TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 071


__ADS_3

“Aku mendapatkan semua barang ini dari acara pelelangan di Amerika dan memenangkannya dengan harga tertinggi.”


“Wah, ini sungguh mengesankan.” Can memutari ruangan. Melihat setiap koleksi dengan seksama.


Di ujung ruangan itu, Zaid melihat sebuah Patung Budha berwarna hitam. Hanya kecil. Mungkin berukuran sekitar 20 cm saja.


Terletak di atas tatakan berlapis emas, dan pastinya dilapisi dengan kaca berbentuk kubus. Zaid cukup yakin bahwa itu adalah patung Budha yang dimaksud. Sekarang, tinggal hanya cara Zaid akan mengambil patung itu.


Saat Victor dan Can sedang asyik berbincang, Zaid masih fokus pada patung itu.


Tak ada cara lain! Dia tak mungkin mengambil Patung Budha saat itu juga.


Satu-satunya cara adalah bom EMP.  Rencana cadangan. Zaid memberikan sinyal pada Emir untuk memberitahu Arthur, untuk mengirim bom EMP tepat di atas rumah Victor.


Setelah Arthur menerima pesan dari Emir. Maka hanya akan membutuhkan waktu satu menit dan seluruh kota Rusia pun akan padam.


Begitupun dengan komunikasi Zaid dengan Emir akan terputus, karena pengaruh dari ledakan EMP tersebut.


Zaid mulai menghitung dalam hati, dan melihat arlojinya. Tepat 60 detik, semua lampu dan seluruh kelistrikan di rumah Victor pun mati. Bertepatan juga saat Can dengan Victor akan berfoto di ruangan itu.

__ADS_1


Bom EMP telah diluncurkan dan berfungsi menjalankan tugasnya.


Begitupun Zaid yang kini harus menjalankan tugasnya sendirian. Dia tak dapat lagi terhubung dengan Emir, ataupun mendapatkan aba-aba darinya.


Seluruh ruangan koleksi Victor itu benar-benar gelap gulita. Anak buah Victor yang berada di sana mengeluarkan senter, mengarahkannya ke atas untuk menerangi sejenak.


“Apa-apaan ini?” seru Victor kesal.


“Ada apa? Apa terjadi sebuah pemadaman tiba-tiba?” tanya Can yang tak tahu.


“Entahlah, sepertinya begitu,” jawab Victor.


“Aku juga tak tahu, Tuan. Mari kita tunggu kabar dari penjaga di luar sana.”


Datanglah satu anak buah Victor lagi ke ruangan itu untuk melapor, dan Victor pun memarahi anak buahnya. Menyuruhnya untuk segera memeriksa apa penyebab dari semua itu.


Victor juga menyuruh untuk menambah beberapa penjaga yang akan berjaga di ruangan itu.


“Baiklah, Can. Ini bukan masalah serius. Aku tetap akan melanjutkan pesta ini. Mari kita kembali ke ruang pesta. Kita akan berfoto setelah lampu kembali menyala.”

__ADS_1


“Baiklah.”


Anak buah Victor memimpin jalan dengan senternya. Mereka kembali ke lantai satu, tempat pesta yang sepertinya sudah berlangsung.


Dan benar saja. Pesta itu sudah dimulai dengan penampilan acara puisi sebagai pembuka. Juga terlihat dua lilin yang menyala di setiap meja yang ditempati para hadirin.


Terlihat juga sebuah kue besar dan tinggi, tepat di belakang orang yang sedang membacakan sebuah puisi.


Victor menuju samping panggung utama, sementara Can dan Zaid menuju meja tempat Anna berada.


Meski dalam keadaan lampu yang mati, tapi semua orang tetap antusias mengikuti runtutan acara pesta. Mendengarkan puisi yang disampaikan dengan seksama.


Puisi yang disampaikan sangat indah untuk didengar. Lilin yang menyala membuat suasana dan makna dari puisi tersebut lebih terasa.


“Kau sudah kembali, Kak? Tak ada masalah, bukan?” Anna bertanya pada Can yang baru kembali ke mejanya.


“Tentu, aku tak apa. Apa ada masalah? Ada apa ini? Apa ini sebuah kejutan dalam rentetan acara?”


Anna menggeleng. Keduanya sama-sama tak mengerti apa yang terjadi.

__ADS_1


“Pengawal Zaid, apa telah terjadi sesuatu?” Anna berbalik, bertanya pada Zaid di belakang.


__ADS_2