TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 111


__ADS_3

Di atas meja telah dihidangkan beberapa hidangan, seperti pizza, pastel, dan dua botol minuman alkohol.


Basa-basi kembali terjadi. Yohan terus bercerita mengenai putri semata wayangnya, dan bagaimana susah payahnya Yohan membesarkan anak seorang diri.


Sungguh ayah yang tak tahu malu. Padahal, hidup Yohan selalu berada di dalam penjara, dan Anna dibesarkan oleh mendiang kakeknya yang telah meninggal.


“Ah, rupanya kau seorang Pengawal Pribadi yang juga bekerja untuk arti, sama seperti Anna yang bekerja sebagai manajer,” ucap Yohan setelah Zaid sedikit bercerita.


“Sepertinya kau sangat kaku karena kau selalu melayani orang-orang besar dan berpengaruh.”


Zaid hanya tersenyum mengangguk. “Biar kutuangkan minuman untukmu, Tuan.” Mengambil botol alkohol, lalu menuangkannya ke dalam gelas Yohan


“Tentu.”  Yohan menenggak minuman dalam sekali tegak. “Akan tetapi, Nak. Sepertinya, aku tak asing melihat wajahmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Apa kau pernah bekerja dengan Babel Group?”


“Tentu. Istri dari pemilik Babel Group adalah teman baik kepala sekertarisku.”


“Ah, begitukah? Kalau begitu, mungkin saja kita pernah bertemu sebelumnya.”


Yohan mengambilkan botol, balik menuangkannya untuk Zaid.

__ADS_1


“Tidak, Ayah! Dia harus menyetir, jadi, dia tak boleh minum.” Anna melarang.


“Baiklah, aku akan minum untukmu, Ayah,” ucap Zaid.


Ayah? Anna tercengang Zaid juga memanggil ayahnya dengan sebutan Ayah.


“Astaga, itu bagus, Nak. Sepertinya aku langsung cocok denganmu. Baiklah. Mari kita bersulang bersama.”


Yohan pun kembali membual. Dia mulai bercerita kepada Zaid bahwa dia menjalankan bisnis global, bertemu dengan orang-orang besar, dan lain sebagainya.


Dia juga bercerita bahwa dia masuk penjara karena masalah penukaran mata uang asing.


Hingga membuat Anna kesal dan menyuruh ayahnya berhenti membual. “Sudah cukup, Ayah!”


“Itu sudah biasa dalam dunia bisnis, Ayah. Beberapa VIP dan CEO yang pernah kulayani juga pernah mendekap di penjara dengan kesalahan seperti itu,” ucap Zaid.


“Wah, benar, kan? Pandanganmu terhadap dunia bisnis sangat berbeda karena kau pernah melayani para CEO besar.” Yohan terkekeh.


Makan malam berlangsung dengan tenang. Mereka menikmati hidangan, mengobrol, bersenda gurau, dan bertukar cerita.


Hingga saat yang ditunggu Zaid tiba. Yohan menanyakan soal gelang itu kenapa Anna.

__ADS_1


“Omong-omong, Anna. Apa kau masih menyimpan benda yang ayah titipkan kala itu? Tentu kau masih menyimpannya, bukan?”


“Sudahlah, lupakan gelang kuno itu. Aku sudah lama membuangnya,” jawab Anna kesal.


Anna muak dengan semua yang dikatakan ayahnya. Ayahnya selalu berlagak baik padanya saat ada yang diinginkan saja.


“Ayolah, kau tidak benar membuangnya, kan? Kau pasti sedang bercanda.”


Anna hanya mendengus tak menjawab. Kembali menyantap semua makanan yang masih tersisa.


***


Keesokan paginya di markas Zaid. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, tapi, terlihat Zaid yang masih terlelap, karena banyaknya alkohol yang diminumnya semalaman.


Terlelap di sofa dan masih menggunakan pakaian yang dipakainya, saat bertemu dengan Yohan, dan berkencan dengan Anna kemarin.


“Wah, tumben sekali Berandal ini masih terlelap.” Emir yang saat itu sudah rapi pun membangunkan Zaid.


Berkali-kali Emir membangunkannya, tapi, mata Zaid masih sangat berat untuk terbuka. Hingga dia hampir putus asa.


Emir pun mengambil air dingin dari kulkas, lalu meneteskannya ke wajah Zaid.

__ADS_1


“Bajingan!” Zaid pun terbangun karena air es itu mengenai wajahnya. “Sial! Apa-apaan kau ini?”


Emir menghela nafas panjang. “Ada seribu kali aku membangunkanmu, tapi, kau tetap tak membuka matamu. Berapa banyak alkohol yang kau minum sampai kau kacau begini?”


__ADS_2