TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 073


__ADS_3

Hari pun sudah mulai gelap. Tak terasa sudah lama sekali Zaid berada di dalam rumah Victor, hingga dia tak menyadari bahwa matahari sudah sepenuhnya terbenam.


Sebelum bom EMP dinyalakan, Zaid berkata pada Emir agar selalu melihat balkon di lantai dua itu.


Dan benar saja. Dari kejauhan, terlihat Emir yang melambaikan tangan, lalu mengepalkan tangannya. Menunjukkan raut wajah yang ceria karena Zaid mampu mengambil patung itu.


Sebuah drone diterbangkan Emir dari tempatnya. Drone pun terbang tinggi menuju lantai dua teras balkon, tempat Zaid berada.


Drone itu membawa semacam pengait di bawahnya, agar Zaid dapat mengaitkan kain berisi patung, lalu drone pun dapat membawanya pergi dengan mudah.


Patung budha pun telah berpindah tangan. Kini  Emir telah mendapatkan Patung Budha. Dia akan mengirimkan sinyal pada Arthur untuk kembali menyalakan listrik dan menghilangkan efek dari bom EMP.


Zaid pun segera masuk, dan kembali ke lantai utama, tempat pesta berlangsung.


Setibanya di lorong, Zaid kembali bertemu dua anak buah Victor yang sedang melintas.


‘Hei, siapa itu?” panggil salah satunya.


“Brengsek!” gumam Zaid.


Untungnya, kedua pengawal itu tak membawa senter, hingga mereka tak bisa melihat dengan jelas wajah Zaid.


Dia berjalan cepat, dan saat tepat di pagar, wutt!!!!! Zaid melompat dari pagar itu ke lantai utama. Mendarat tepat di bagian belakang para tamu undangan yang saat itu masih fokus mendengarkan lantunan puisi yang belum usai.

__ADS_1


“Pengawal Zaid, apa yang kau lakukan disana?” tiba-tiba saja Anna datang dari belakang, Membuat Zaid terkejut.


“Tidak. Aku hanya pergi ke toilet sebentar.” Zaid membenarkan setelan jasnya yang tak rapi.


Anna berjalan mendekat. Melihat wajah Zaid yang tampak berkeringat, karena sinar cahaya lilin yang remang-remang.


Sial! Ternyata kedua anak buah Victor yang melihat di lorong lantai 2 mengejar Zaid. Terlihat mereka berdua yang menuruni anak tangga. Menghampiri Zaid yang berbicara dengan Anna.


Zaid menggunakan kesempatan itu. Menarik leher Anna, menjatuhkan tubuhnya, lalu memeluk. Seakan mereka berdua hendak berciuman di belakang para tamu undangan.


Kedua pengawal itu menghentikan langkahnya sejenak. Melihat wajah Zaid dengan seksama, lalu segera pergi karena tak yakin bahwa Zaid adalah pria yang dilihatnya tadi.


“Lepas!” Anna mendorong Zaid dengan ketusnya..  “Apa-apaan kau ini? Apa yang baru saja kau lakukan?”


Sementara Anna, dia masih terdiam mematung di bawah anak tangga. Berpikir, kenapa Zaid melakukan hal tadi padanya, lalu, Anna pun akhirnya kembali bergabung ke meja.


“Kau sudah kembali, Pengawal Zaid? Dari mana saja kau? Aku mengkhawatirkanmu tadi,” ucap Can lirih.


“Aku hanya tersesat saat kembali dari toilet. Lampu yang mati membuatku tak mengingat jalan dengan benar.”


“Ah, benarkah?”


Zaid mengangguk.

__ADS_1


Puisi pun telah usai dibacakan. Semua tamu undangan bersorak meriah memberikan tepuk tangannya masing-masing.


Victor menaiki panggung, lalu meniup lilin di atas kue raksasa itu.


Selamat ulang tahun!!!


Selamat ulang tahun Ketua Victor!!!


Semua tamu undangan kembali bersorak, memberi tepuk tangan.


Dari atas panggung, Victor membalas semua ucapan itu dengan menunduk dan tersenyum lebar. “Terimakasih. Terimakasih, dan terimakasih. Terimakasih semuanya.”


Seketika lampu kembali menyala. Pertanda bahwa Arthur sudah mendapatkan informasi dari Emir, bahwa Patung Budha kini telah berpindah tangan.


Ruang pesta kini kembali terang. Beberapa anak buah Victor mulai menyingkirkan lilin di atas meja.


“Selamat bersenang-senang, semuanya. Silahkan menikmati jamuan yang sudah disiapkan.”


Sebelum Victor menuruni panggung,


*SREEEEEERRRRRRRR!!!!!!!


Terdengar kencang suara helikopter dari ruangan itu. Semua orang kebingungan. Bertanya-tanya, apa yang telah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2