TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 056


__ADS_3

“Bagaimana denganmu sendiri Pengawal Zaid?”


Zaid terdiam sejenak, lalu menjawab dengan ragu. “Baiklah. JIka mereka setuju, maka akupun juga setuju.”


“Astaga, karena sekarang ada Pengawal Zaid, maka kau tak perlu cemas lagi untuk keselamatanmu, Tuan,” ucap Nick. “Kalau begitu, kapan kira-kira kau akan kembali bekerja lagi, Tuan?”


“Astaga, ada apa dengan kepalaku? Aku pusing sekali. Apa terjadi gempa bumi? Wah, sepertinya vertigoku mulai kambuh.” Can berpura-pura saat Nick membahas syuting dan pekerjaan.


“Batalkan saja semua jadwal dan syuting, hingga aku sembuh dan pulih seperti biasa,” ucap Can, lalu pergi masuk ke dalam kamarnya.


“Hei, tunggu! Astaga, dia menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Matilah aku ini.” Nick kebingungan.


“Baiklah, kalian boleh melanjutkan aktivitas kalian masing-masing.” Anna membubarkan para kru.


Kini tinggal hanya Zaid, Anna, juga Nick yang berada di ruang tengah. Duduk bersama untuk membicarakan pekerjaan yang akan tertunda.


Anna sibuk melihat tabnya melihat semua jadwal Can yang akan tertunda karena tragedi itu.

__ADS_1


“Jadi, begini Produser Nick. Aku telah mengundurkan jadwal syuting selama 2 minggu. Mungkin dalam waktu itu Kak Can sudah kembali pulih. Akan tetapi, bagaimana dengan pengambilan foto minggu depan?”


“Minggu depan ada kolaborasi dengan sebuah brand tertentu, dan pastinya harus melakukan perfotoan, apa aku harus menundanya juga?” Anna bertanya.


“Astaga, itu bayarannya cukup tinggi. Aku bisa gila dan kehilangan banyak uang jika membatalkan itu. Begini saja. Tunda saja itu untuk sementara waktu ini.”


Nick mengeluh. Memegang kepala, lalu menyandarkannya ke sofa.


“Baiklah.” Anna langsung membatalkan semua jadwal untuk sementara waktu.


“Kalau begitu, bagaimana dengan perjalanan ke Rusia, untuk ke pesta ulang tahun itu?” tanya Zaid memecah keheningan.


Zaid terdiam mematung. Bagaimana ini? Undangan itu akan dibatalkan. Dia tak akan mungkin bisa menyelesaikan misinya untuk mencari patung Budha itu.


“Pengawal Zaid, mari ikuti aku. Aku akan menunjukkan kamar untukmu.”  Anna pergi menuju ruangan yang akan menjadi kamar Zaid.


“Kenapa kau masih duduk? Pergi dan lihat kamarmu sana,” seru Nick yang melihat Zaid masih terdiam mematung.

__ADS_1


Zaid menghela nafas panjang, lalu beranjak pergi menyusul Anna.


Kamar baru Zaid berada di lantai 2. Tepat bersebelahan dengan kamar Can. Sengaja ditempatkan disana, agar Zaid selalu berada di dekat Can.


Kamarnya cukup luas dengan ukuran 6X6. Sekeliling kamar dipenuhi dengan poster Can, juga dinding yang tentunya dipenuhi oleh foto-fotonya.


Beberapa pajangan seperti, guci, patung, robot, dan berbagai macam lainnya tersusun rapi dalam lemari hiasan.


Kasur springbed double berwarna biru dongker berkualitas tinggi yang tentunya sangat empuk. Juga terdapat pendingin dan penghangat ruangan.


Kamar mandi kamar itu dilengkapi dengan shower serta bathup yang cukup besar.


Sejenak Zaid melihat sekitar ruangan yang lebih mirip seperti kamar penggemar berat Can.


“Baiklah, jadi, ini kamar barumu, Pengawal Zaid. Para kru biasanya menggunakan kamar ini untuk beristirahat, jika mereka tak kembali ke rumah, jadi, seharusnya kamar ini sudah sangat layak dan nyaman sekali.”


“Astaga, apa aku … Maksudku, bolehkah aku memilih kamar lain? Kulihat ada banyak kamar di lantai satu.” Zaid sepertinya tak nyaman dengan kamar yang dipenuhi poster itu. Sangat norak menurutnya.

__ADS_1


“Kau harus tetap disini, Pengawal Zaid. Itu perintah dari Kak Can sendiri. Dia ingin agar kau berada di kamar yang dekat dengannya, dan kamar inilah satu-satunya..”


__ADS_2