
“Ur, well.” Pelayan itu tersenyum, lalu beranjak ke meja lainnya.
“Ada apa denganmu, Kak? Apa kau baik-baik saja?” tanya Anna melihat Can yang melamun.
“Astaga, padahal aku sudah mengubur masa lalu itu, tapi, kenapa dia selalu datang dan kembali menghantuiku.” Mata Can mulai berkaca-kaca. “Sial! Kenapa aku membual seperti ini.”
“Lihatlah bangunan megah ini Anna.” Can mengganti topik pembicaraan. “Mari kita buat bangunan seperti ini. Dengan kita membentuk agensi sendiri, aku yakin kita akan dapat membangun bangunan megah seperti ini.”
“Tentu, Kak. Aku akan bekerja keras untukmu.”
Anna menuangkan minuman ke dalam gelas Can, dan mereka pun bersulang bersama.
Dan tak lama kemudian, datanglah Victor ke ruangan pesta. Dia menuruni anak tangga bersama lima pengawal yang berjalan di belakangnya.
Menariknya adalah, meja yang pertama kali didatanginya saat itu adalah meja yang ditempat Can, karena Victor pun juga merupakan salah satu penggemar Can yang menonton semua film yang dibintangi olehnya.
Pria paruh baya itu menggunakan setelan jas, merangkapnya dengan jas jubah hingga lutut. Bahkan dari tampilannya saja, Victor sangat jelas bahwa dia seorang Bos gembong mafia.
“Wah, welcome My hero! Selamat datang pahlawanku! Tak kusangka kau akan datang jauh-jauh kemari.” Victor tersenyum lebar, dan langsung memeluk Can.
__ADS_1
“Senang bertemu denganmu, Tuan Victor. Suatu kehormatan aku bisa berkunjung kemari,” ucap Can.
“Can Yaman. Astaga, aku selalu melihat setiap film yang kau bintangi.”
“Benarkah?”
“Tentu. Death Devil Dewa kematian. Yang paling jahat di muka bumi ini.” Victor terkekeh menirukan gaya akting Can saat bermain film. Begitupun Can yang juga berseru melakukan aktinya sendiri di depan Victor.
“LIhat tatapan itu. Kau selalu bisa menunjukkan tatapan keji yang sangat mengerikan meski saat kau tidak sedang berakting.”
“Hahahahaha. Terimakasih atas pujianmu, Tuan Victor. Kau juga terlihat sangat muda daripada kebanyakan orang seumuranmu.”
“Silahkan, Tuan Victor.”
Victor pun beranjak pergi dari meja ke meja menyambut para tamu lainnya.
Sementara Zaid, dia masih berdiri memojok di belakang Can. Berkomunikasi dengan Emir membicarakan apa yang akan dilakukannya.
“Pengawal Zaid, apa kau ingin minum?” Can menoleh. Menawarkan satu gelas sloki berisi alkohol.
__ADS_1
“Kak, apa-apaan kau ini? Dia tak boleh minum. Pengawal Zaid sedang bekerja.”
“Astaga, ayolah. Hanya satu gelas saja. Aku juga ingin Pengawal Zaid mencoba minuman …..”
“Astaga …. Kenapa tiba-tiba perutku sakit. Sepertinya aku harus ke toilet. Maafkan aku, Kak. Aku pergi dulu.”
“Pengawal Zaid, kemarilah. Kau harus tetap denganku. Jangan berdiri memojok disana.”
Zaid menunduk, lalu pergi ke meja Can.
“Kau sudah tahu bukan, bagaimana sebenarnya hubunganku dengan Rose, saat pertama kali kau mengatakan hal itu tempo hari? Maka aku akan menguburnya sebagai rahasia diantara para pria, jadi, kau tak perlu khawatir kau akan terkena masalah.”
“Baiklah,” jawab Zaid singkat.
“Mulai detik ini, aku berharap tidak ada rahasia antara kita, kau mengerti?” Can menepuk-nepuk pundak Zaid. Merangkulnya.
“Tentu. Tak akan ada rahasia antara majikan dan pengawal pribadinya. Aku juga akan menjaga apa yang kudengar sebagai rahasia.” Zaid menunduk kembali berdiri memojok di belakang Can.
“Hei, pengawal Zaid. Apa maksudmu? Kenapa kau berdiri di sana lagi?”
__ADS_1