
“Tak apa jika kau memang ingin berkencan dengannya, tapi, jika sedikit saja kau menyakitinya, aku tak akan pernah memaafkanmu, Pengawal Zaid. Kau mengerti?”
“Tentu.” Zaid mengangguk.
“Baiklah, semoga kau beruntung, meski tak akan mudah untuk mendapatkannya.”
“Astaga, apa Si Bodoh ini menganggapku benar-benar mencintainya? Sial!’ batin Zaid.
“Angkat gelasmu, Pengawal Zaid. Mari kita minum bersama hingga larut.”
Kedua gelas saling terangkat. Mereka berdua bersulang, lalu menegak alkohol bersamaan.
Malam semakin larut, dan mereka berdua telah mabuk berat. Zaid pun akhirnya harus tidur di rumah Can karena tak mungkin dia menyetir sendirian dalam keadaan mabuk.
***
Keesokan harinya. Masih di kediaman Can Yaman. Pagi itu Can telah memutuskan untuk kembali ke agensi YB Entertainment.
Semua sudah dipertimbangkannya dengan baik. Jauh sebelum Can menjadi terkenal seperti sekarang ini, Nick lah orang yang cukup berperan penting dalam karirnya.
__ADS_1
Nick juga telah menjual semua aset yang dimilikinya, agar dia menjadi pemegam saham terbesar di YB Entertainment, dan pastinya agar Can ingin kembali ke agensinya itu.
Di ruang tengah tepatnya. Can, Zaid, ANna dan juga Nick telah berkumpul kembali untuk menyusun ulang posisi masing-masing dalam agensi.
“Kini Produser Nick telah kembali. Aku ingin dia dan Anna menjadi CEO di YB Entertainment dengan jabatan yang setara.”
“Tak perlu, Kak. Aku lebih suka menjadi Manajer daripada menjadi CEO,” sahut Anna.”
“Kenapa? Kita berdua bisa menjadi CEO bersama. Akan lebih mudah jika ada 2 orang CEO dalam perusahaan,” timpal Nick.
Anna tetap menggeleng. “Kak Can lebih membutuhkan aku sebagai Manajernya daripada aku menjadi CEO. Cukup kau saja, Produser Nick.”
“Tak ada. Jika aku menjadi CEO, maka kau menjadi lebih sering terabaikan, Kak. Jadwal makan dan tidurmu juga berantakan jika aku tak menjadi manajer mu. Maka itu, aku ingin tetap menjadi manjer dan mengurusmu.”
“Wah, sepertinya kau bersemangat sekali. Kau selalu sibuk dalam pekerjaanmu, Anna. Kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri. Bagaimana jika kau berkencan?”
“Tidak! Hatiku akan selalu bersamamu, Kak. Dan akan terus seperti itu.”
“Ayolah, kau tak boleh seperti itu. Kau harus menurunkan standar tipe pria idaman mu sedikit saja. Wajah pria yang biasa saja akan sangat bagus karena kau tak akan bosan. Contohnya seperti Pengawal Zaid.”
__ADS_1
Ruangan kembali lengang. Can dan Nick menatap Zaid bersamaan. Membuat Zaid risih.
Bagaimana mungkin Can berkata bahwa wajah Zaid biasa saja. Padahal, jika posisi mereka tertukar, Zaid pasti akan lebih terkenal dan banyak penggemar karena ketampanannya itu.
“Apa maksudmu, Kak?”
“Bukankah Pengawal Zaid sangat cocok untukmu?”
Anna tercengang. Ternyata Can malah menjodohkannya dengan Zaid. Dia kembali membayangkan semua hal yang pernah Zaid lakukan padanya.
Hatinya cukup berdebar saat Zaid memeluk, menggendong, juga memberinya perhatian saat di lokasi syuting.
Akan tetapi, ketika dia mengingat saat Zaid menyosor bibirnya di depan kedai kopi, dia merasa sangat jijik. “Tidak! Tidak akan!” bantahnya.
Anna mengeluarkan ponsel, lalu mengirimkan pesan pada Zaid, untuk berbicara empat mata setelah itu juga.
Sembari Can dan Nick masih mengobrol, Anna diam-diam bertemu dengan Zaid di dalam kamar yang pernah ditempati Zaid, saat dia tinggal di rumah Can.
Kesempatan yang bagus bagi Zaid. Dia bisa mendekati dan merayu Anna. Apalagi Can sudah menyetujuinya.
__ADS_1
“Mari bicara empat mata. Astaga, aku sangat menyukai pesan itu,” ucap Zaid saat melihat Anna sudah di dalam kamarnya.