TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 028


__ADS_3

“Baiklah.” Zaid menunduk.


“Tuan Can harus bangun setidaknya dua atau satu jam sebelum jam 9. Karena tepat jam 9 dia harus berada di lokasi syuting.”


“Ya, tentu. Manajer Anna juga sudah memberitahuku.”


“Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu.” Si Sopir itu menunduk, lalu segera pergi dari kediaman Can. Nafasnya menggebu-gebu, panik melihat wajah Zaid yang dingin dan misterius.


Zaid berbalik badan melihat sopir pribadi Zaid yang berjalan dengan tergesa-gesa. Ada yang aneh! Zaid pun teringat saat dia menguping percakapan diantara Anna dan Can tempo hari.


Pasti mereka sudah menyusun rencana untuk hari ini.


“Baiklah, jika itu mau kalian,” gumam Zaid dalam hati.


Dia pun terus menaiki tangga menuju teras depan rumah Can. Di depan pintu rumahnya, langkah Zaid kembali berhenti. Melihat beberapa semua CCTV yang berada di atap pintu dan setiap tiang teras.

__ADS_1


Di dalam rumah, Zaid melihat aula ruang tamu yang sangat luas luas dan mewah dengan langit-langit tinggi dan dinding yang dihiasi dengan panel kayu atau karya seni tradisional Turki.


Ruang tamu utama dilengkapi dengan perabotan mewah dan elegan seperti sofa dan kursi berlapis kain yang lembut, meja dengan ukiran yang rumit, dan perabotan yang terbuat dari kayu berharga.


Gaya furnitur yang digunakan dalam desain kolonial Turki cenderung menggabungkan elemen-elemen tradisional dengan sentuhan Eropa yang klasik.


Banyak juga perabot dan barang pajangan mahal lainnya seperti guci, patung yang terukir indah dari batu, serta barang-barang antik lainnya.


Desain interior rumah mewah dengan desain kolonial Turki juga mencakup detail-dekoratif seperti kubah atau lengkungan yang indah, lampu gantung yang megah, dan lantai yang terbuat dari marmer atau ubin yang elegan.


Sentuhan warna seperti emas atau perunggu juga sering digunakan dalam desain, memberikan kesan kemewahan yang lebih dalam ruangan.


Pemandangan yang elegan itu cukup membuat Zaid terkesima. Selama hidupnya dia tak pernah melihat barang-barang yang antik dan mahal, karena hidupnya hanya di medan perang saat di militer.


Berjalan menaiki tangga, menuju ke lantai 2. Dan tepat di lantai itulah kamar Can berada. Rumah sebesar itu hanya dihuni olehnya dan sopir serta manajer yang beberapa kali menginap, jika ada keperluan penting.

__ADS_1


Lantai 2 itu khusus untuk kamar Can pribadi. Hanya ada sekat-sekat yang membatasi dari kamar mandi, ruang makan, ruang pribadi dan kamar tidurnya.


Kini Zaid sudah berdiri tepat di samping ranjang besar. Dengan Can yang masih tertidur di atasnya. Can menggunakan penutup mata, selimut, serta piyama berwarna hitam.


Tentu saja dia hanya berpura-pura. Dia sudah bersekongkol dengan Anna untuk membuat Zaid tak betah.


“Sudah waktunya kau untuk bangun, Tuan Can. Sekarang pukul tujuh kurang tiga puluh menit.”


“Ssttttt. DIamlah! Jangan berisik! Apa kau tak melihat, jika aku sedang bekerja?” Can berbicara tanpa membuka matanya.


“Kau harus bangun untuk bekerja, Tuan.”


“Astaga, ini adalah hari pertamamu bekerja. Aku tak perlu mengatakannya padamu dua kali, bukan?”


“Hari ini aku ada adegan syuting, dan aku harus berpura-pura untuk mati. Yang kulakukan sekarang ini adalah mendalami peran itu. Maka, diamlah, tutup mulutmu, dan jangan ganggu aku.”

__ADS_1


__ADS_2