
Zaid mencurigainya karena pria itu terlihat sangat berbeda dari montir lainnya, meski dia menggunakan seragam yang sama persis. Juga menggunakan topi dan masker yang membuat Zaid tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Pria itu mengeluarkan beberapa peralatan, lalu mengotak-atik mesin. Yang entah apa diperbuatnya. Sangat mencurigakan sekali.
Saat montir lain telah usai memperbaiki. Pria itu datang, lalu mengotak-atik mesin mobil yang akan digunakan Can.
Tak berselang lama. Pria itupun pergi saat adegan akan dimulai. Terlihat Can yang hendak memasuki mobil. Mengucapkan pada montir misterius itu yang hendak pergi.
Mata Zaid masih tak luput dari pria itu. Terus melihat hingga kemana pria itu pergi, dan tetap menghiraukan Anna yang terus mengoceh didepannya.
Dan anehnya lagi pria itu tak ikut pada gerombolan montir di dalam standnya. Dia pergi keluar dari lokasi syuting, tepat setelah mengotak-atik mobil.
Zaid semakin dilema. Apa dia akan mengejar pria misterius itu, atau mencegah Can yang sudah berada di dalam mobil. Dia sangat yakin bahwa itu jebakan.
Mungkin saja bahan peledak atau teror lain yang dapat membahayakannya.
“Hei! Kenapa kau tak memperhatikanku? Apa ini caramu mengatakan untuk berhenti bekerja?” Anna yang tak tahu apapun masih mengoceh.
__ADS_1
Satu, dua, tiga. ACTION!!! Syuting adegan dimulai. Sutradara telah memberi aba-aba, dan mobil yang dikendarai Can pun mulai meluncur ke arena balap.
Zaid semakin bingung lagi. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Can. Dia harus bertindak secepatnya. “Berhentilah mengoceh, Anna. Kita bicara nanti saja.”
“Hei, tunggu! Mau kemana kau?” Anna menarik tangan Zaid saat hendak pergi. “Kita tak perlu berbicara lagi. Kembalikan saja kartu identitasmu. Aku sudah memecatmu sekarang.”
“Dasar, Bodoh! Can sedang dalam bahaya dan kau masih saja mengoceh.”
“Apa? Maksudmu …..”
Dan benar saja. Terdengar suara dari walkie talkie milik sutradara yang berbunyi. Suara Can yang merengek melapor karena eetir dan rem mobilnya tak berfungsi.
“Ah, Brengsek!” Zaid menyingkirkan tangan Anna, lalu berlari menuju mobil polisi yang terparkir.
Mendorong seorang petugas, dan masuk ke dalam mobilnya.
Dan ternyata Anna pun mengikutinya. Dia masuk ke dalam mobil, dan duduk di sebelah kemudi.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan? Bukannya kau ingin memecatku tadi?”
“Kumohon lakukan sesuatu. Kak Can sedang berada dalam bahaya.” Mata Anna berkaca-kaca ketakutan.
“Dasar, Tolol!”
BRUMM!!!!!
Mobil dinyalakan lalu melesat pergi dengan cepat. Zaid memacu kendaraan dengan cepat. Menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Meluncur kencang di arena balap.
Saat melihat gps di ponselnya, Zaid melihat bahwa keberadaan Can sudah tak lagi berada di arena balap. Sepertinya dia sudah keluar jalur. Melintas dengan kecepatan tinggi di jalan raya.
Disanalah Zaid juga menunjukkan kemampuan menyetirnya. Mobil yang dikendarainya pun telah sampai di jalan raya. Hanya berjarak 200 meter lagi dari mobil yang dikendarai Can.
Zaid meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku, dan berfokus mengejar. Tangan kanannya memegang setir, tangan kirinya lincah mengoper gigi.
Kaki kanan kirinya juga gesit berpindah mengoperasikan gas, kopling, dan rem. Ke kanan dan ke kiri, menyalip semua kendaraan yang ada di jalan raya pagi itu.
__ADS_1
Sementara Anna hanya meremas kedua tangannya sendiri, dan terus berharap agar tak terjadi apa-apa dengan Can. “Tolong Kak Can, Pengawal Zaid. Lakukan sesuatu.” Anna merengek.