
Karena tak ingin kehilangan, Zaid pun memutuskan untuk mengejar pria itu.
Dia melompat dari satu gedung ke gedung lainnya seperti ninja, juga menggunakan sebilah kayu panjang untuk menyeberangi gedung, dan masih membawa sniper besar di tangannya yang tak ringan.
Hingga sampailah dia di gedung blok C. Bersebelahan dengan gedung pria bertopi itu berada. Baku tembak jarak dekat pun tak bisa dihindarkan.
Baku tembak yang cukup tak adil. Pria itu menggunakan pistol kecil. Dia dapat menembaki selakigus berlari dari kejaran Zaid.
Sementara Zaid hanya menggunakan sniper yang mana harus bersusah payah untuk mengisi peluru dan menarik pelatuknya.
Menariknya adalah, pria bertopi itu adalah pria misterius yang dijumpai Zaid saat berada di lokasi syuting Can beberapa bulan lalu. Pria yang menyamar menjadi montir, lalu menyabotase mobil yang akan dikendarai oleh Can.
Zaid yakin sekali dengan itu. Karena pria itu juga tak kalah lincahnya dengan Zaid. Dia mampu bertahan dan berlari, meski tangan dan pundaknya telah ditembus oleh peluru.
Pria itu juga masih bisa berlompat dan berlari, meski darah terus menetes.
“Sial! Ternyata itu kau,” ucapnya.
__ADS_1
Pria itu terus berlari sebelum Zaid kembali menarik pelatuk snipernya. Menggunakan jembatan besi penghubung, lalu,
BOMM!!!!!! Letusan keras terjadi Pria bertopi itu menembakkan senapannya pada drum berisi bensin. Membuat kayu yang menjembatani terbakar penuh dengan kobaran api.
Sial! Zaid tak bisa mengejar pria itu lebih jauh lagi. Dia memberitahukan Emir melalui walkie talkienya.
Begitupun Emir dan Ricky yang juga tak bisa menangkapnya. Pria itu terjun dari lantai lima ke bawah menggunakan tali yang terkait dengan besi, saat Ricky dan Emir baru sampai di atap gedung.
Emir memberondong dengan tembakan berkali-kali, tapi pria itu lebih dulu masuk ke dalam mobil, dan mobil pun melesat pergi.
Gagal sudah misi mereka hari itu. Mereka tak dapat menangkap dan menginterogasi sosok pria misterius dan siapa yang telah menyuruhnya.
“Sial! Aku gagal menangkap pria itu. Kau benar, dia sepertinya terlatih dengan baik. Aku melihatnya terjun ke bawah hanya dengan tali, saat tangan dan pundaknya terluka.” Emir mengeluh.
Zaid menghela nafas panjang. “Ternyata, pria itu adalah pria misterius yang kulihat di lokasi syuting, sebelum Can Yaman kecelakaan.”
“Sungguh? Kau yakin itu dia?” tanya Emir.
__ADS_1
“Tentu, aku sangat yakin itu adalah dia, jadi, akan sangat sulit untuk menangkap orang itu. Sama sepertiku. Sepertinya dia juga mantan tentara bayaran yang pernah mengikuti latihan di medan perang.”
Zaid merapikan kembali semua peralatan snipernya, memasukkannya ke dalam sebuah kota sniper.
“Ah, sial!” Emir masih kesal karena dia gagal menangkap.
“Kurasa aku tahu siapa dia,” sahut Ricky. Ricky membawa sniper milik pria misterius yang tertinggal di atap. “Sniper ini hanya khusus digunakan oleh prajurit bayangan Turki.”
“Dia juga merupakan mantan agen hantu, tapi, dia memilih untuk mengkhianati negara dan bekerja dengan para penguasa hanya karena uang,” lanjut Nick.
Semua orang terdiam mendengarkan penjelasan Nick.
“Omong-omong, perkenalkan ini. Dia adalah Pak Ricky. Atasanku yang pernah kuceritakan padamu saat itu.”
Ricky dan Zaid pun saling menjabat tangan berkenalan satu sama lain.
“Senang bertemu denganmu, Pak Ricky.” Zaid tersenyum.
__ADS_1
“Astaga, ternyata kau lebih tampan saat langsung melihatmu seperti ini. Sejak kau bergabung dengan agensi, aku hanya melihat dari foto dan mendengar cerita dari Emir.”
Zaid menyeringai lebar saat Ricky memujinya