TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 058


__ADS_3

Malam harinya, terlihat Zaid yang sedang sibuk di dalam kamarnya sendiri. Membongkar peralatan dari Emir. Seperangkat peralatan yang bisa digunakannya untuk menyadap seluruh cctv dan kamera pengawas.


Karena tak memiliki pekerjaan lain, Zaid mengotak-atik alat itu dan meretas seluruh kamera pengawal yang ada di dalam rumah Can.


Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, Zaid berkeliling di setiap sudut mencari kamera pengawal, lalu meretas setiap kamera yang ada, dan kini, dia bisa melihat rekaman itu dari ponselnya sendiri.


Dan saat ia akan beranjak tidur, terdengar suara langkah kaki yang menaiki tangga. Meskipun hanya terdengar samar-samar, tapi suara sekecil apapun dapat mengganggu pria yang selalu fokus dan waspada sepertinya.


Zaid pun segera memeriksa rekaman kamera pengawas dari ponselnya.


Dan terlihatlah Anna yang sedang berjalan menaiki tangga dengan sempoyongan. Wanita itu pasti sedang teler karena mabuk. Menaiki tangga satu persatu. Menuju kamar Zaid.


Saat Anna berdiri di depan kamar Zaid, Zaid segera bangkit dari kasur, lalu mengunci kamarnya. “Astaga, apa yang dilakukan tikus kecil itu?” gumamnya.


Zaid kembali melihat apa yang dilakukan Anna di luar dari ponselnya.


Berkali-kali Anna mencoba membuka pintu. Menarik dan mengayunkan gagang pintu. Akan tetapi usahanya sia-sia.

__ADS_1


Zaid tersenyum sinus melihatnya. Tapi, keadaan berbalik dengan cepat.


Anna mengeluarkan kunci serep dari dalam tas, lalu membuka kunci pintu kamar Zaid dari luar.


KLEKK!!!!  Pintu kamar Zaid pun sudah tak terkunci lagi. Anna berhasil membukanya dari luar.


“Brengsek!!!” Zaid segera melompat ke kasur dan berpura-pura tertidur.


“Wah!!!! Berat sekali mataku!” Anna berjalan sempoyongan dengan mata tertutup dan keadaan yang setengah sadar. Juga dia tak menyadari bahwa Zaid telah berada di kasur itu.


Zaid menggunakan kesempatan itu untuk beranjak dari kasur. Berguling, beralih ke tepi ranjang. Duduk melihat wanita kecil yang teler itu.


“Astaga sakit sekali. Kenapa bantalnya begitu keras?” Anna kembali meletakkan kepalanya di kasur.


“Wah, berada di kamar ini sangatlah nyaman. Aku bisa melihat foto Kak Can yang dipenuhi aura positif.” Anna tertidur miring. Melihat poster dan foto Can di dinding.


“Kak Can, hari ini aku sangat mabuk sekali. Aku menghabiskan 2 botol whiskey sekaligus.”

__ADS_1


“Dasar wanita gila! Bisa-bisanya dia menghabiskan whiskey dua botol sekaligus.”


Perkataan Anna pun mulai lebih melantur lagi.


“Apa kau tahu, Kak? Hari ini ayahku yang brengsek itu datang lagi ke kehidupanku, tapi, aku langsung mengusirnya dengan tegas. Hahahahaha.”


Matanya berat, dan setengah menutup, tapi mulut Anna terus berbicara seolah melihat Can berdiri di samping tempat tidurnya.


“Kau tahu, Kak, saat kakekku meninggal, ayahku mendekap berada di dalam penjara,, dan para debitur yang meminjami uang pada ayahku, mereka mengusikku di rumah. “


“Menghancurkan semua perabot rumahku yang ada. Dan sejak saat itu hidupku sangat terpukul. Saat kakakku meninggal, aku juga ingin meninggal untuk menyusulnya.”


“Akan tetapi, akhirnya aku bertemu denganmu Kak.” Mata Anna sedikit terbuka melihat foto Can.


“Sebenarnya, aku sudah berbohong kepada Pengawal Zaid, bahwa aku telah menyelamatkanmu, tapi, kenyataannya adalah sebaliknya. Kaulah yang menyelamatkan hidupku.”


“Sepertinya kita ditakdirkan untuk bersama. Karena kami bertemu saat kami sedang sama-sama berputus asa di atap gedung rumah sakit itu.”

__ADS_1


__ADS_2