
Can tersenyum kecil. “Lebih tepatnya dendam. Aku bisa bertahan dan melewati semua itu karena kebencian, kemarahan, juga dendam.”
“Saat pertama karirku dimulai, aku menjalin hubungan dengan wanita yang sangat amat kucintai.”
“Dia adalah cinta pertama dalam hidupku, tapi, di hari kecelakaan, dia meninggalkanku dan memilih untuk menikah dengan pria lain. Kami bahkan belum putus, tapi, dia pamit untuk menikah begitu saja.”
“Rasa sakit akibat pengkhianatan itulah yang sangat menyiksa diriku.”
Wajah Can menyimpan seribu arti saat bercerita itu. Kadang dia tersenyum, tapi hatinya merasa sangat sedih tak berujung jika mengingatnya.
“Astaga, sepertinya aku terlalu banyak bercerita. Kau tak perlu menanggapinya dengan serius, Pengawal Zaid. Mari kita menikmati minuman ini.”
Zaid menghela nafas. “Aku harus mempergunakan wanita itu,” gumam Zaid dalam hati.
Rose. Itulah jawabannya. Zaid ingin mempergunakan Rose agar Can ingin bergerak dengan sendirinya.
Bukan memberitahu bahwa Rose seorang mata-mata, tapi, sekedar bahwa Rose lah yang menyuruh Zaid untuk menjadi pengawal Can.
Yang pastinya, Can akan marah dan memutuskan kontrak dengan YB Entertainment, agensi yang telah menaunginya selama ini.
__ADS_1
Karena sumber kebencian dan kemarahan Can berada pada Rose yang telah meninggalkannya.
“Aku juga punya sesuatu untuk kuberitahu padamu juga.”
“Apa itu? Katakan saja. Aku akan mendengar ceritamu, meski itu panjang dan berbelit.”
“Sebenarnya …. Orang yang mengirimku untuk menjadi pengawal pribadimu adalah Nona Rose, yang mana dia pemegang saham terbesar YB Entertainment. Dengan dana bantuan dari Babel Group milik suaminya.”
Can melipat dahinya. Raut wajahnya berubah drastis saat Zaid menyebut Rose. “Rose?”
“Dialah yang menyuruhku untuk menjadi pengawalmu melalui Produser Nick. Pastinya, dia ingin membuatmu kembali bekerja. Aku yakin kau bukanlah orang yang mau menjadi boneka orang lain.”
Can tercengang. Berpikir lama, mencerna perkataan Zaid.
“Aku adalah bawahan orang yang sedang kulayani,” jawab Zaid tegas meyakinkan.
Can kembali terdiam. Menegak alkohol langsung dari botolnya. Cukup dilema dengan perkataan itu.
“Baiklah, Tuan. Sepertinya, kau perlu waktu untuk berpikir. Aku akan meninggalkanmu dahulu. Permisi.” Zaid mengangguk, lalu pergi dari balkon.
__ADS_1
Sesekali Zaid melihat Can dari balik jendela. Nampak masih melamun dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Zaid padanya.
***
Tepat keesokan harinya. Rencana Zaid berhasil sesuai rencana. Can berniat memutuskan kontrak dengan YB Entertainment. Sudah sangat mantap dengan niatnya itu.
Pagi-pagi sekali, Can, Anna, juga Zaid telah berada di kantor YB Entertainment. Menunggu kedatangan Nick yang belum datang pagi itu.
Di ruangan Nick, Can duduk dan membaca koran di kursi CEO milik Nick.
Tak berselang lama, Nick pun datang. Berseru melihat Can yang sudah ingin kembali bekerja, padahal belum cukup satu minggu setelah semua jadwal diundur.
“Astaga, Tuan! Kau sudah kembali?” seru Nick. “Kau sungguh luar biasa. Gairah bekerja yang kau miliki membuatmu tak bisa beristirahat. Sangat energik.”
“Tutup mulutmu, Brengsek!” ucap Can ketus. “Apa kau sudah berbohong padaku?”
“Apa maksudmu, Tuan?” Nick kebingungan.
“Kau berkata padaku bahwa Babel Group lah pemegang saham terbesar YB, tapi, bukanlah perusahaan itu hanya alih-alih saja? Pemegang saham terbesar YB adalah Rose, bukan?”
__ADS_1
“Dia menggunakan nama Babel untuk mengganti namanya.”
“Astaga … Itu .. Bukan seperti itu ….”