TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 088


__ADS_3

Kali ini Zaid benar-benar mencium bibirnya, tak seperti saat pesta ulang tahun Victor yang hanya berpura-pura mencium untuk mengelabui anak buah Victor.


Untungnya, situasi luar kedai itu sangatlah sepi, tak ada orang yang berlalu lalang sama sekali.


Lengang sejenak! Anna tak bisa berkata apapun, dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Hanya pasrah saat Zaid mencium bibirnya di tempat itu.


Zaid pun juga harus membungkukkan badan saat menciumnya. Karena Anna hanya memiliki tinggi 160 cm,  yang mana hanya setinggi dada Zaid.


Lima detik mereka berciuman, lalu Anna mendorong tubuh Zaid, lalu memegang bibirnya. Terdiam membisu seribu bahasa.


“Maaf, aku tak bisa meninggalkanmu. Aku ingin mengakhiri hubungan kita dengan menjadi jahat, tapi, aku tetap tak bisa meninggalkanmu. Aku tak punya pilihan lain untuk itu.”


“Kurang ajar!!!!” plass!! Anna menampar pipi kiri Zaid dengan tangan kanannya. Sangking kerasnya, pipi Zaid pun sedikit memerah.


Masih tetap berakting. Zaid pura-pura menyesal, tapi, dia tetap harus melakukan itu agar dia bisa kembali bekerja menjadi pengawal pribadi Can.


“Apa-apaan kau ini? Apa kau mempermainkanku?”

__ADS_1


“Ku harap juga begitu!!!!” bentak Zaid kesal. Menghela nafas panjang, mengatur nafas agar  tetap tenang. “Biasanya aku tidak seperti ini, tapi, entah kenapa aku terus membuat kesalahan.”


Anna mendengus. “Kesalahan katamu?”


“Kesalahanku adalah, berusaha meninggalkanmu demi kebaikanmu sendiri. Untuk itu, aku tak akan pergi. Lupakan soal pengunduran diri itu.”


“Apa maksudmu? Bicaralah yang lebih jelas! Kau selalu berbicara dengan bahasa yang sulit kupahami.”


“Besok aku akan kembali bekerja, jadi, sampai jumpa besok. Permisi.” Zaid menunduk lalu pergi depan kedai.


Berjalan cepat agar meninggalkan Anna yang masih mematung di depan kedai kopi. Zaid tak menoleh sedikitpun karena malu semalunya pada Anna.


“Awas kau, Emir,” batin Zaid.


Setelah kembali ke markasnya, Zaid meluapkan semua emosinya. Dia meninju-ninju tembok, menendang kursi. Masih tak menyangka dia akan melakukan pendekatan dengan hal bodoh seperti itu.


Jelas itu bukanlah caranya. Dan sangat berbeda saat dia mencoba untuk mendekati Alice dulu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, datanglah Emir.


BUKK!!!! Baru beberapa langkah Emir memasuki ruangan, Zaid memukul perutnya dengan keras, hingga Emir pun membungkuk kesakitan.


“Aduh! Astaga, apa kau ingin membunuhku?” Emir berjalan merangkak ke kursi.


“Ya, tentu. Aku sangat ingin membunuhmu. Kau tak tahu, apa akibat yang kau lakukan tadi? Aku harus mencium bibir wanita itu di depan kedai kopi karenamu.”


Zaid mengambil kursi kayu. Duduk di depan Emir seolah mengintrogasinya. Pemandangan yang cukup jarang terlihat. Seorang junior yang memukul senior dan mengintrogasinya.


Tak ada orang seperti itu jika bukan Zaid.


“Baiklah, maafkan aku, tapi, aku yakin kau sudah melakukan yang terbaik. Kau adalah agen yang sangat luar biasa”


“Wah, sekarang kau mulai pandai menjilat. Berhentilah membual, dan jelaskan padaku apa yang terjadi. Jika penjelasanmu tak masuk akal dan tak bisa membuatku percaya, maka aku akan benar-benar memotong lidahmu itu.”


“Silahkan saja, Zaid. Ambil lidahku ini. Aku yakin negara ini akan tetap mengenangku, bukan?”

__ADS_1


“Dasar, brengsek!”  duk!! Zaid kembali menendang tulang kering Emir menggunakan sepatu bootnya. Emir terus melantur saat Zaid sedang berbicara serius padanya.


“Bagaimana aku akan menjelaskan, jika kau terus melakukan kekerasan padaku seperti ini. Tenang dan bersabarlah sejenak.” Emir memperbaiki posisi duduknya.


__ADS_2