasa tidak denganmu. Kau bahkan juga kepergok memotretku kemarin.”
“Kau sendiri yang beranggapan bahwa aku telah melakukan paparazzi, padahal tidak begitu sebenarnya. Kemarin aku hanya mengatakan dua hal padamu.”
“Pertama, ‘siapa kau?’ kedua, ‘kau terlihat sangat cantik, maka aku memotretmu’, benar bukan?”
Seketika Anna terdiam. Dia kembali tersipu, karena merasa bahwa Zaid telah memujinya.
Zaid melempar senyuman kecil. Melangkah mendekati Anna. Menatap kedua mata Anna. “Mana bagian yang membuatmu tidak paham? ‘Siapa kau?’ atau ‘kau terlihat sangat cantik’?”
Anna pun semakin salah tingkah. Dia tersipu sekaligus merasa terintimidasi. Memalingkan pandangan dari Zaid yang masih menatap matanya.
__ADS_1
“Sudahlah, hentikan permainan konyolmu! Meski kau mengenal baik Produser Nick, kau belum tentu dapat dipekerjakan. Maka tunggu saja panggilan dari pihak kami.”
Anna berbalik lalu berjalan pergi. Menuju stand tenda, tempat Can berada. Tanpa dia sadari bahwa Zaid masih tetap mengikutinya diam-diam.
Saat Anna sudah masuk ke dalam, barulah Zaid menyusulnya. Dia berdiri di balik tenda belakang untuk menguping percakapan Anna dan Can, alih-alih sedang merokok.
Meski stand tenda itu tebal, tapi suara orang berbicara dari dalam pun tetap terdengar cukup jelas dari luar.
“Ada apa denganmu, Kak? Kenapa wajahmu seperti itu?”
“Besok adalah adalah adegan syuting dimana aku harus mati karena ditikam berkali-kali, dan aku belum dapat mendalami peran itu. Astaga, sejak kapan tokoh utama harus mati? Itu sangat konyol.”
“Rasa sakit yang kau derita ditentukan oleh usia, Anna.”
“Tidak juga. Setiap detail rasa sakitnya berbeda yang membuat aktingmu terlihat semakin bagus. Seorang aktor harus terlihat berbeda setiap adegannya masing-masing.”
“Hahahahaha. Ternyata kau cukup pintar. Tak salah aku mempekerjakan kau sebagai manajerku, padahal dulu kau hanyalah seorang penggemarku.”
__ADS_1
“Ah, benar juga. Omong-omong, bagaimana dengan Si Pengawal itu?” tanya Can.
Saat segera melangkah mendekati tenda, hampir menempel, saat Can dan Anna mulai membahasnya.
“Itu dia. Kau juga tak menyukai pengawal itu, bukan? Kita sama, aku pun juga sama sekali tak menyukainya.” Terdengar suara Anna yang berseru dengan lantang.
“Akan tetapi, kudengar dari Produser Nick, dia adalah pengawal terbaik yang sangat berpengalaman. Resumenya sangat baik dan tanpa memiliki tindak kriminal apapun.”
“Babel group juga memberikannya padaku sebagai hadiah, karena sponsornya dari filmku membuat perusahaannya mendapatkan untung yang lebih besar lagi.”
“Sepertinya aku akan sulit untuk menolaknya, Anna.”
Yes!!! Dari luar Zaid mengepalkan tangan. Karena mendengar hal itu.
Akan tetapi, Anna tidak kehabisan akal. Dia tetap mencari cara agar Zaid tak menjadi pengawal pribadi Can.
“Ah, aku punya ide.”
__ADS_1
“Apa itu?” Can penasaran.
“Mari kita manfaatkan, lalu kita buang dia.”