
“Ah, benarkah?” Yohan tersenyum lebar. “Baguslah kalau begitu. Aku juga yakin kau tak akan pernah membuangnya.”
“Wah, sulit dipercaya. Ayah selalu saja berbicara tentang gelang kuno itu saat keadaan seperti ini. Aku benar-benar akan membuangnya, jika ayah terus membual tentang itu lagi.”
“Camkan itu, Ayah. Sekali saja kau membual dan bertanya soal gelang kuno itu, maka, Ayah tak akan pernah melihatnya lagi.”
Yohan menunduk lesu.
“Jadi, tak ada barang yang hilang bukan?” Zaid memecah suasana canggung.
“Sepertinya tidak. Toh juga tidak ada barang mahal yang bisa dicuri di apartemen ini,” jawab Anna.
Zaid bergegas pergi. Kembali menuju depan gedung apartemen dan memeriksa mobil suv berwarna hitam yang terparkir di seberang jalan.
Seketika mobil suv hitam itu melesat pergi saat Zaid menuruni tangga.
Jelas sudah. Pria misterius itulah yang melakukan semuanya. Dia dapat membobol apartemen Anna yang dilengkapi fasilitas tinggi. Hanya orang–orang terlatihlah yang mampu melakukan semua itu.
__ADS_1
Pria itu jelas mengincar gelang yang dimiliki oleh Yohan, hingga mengobrak-ngabrik apartemen Anna, karena tahu bahwa Yohan tinggal di apartemen bersama anaknya.
Untungnya, pria itu tak tahu, jika Yohann tak memilikinya, tapi Anna lah yang tahu dimana tempat gelang itu berada.
Zaid menghela nafas panjang. Dia tak mungkin mengejarnya saat itu juga.
Masalah baru timbul di pikiran Zaid. Hal berbahaya bisa saja menimpa Anna dan keluarganya. Dia tak ingin hal itu terjadi.
Misinya hanyalah mendapatkan gelang, lalu pergi menghilang. Bukan membuat seseorang menjadi korban atas misi yang dilakukannya itu.
Cukup hanya perasaan Anna yang menjadi korbannya, tapi, untuk tidak keselamatannya.
“Tak ada.” Zaid menggeleng. “Kenapa kau turun kemari? Mari kita kembali. Aku akan membantumu merapikan apartemenmu kembali.”
“Tak perlu. Biar ayahku merapikannya sendirian,” ucap Anna ketus. “Temani saja aku minum. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Zaid pun mengiyakan ajakan Anna.
__ADS_1
***
Mereka berdua pergi ke sebuah kedai berbentuk street food di pinggiran kota Istanbul. Sebuah kedai street food masakan korea.
Kedai itu cukup unik. Di saat yang lain membuka kedai mereka menggunakan stand dan tenda. Kedai korea itu menggunakan mobil sebagai standnya.
Mobil van kemah panjang setinggi 2 meter. Dari atap mobil van itu diberi pengait, dan dijadikan atap untuk menghalau sinar matahari, dan menghalau turunnya hujan.
Menggunakan meja dan kursi lipat untuk para pelanggan. Pemilik kedai itu adalah sepasang kekasih paruh baya.
Meski sudah berumur, tapi pemilik kedai itu tetap lincah saat memasak dan menghidangkan makanan. Juga pemilik kedai itu adalah imigran asli dari korea yang membuka kedai kecil-kecilan di Istanbul.
2 buah porsi topokki dipesan dengan dua botol soju di meja Anna dan Zaid. Mereka pun menikmati makanan dan mengobrol bersama.
Wajah Anna masih murung, karena beradu mulut dengan ayahnya tadi. Ditambah apartemennya yang diobrak-abrik oleh seseorang yang tak diketahuinya sama sekali.
“Aku minta maaf jika kau tak nyaman dengan Ayahku. Padahal, aku hanya ingin berkencan dan menikmati waktu kita berdua hari ini, tapi, hal yang buruk telah terjadi.” Anna menunduk lesu.
__ADS_1
“Kau tak perlu khawatir, Anna. Aku juga banyak menjumpai orang tua yang semacam ayahmu. Aku sudah memaklumi itu. Tenang saja.”