
Agnes memesan meja VIP dengan beberapa minuman alkohol dengan kualitas premium. Seperti anggur, Whiskey, Vodka dan lainnya.
Duduk sendirian menanti kedatangan Zaid, sembari menikmati minuman yang telah dihidangkan.
Menggunakan gaun berwarna putih. Dengan rambut yang yang model bergelombang tanpa dikucir. Sepatu hak terlihat sangat anggun di kaki jenjangnya.
Setelan yang sangat cocok untuk Agnes. Tampilannya sangat berbeda saat dia mendatangi lokasi syuting sore hari tadi.
Tak lama kemudian, datanglah Zaid. Dia datang menggunakan kostum yang tak kalah modisnya dengan Agnes.
Menggunakan celana pensil panjang berbahan kain. Kemeja bercorak, dan membuka 2 kancing paling atas, dengan outer berwarna biru dongker, dengan rambut yang dibiarkan berantakan model two blok. Pria Badboy, begitulah anak muda menyebutnya.
Zaid kembali menjadi pusat perhatian pada setiap wanita saat dia berjalan ke meja VIP, tempat Agnes berada.
“Wah, ternyata kau lebih cantik dari yang kukira. Saat kau menggunakan pakaian seperti itu.” Zaid duduk di depan Agnes dan memujinya untuk berbasa-basi.
“Tentu saja. Semua orang berkata begitu. Kau mungkin orang kesekian yang berkata seperti itu. Tubuhku selalu dapat menyesuaikan dengan baik. Sesuai pakaian yang kugunakan.”
Zaid tersenyum. “Astaga, ternyata kau lebih cepat menelpon daripada yang kukira. Baru tadi sore kita bertemu, dan kau sudah mengajakku untuk bertemu malam ini.”
Agnes mendengus. Mengambil botol whiskey, menuangkannya ke dalam gelas Zaid. Mereka bersulang, lalu menegak bersama.
__ADS_1
Satu jam berlalu. Malam itu mereka saling bertukar cerita dan berbagi pengalaman. Yang pastinya Zaid hanya mengarang cerita tentang dirinya sendiri.
Tak mungkin bercerita bahwa dia adalah mantan tentara bayaran yang kini menjadi agen hantu di BTI, yang sedang melakukan penyamaran untuk menyelesaikan misinya.
Sementara Agnes, dia bercerita semua keluh kesah dalam hidupnya. Juga menceritakan kapan dia menjalin hubungan dengan Can, dan bagaimana hubungan mereka berakhir kandas.
Saking banyaknya alkohol yang tengah ditegaknya, mata Agnes mulai berkunang-kunang dan berbicara melantur.
“Omong-omong, kenapa kau tak ingin melupakannya? Kau sudah lama berpisah dengan Can, bukan? Jika kau tak bisa melupakannya, maka aku akan membantumu.”
“Mungkin, dengan menghapus semua foto Can Yaman kau bisa melupakannya dengan mudah.”
“Kau tahu? Kenapa aku menyuruhmu kemari? Aku hanya ingin kau menemaniku minum malam ini, bukan membahas soal itu. Jika kulihat, wajahmu memang tampan.”
Agnes mulai berbicara melantur,, dan begitulah orang yang sedang mabuk. Dia akan berbicara sesuai apa yang dilihatnya di depan mata.
Zaid menghela nafas panjang. Sialan! Dia harus kerepotan jika Agnes benar-benar teler. Itu akan membuatnya semakin riweh dan menyulitkannya.
“Berhentilah minum.” Zaid merebut gelas. Sebelum Agnes menegaknya. “Kau sudah banyak minum. Kau akan sangat menyulitkanku, jika kau teler di tempat ini.”
Agnes mendengus. Meletakkan kepalanya di atas meja. “Ah, sial! Kenapa kau kaku sekali? Jika aku mabuk, maka kita bisa bermalam di hotel terdekat dan tidur bersama.”
__ADS_1
“Wah, wanita ini benar-benar gila. Bagaimana bisa dia menjadi pacar seorang artis terkenal seperti Can Yaman,” gumam Zaid dalam hati.
Malam semakin larut, tapi, suasana di bar semakin ramai. Semakin banyak pengunjung yang berdatangan, berjoget, dan menikmati musik, dengan alkohol di tangannya.
Zaid beranjak dari kursinya, lalu menarik tangan Agnes. “Hentikan, mari kita pergi dari sini.”
Mata Agnes berkunang-kunang. Pandangannya telah samar-samar melihat sekitar. Jalannya mulai sempoyongan. Menolak pergi dari tempat bar itu.
Zaid menghela nafas panjang, lalu mengangkat tubuh Agnes dengan kedua tangannya.
“Astaga, apa yang kau lakukan? Apa kita akan pergi ke hotel?” Masih saja Agnes merayu saat dia sedang mabuk.
Tanpa memperdulikan itu, Zaid membawa Agnes ke luar bar, lalu memesankan taksi, agar mengantar Agnes kembali ke rumahnya.
Berkata pada sopir untuk tak membukakan pintu, hingga perjalanan sampai tujuannya.
Membayar ongkos taksi, dan taksi pun berlalu pergi.
“Wah, sial! Kenapa kebanyakan wanita cantik bertindak konyol seperti dia.”
Akhirnya Zaid pun juga pergi dari bar itu.
__ADS_1