
Saat Zaid akan beranjak pergi, Anna kembali menahannya. “Dia akan baik-baik saja, bukan?” Memegang lengan Zaid dengan erat. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat cemas melihat kondisi Can.
Zaid menghela nafas panjang. Mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi.
Tak lama kemudian, Nick pun datang. Bergabung dengan semua kru di depan ruang UGD. Tercengang melihat kondisi Can dari balik kaca
“Astaga, apa ini? Kupikir itu bukan luka serius. Bagaimana bisa dia mengalami kecelakaan seperti ini?”
Nick berbalik menatap Zaid. “Hei, apa yang kau lakukan? Bagaimana bisa kau membiarkan dia mengalami seperti ini?”
Zaid pun naik pitam. Tangannya mengepal ingin meninju wajah Nick disana. Pria bodoh itu tak tahu apapun dan malah mengomel sendirinya.
“Itu bukan kesalahannya, Produser Nick.” Anna menengahi.
“Jika bukan karena Pengawal Zaid, Kak Can pasti sudah dalam kondisi lebih kritis lagi. Dalam kasus ini, Pengawal Zaid lah yang seharusnya dirawat. Dia tertabrak lebih keras.”
Nick mendengus.
__ADS_1
BRUK!!!! Tiba-tiba tubuh Anna ambruk ke lantai.
“Astaga, ada apa denganmu? Apa kau juga terluka?” Nick segera menolong.
“Tidak, aku hanya sedikit pusing.” Anna memegang kepalanya.
“Berhentilah membual. Kau jelas terluka,” timpal Nick.
“Tolong jaga dia, Pengawal Zaid. Bawa dia juga ke ruang medis.”
Zaid mengangguk, lalu menggendong tubuh ringkih Anna. “Tutup mulutmu. Kau juga seorang pasien saat ini.” Membawanya ke tempat dimana dia bisa mendapatkan infus.
Tubuh Anna terbaring lemah di atas ranjang, dengan tangan kiri yang sudah disuntik jarum infus oleh perawat yang ada.
Zaid berdiri menunggu Anna di samping ranjangnya.
“Apa kau tak terluka sama sekali?” tanya Anna. “Kau mengalami lebih banyak hantaman keras dariku saat kecelakaan.”
__ADS_1
Zaid hanya diam. Memang dia mengalami lebih banyak benturan daripada Anna ataupun Can, tapi, tak dia masih terlihat bugar. Hanya terdapat luka goresan kecil di pipi kiri, akibat pecahan kaca.
“Permisi pasien tampan! Kami juga perlu membawamu untuk disterilisasikan. Kau juga sedikit terluka, bukan?” Seorang perawat pria datang menghampiri Zaid. Menggunakan masker dan penutup kepala.
Dan lagi-lagi dia adalah Emir. Kali ini dia menyamar sebagai perawat di rumah sakit itu. Menyamar menjadi siapapun dan cocok adalah keahlian yang dimilikinya.
Cepat sekali berita kecelakaan itu menyebar. Alih-alih menjadi perawat, Emir pasti ingin memeriksa keadaan Zaid.
Dia membuka masker, mengangkat alis, menatap Zaid yang menoleh padanya.
Zaid pun meninggalkan Anna. Mengikuti Emir ke sebuah ruangan khusus.
“Astaga, apalagi kali ini? Kau menyamar sebagai perawat? Kenapa kau tak menyamar sebagai dokter saja?” ucap Zaid. Dia mengambil beberapa peralatan medis di atas meja, dan mengobati lukanya sendiri.
“Hei, jika aku menjadi dokter, aku mungkin saja tidak beruntung, jika aku mendapatkan pasien yang harus dioperasi. Lebih gila lagi jika aku mendapatkan pasien yang akan melahirkan. Hahahaha.” Emir terkekeh.
“Wah, kulihat kau memang tak terluka sama sekali. Hanya ada goresan sedikit di wajahmu. Bagaimana bisa kau tak terluka sama sekali? Apa kau ironman?”
__ADS_1
Zaid mendengus. Berfokus mengobati luka di pipinya. “Sudahlah, lupakan saja untuk hal ini. Menurutku, kecelakaan ini sangat mencurigakan.”
“Mencurigakan? Apa maksudmu? Semua orang di lokasi syuting berkata bahwa kecelakaan ini tak sengaja terjadi, dan tak jarang terjadi kecelakaan seperti itu saat syuting.”