
Zaid mendeus kesal. “Pegangan yang kuat dan kencangkan sabuk pengamanmu!”
“Apa … Oh. oke!” Anna menuruti semua perintah Zaid.
Zaid membelokkan mobilnya di jalur yang berlawanan hanya untuk mengejar mobil Can.
Suara klakson pun terdengar dari setiap mobil yang melintas. Dari jalan itu. Mobil yang dikendarai Zaid zig-zag ke kiri dan ke kanan untuk menghindari mobil yang melintas di depannya.
Beberapa kali dia hampir mengalami kecelakaan, tapi, karena kemahirannya dalam membawa mobil, Zaid bisa menghindari semua itu.
Saat sudah berada tepat di samping, mobil Can, Zaid pun kembali berbelok menuju jalur yang benar.
Nafas Anna tersengal-sengal. Syok melihat Zaid yang mengendarai mobil dengan brutal.
Kini kedua mobil pun sudah saling berdampingan. Sama-sama melaju dengan kecepatan tinggi.
Zaid memutar otak. Bagaimana dia harus menghentikan mobil yang dikendarai Can dengan kecepatan 100km/jam itu.
Tepat jarak 200 meter di depan. Terlihat beberapa petugas konstruksi yang menutup jalan dengan plang-plang besi.
__ADS_1
Karena dalam jarak radius 1 km dari jalan yang ditutup itu adalah sebuah jembatan yang terputus yang sedang dalam perbaikan.
BRAKKKK!!!!!! Kedua mobil yang melaju kencang itu menabrak plang. Membuat para petugas yang berjaga menyingkir ke pinggir jalan.
Semua keputusan ada di tangan Zaid. Kedua mobil itu akan terjatuh, karen jembatan di depan sana terputus.
Jarak 300 meter sebelum bagian jalan yang terputus, Zaid menyalip mobil Can. Menarik rem tangan, membanting setir dengan cepat dan mobil pun berputar, layaknya di film fast furious.
Tepat berhenti vertikal menutup jalan yang akan dilewati mobil Can yang masih melaju kencang.
“Awas!!!” Zaid merangkul Anna dan memeluk. Agar Anna tak melihat tabrakan yang terjadi. Tangan kanannya mendekap Anna dan tangan kirinya menghalangi wajah dari kaca mobil yang pastinya akan pecah karena lalu,
Mobil Can menabrak sisi bagian kiri mobil polisi yang dikendari Zaid. Akan tetapi, mobilnya Can tetap tak bisa berhenti.
Mendorong sisi kiri mobil Zaid, dan terus melaju membawanya ke tepi jembatan yang putus. Suara rem, gesekan ban mobil, juga teriakan Anna bercampur menjadi satu.
Juga kepulan asap knalpot dan asap dari ban yang menggesek ke aspal mengepul terbang ke atas.
Bagi Zaid, hal seperti itu sudah biasa dialaminya. Tak jarang dia mengalami situasi dan keadaan yang membuatnya hampir meninggal saat dia berada dalam militer.
__ADS_1
Tak seperti Anna, dan Can yang hidupnya seperti masyarakat normal pada umumnya.
Hingga sebuah batu besar akhirnya menyelamatkan ketiga orang tersebut. Bongkahan batu itu menutup bagian jembatan yang putus. Hingga dapat menahan kedua mobil sebelum jatuh.
Zaid menghela nafas panjang. Kedua mobil dapat berhenti meski harus menabrak bongkahan batu besar.
Mobil polisi yang dikendarainya remuk dan hancur sehancur-hancurnya. Tapi tidak dengan mobil Can yang hanya rusak bagian bemper depan.
“Kau tak apa?” Tanya Zaid pada Anna yang masih berada di dekapnya.
Anna merintih ketakutan tak menjawab.
Di dalam mobilnya, ternyata Can sudah tak sadarkan diri.
Zaid segera mengambil alat pemecah kaca, lalu memecahkan kaca mobil bagian depan. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Dia tak bisa keluar dari sisi kiri mobil, ataupun sisi kanannya karena bongkahan batu.
“Tutup wajahmu jika kau tak ingin wajahmu tergores pecahan kaca. Aku akan memecahkan kaca depan mobil.”
Anna menutup wajahnya dengan tas.
__ADS_1