TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 064


__ADS_3

Mereka berdua tersenyum dan berjabat tangan.


“Duduklah,”


“Tentu.” Zaid pun duduk di kursinya.


“Apa yang membuatmu datang kemari?”


“Hanya tugas kecil. Sama seperti saat aku menyelamatkanmu kala itu, tapi, sepertinya ini lebih rumit, maka itu, aku berniat meminta bantuanmu.”


“Katakan saja, Zaid. Dengan senang hati aku akan membantumu.”


“Apa kau tahu Victor?”


Arthur mendengus. “Ah, Si Brengsek itu ternyata. Tentu saja aku tahu. Bos dari gembong mafia yang mengaku sebagai pengusaha logam itu. Aku pun juga sudah lama mengejarnya.”


“Akan tetapi, dia memang kuat, dan mempunyai kenalan dengan beberapa petinggi militer sama sepertiku. Tak ada yang bisa kami lakukan padanya, sampai kita mempunyai bukti yang konkret, bahwa dia bersalah.”


“Bagaimana jika aku bisa mendapatkan bukti itu? Apa kau bersedia membantuku?”


Arthur tersenyum kecil. “Astaga, meskipun kau tak mendapatkan bukti itu, aku akan tetap membantumu, Zaid, tapi, jika kau mendapatkan bukti itu, maka aku masih memiliki hutang budi padamu.”

__ADS_1


“Baiklah. Aku hanya memerlukan satu ledakan dari EMP saja.”


“EMP? Sebenarnya, itu mudah saja bagiku, tapi, apa yang akan kau lakukan dengan bom EMP? Itu bahkan bisa membuat listrik di seluruh kota Moskow menjadi padam, dan hanya orang-orangku saja yang bisa menyalakannya kembali.”


Zaid pun menjelaskan panjang lebar tentang rencananya esok hari di kediaman Victor.


“Akan tetapi, itu hanyalah plan B, atau rencana cadangan. Aku tak lagi memerlukan bom itu jika rencanaku berjalan dengan lancar.”


Arthur mengangguk paham.


“Baikalah, mungkin hanya itu yang ingin kusampaikan padamu. Jika rencana B dijalankan, maka Emir akan mengirim sinyal padamu. Aku permisi.” Zaid pun berpamitan pergi.


“Tentu, Zaid. Sampai jumpa.”


PENANGKAPAN VICTOR


Keesokan harinya di siang hari. Tepat di hari minggu tanggal 13 Agustus. Pesta ulang tahun Victor akan berlangsung pada pukul 3 sore.


Di Lotte Hotel Moscow, terlihat Zaid yang sudah bersiap menunggu Anna dan Can di lobi hotel.


Menggunakan jas berwarna biru dongker dengan corak garis, celana yang masih satu setel, dengan kaos crew neck hingga leher. Tampilan yang sangat pas untuk datang ke sebuah pesta.

__ADS_1


Tidak terlalu formal, dan juga non formal.


Rambutnya disisir dengan rapi, dan klimis karena minyak rambut yang digunakannya. Juga sepatu pantofel berwarna hitam pekat mengkilap.


Tak lama kemudian, datanglah Anna yang menyusul ke lobi. Menggunakan gaun panjang berwarna juga sepatu high heels yang membuatnya terlihat lebih tinggi.


Anna berjalan mencincing rok gaunnya yang bersentuhan dengan lantai. Dia terlihat kesulitan untuk  berjalan, karena tak terbiasa menggunakan sepatu sejenis itu.


Zaid hanya tersenyum kecil saat melihat wanita itu kesulitan berjalan sambil mencincing roknya.


“Kenapa kau tertawa? Apa aku terlihat aneh? Hmm, aku sendiri bahkan menganggap bahwa ini aneh. Lihatlah gaun ini. Menurutku ini terlalu ketat bagiku.”


Anne menggerutu memegangi gaunnya.


“Tidak.” Zaid menggeleng berdiri dari sofa. “Kau terlihat sangat cantik.”


Anna tersenyum, lalu menunduk. Pipinya memerah karena pujian dari Zaid.


“Hei, Pengawal Zaid,” panggil Can. Berjalan mendekati Zaid.


Can pun akhirnya juga datang. Setelan yang dipakainya tak kalah modis. Mengenakan kemeja hitam, jas dengan pernak-pernik, juga dasi kupu-kupu yang terpasang di kerah.

__ADS_1


Juga sepatu pantofel berwarna coklat, membuat setelannya terlihat sangat serasi. “Apa kau sudah lama menunggu, Pengawal Zaid?”


Zaid menggeleng. “Tidak juga, mungkin baru lima menit aku berada di sini.”


__ADS_2