TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 035


__ADS_3

Para kru mengangguk.


“Bagus. Mulai hari ini hingga satu minggu ke depan, Kak Can Yaman akan melakukan diet, jadi, dia tak boleh makan apapun di atas jam 8 malam. Kalian harus selalu mengosongkan kulkasnya setelah jam itu.”


Anna berjalan mendekati Zaid yang sedang asyik membaca, menyandar di sofa.


“Dan kau, Pengawal Zaid. Mari kita bicara sebentar.”


“Tentu. Bicara saja langsung disini. Aku sedang tak ingin bergerak,” ucap Zaid yang tetap membaca buku, tanpa menurunkan bukunya.


“Wah, lihatlah dirimu. Kau sama sekali tak memiliki sopan santun, saat ada orang yang mengajakmu berbicara.” Anna kesal.


“Berdirilah. Sebagai manajer, aku harus mentraktirmu makan kali ini. Aku tahu kau belum makan malam.”


Zaid menurunkan bukunya menatap Anna. “Makan? Baiklah. Mari kita pergi.” Beranjak dari sofa, lalu bergegas pergi saat Anna menawarinya untuk makan, karena Zaid belum menelan apapun sejak makan terakhirnya di siang hari.


“Astaga, giliran makan saja kau selalu semangat.” Anna berjalan mengikuti Zaid yang lebih dulu pergi.

__ADS_1


***


Mereka berdua pergi ke restoran Tiongkok yang merupakan salah satu restoran milik Can Yaman.


Bohlam-bohlam berwarna merah ala Tiongkok menghiasi setiap sudut restoran itu. Membuat restoran terlihat lebih khas lagi.


Banyak juga hidangan menu favorit yang ada di dalamnya. Mulai masakan laut yang, hingga daging babi, sapi, yang khas. Juga mendatangkan langsung seorang chef profesional dari China.


Agar masakan yang dibuat tak jauh berbeda dengan restoran yang berada di Tiongkok.


Tepat pukul 9 malam. Sebenarnya restoran itu sudah tutup, tapi, karena pelanggannya adalah salah satu kru Can, pihak manajer pun membolehkannya.


Hanya ada mereka berdua di restoran itu. Beberapa pelanggan yang terakhir telah beranjak pergi meninggalkan restoran saat para pelayan mulai membersihkan meja, karena hendak tutup.


Bebek peking (Peking Duck) salah satu hidangan masakan Tiongkok yang menjadi ikonik di seluruh dunia.


Dipanggang dengan kulit yang renyah dan daging yang lembut. Saat disajikan, daging bebek dipotong tipis-tipis dan biasanya dimakan dengan pancake tipis, saus hoisin, irisan daun bawang, dan mentimun segar. Terlihat lezat sekali.

__ADS_1


Hidangan itu untuk Zaid yang memang sedang ingin menyantap bebek.


Sementara untuk Anna. Dia memesan beberapa mangkuk dimsum dalam porsi kecil yang disajikan dalam keranjang kukus.


Ada berbagai jenis dimsum, termasuk siomay, pangsit, bola daging, dan bakpao. Makanan ini biasanya terbuat dari adonan tepung terigu yang diisi dengan daging, ikan, udang, atau sayuran, dan kemudian dikukus.


Zaid langsung menyantap makanan itu dengan lahap. Berbeda dengan Anna yang masih melihat Zaid yang terlihat seperti orang kelaparan.


“Bisakah kau menjelaskan padaku, apa yang telah terjadi tadi pagi? Pertama, mulai dari kau dan Kak Can berlari di jalan raya.”


Zaid masih asyik mengunyah makanan. Mengangkat tangan memberi tanda bahwa dia tak bisa berbicara saat sedang mengunyah.


“Ah, sial! Bisakah kau bertanya nanti saja? Apa kau tak melihat, aku sedang menikmati makanan ini? Makanlah dahulu, dan bertanyalah setelah semua makanan ini habis.”


Anna menghela nafas panjang, mendengus, lalu mulai menyantap dimsum itu satu persatu.


Setengah jam berlalu. Semua makanan telah habis. Entah bebek peking, maupun dimsum.

__ADS_1


“Baiklah. Jelaskan sekarang juga.” Anna sudah tak sabar.


__ADS_2