
Zaid menghela nafas panjang, melihat tingkah konyol Can. Pria yang seumuran dengannya itu membuatnya cukup kesal.
Untungnya, Zaid sudah menyelidiki lebih dalam lagi tentang sifat asli Can Yaman. Terlepas dari semua sifat yang ditunjukkannya saat bertemu para klien dan para penggemarnya.
Ternyata Can Yaman memiliki jiwa dan sikap seperti psikopat. Dia menemukan kesenangan saat menindas orang lain. Tangguh pada yang lemah, dan lemah pada yang kuat.
Sebuah jam weker diambil Zaid dari atas meja, samping ranjang, lalu membawanya ke kamar mandi. Jam weker itu sendiri sudah disetel dengan alarm tepat pukul 07.00
Dengan alat seadanya, Zaid merakit ulang jam weker. Memodifikasinya dengan bahan peledak.
Bukan bahan peledak besar seperti granat, tapi, hanya letusan kecil yang membuat jam weker itu mungkin saja hancur, tepat saat alarm berbunyi. Menambahkan beberapa bahan lainnya. Sabun, air, odol, shampo.
Selesai sudah semuanya dalam 20 menit. Jam menunjukkan pukul 7 kurang lima menit.
Dia segera kembali ke tempat tidur Can. Menggantung jam weker berisi bahan peledak yang dipenuhi oleh campuran sabun, odol, dan sampo, tepat di atas Can sedang terbaring.
“Astaga, dimana pengawal itu? Kenapa dia tak membangunkanku? Apa dia sudah pergi?” ucap Can. Dia pun membuka penutup matanya.
“Brengsek! Apa-apaan itu? Apa yang kau lakukan?” Can terkejut melihat alarm yang sudah tergantung tepat di depannya.
__ADS_1
Alarm yang telah dimodifikasi dengan bahan peledak kecil-kecilan. JIka alarm itu berbunyi, maka jam weker akan meledak dengan semburan sampo, sabun, dan odol yang akan memenuhi ranjang.
“Aku tahu kau sudah menyetel alarm jam weker itu tepat pukul 7. Jika kau tak menekan tombolnya tepat pukul 7, maka jam weker itu akan meledak.”
“Ah, sial! Apa maksudmu? Maksudmu, itu adalah bom?”
“Bisa dibilang seperti itu. Bahan kimia juga dapat dijadikan alat sebagai bahan peledak. Begitu bahan kimia tidak stabil, maka itu dapat membuat sesuatu yang mengguncangnya meledak.”
“Pengetahuan seperti ini adalah sebuah dasar fisika dan kimia untuk membuat hal semacam ini. Apa kau sudah melupakan pelajaranmu?”
Can malah terkekeh. “Astaga, apa kau bercanda? Berhentilah membual, Berandal!”
“Wah, berandal ini gila. Hei! Pengawal macam apa yang membuat bahan peledak untuk majikannya sendiri?” Can mulai ketakutan. Menjauh menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.
“Jika kau bangun dan menekan tombolnya sebelum alarm berbunyi, maka itu tak akan meledak, jadi, pilihan ada di tanganmu.”
4 menit berlalu mereka berbincang, 60 detik lagi maka tepat pukul 7, dan alarm akan berbunyi.
“Baiklah, waktumu tinggal 60 detik lagi.” Zaid melihat jam tangannya.
__ADS_1
“Ah, berhentilah melucu. Itu tak akan mungkin terjadi. Kau mengada-ngada, bukan? Aku tak akan tertipu. Kau tak bisa menipuku dengan hal semacam ini.”
Can masih mengoceh. Dilema antara percaya atau tidak.
Perlahan Zaid melangkah munduru dari ranjang sambil melihat jam tanganya.
30 detik lagi.
“Hei, hei, hei. Mau kemana kau? Bawa mainan konyol itu menjauh dari sini.” Can kembali ketakutan.
20 detik lagi.
“Bawa ini, Brengsek! HEI!!!!”
“Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat ……”
“Kau memang brengsek!!!”
Tappp!!!! Can pun akhirnya bangun dan menekan tombol di hitungan ke empat. “Sial!” Dia menggerak-gerakkan jam weker yang tergantung itu.
__ADS_1