TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 057


__ADS_3

“Hmmm, baiklah. Aku mengerti” Zaid pun harus menerima meski dengan terpaksa. “Apa kau benar akan membatalkan semua jadwal milik Can?” Zaid kembali memastikan.


Anna mengangguk. “Sepertinya begitu. Kak Can butuh istirahat total agar dia bisa cepat pulih.”


“Bukankah berlibur ke luar negeri akan bagus untuk kesehatan seseorang? Dengan berlibur di luar negeri, semua orang akan melepas penatnya, dan menumbuhkan hormon bahagia.”


“Dan dengan hormon bahagia itulah, tubuh seseorang akan menyembuhkan dirinya sendiri.”


Zaid masih berusaha membujuk Anna, agar tak membatalkan jadwal untuk pergi ke Rusia.


“Hmm, apa kau sudah menyiapkan semuanya? Paspor? Visa? Apa kau juga sudah mengemas barangmu untuk pergi kesana?”


“Bukan begitu, maksudku ….”


“Tinggalkan paspormu di rumah, dan bawalah segera kopermu kemari. Kau bisa menyimpan semua pakaianmu di lemari itu.” Anna menoleh pada lemari besar di ujung kamar.


“Jangan terlalu kecewa karena kita tak jadi berangkat ke Rusia. Masih banyak lagi tri internasional mendatang. AKu yakin Kak Can akan mengajak para kru untuk berlibur suatu saat nanti, maka, beristirahatlah.”


Anna tersenyum, lalu pergi dari kamar.


Buk buk buk!!!!  Zaid menendang-nendang kasur berkali-kali karena kesal dengan itu.


Mengeluarkan ponsel. Menelpon Emir dan melaporkan apa yang baru saja terjadi.


Sejak saat itulah Zaid tak pernah kembali ke markasnya lagi. Dia harus tetap berada di rumah Can untuk selalu mengawalnya kemanapun Can pergi.

__ADS_1


Seperti singa yang di kekang, Zaid tak bisa leluasa untuk bepergian dari tempat itu.


Terlepas dari sifatnya yang susah diatur, Zaid adalah pria yang berkomitmen. Dia harus menyelesaikan semua yang telah dimulainya sejak awal.


Maka, dia pun harus tetap bersabar untuk itu.


***


Suatu pagi yang cerah, terlihat Can yang sedang berlatih skenario dan dialog untuk syuting yang sempat tertundanya. Melakukan syuting bersama Anna dengan bantuan Zaid.


Satu jam lamanya Zaid berlatih menghafal dan berlatih dialog, hingga Zaid merasa bosan hanya menjadi patung yang harus melihat kelakukan Can dan Anna yang sedang berakting.


Ding dong!!!!  “Paket!!!!” Suara bel rumah berbunyi, juga panggilan dari seorang kurir pengantar paket. Membuat latihan Can harus tertunda.


“Astaga, ada paket. Itu sepertinya paket yang telah kupesan minggu lalu. Baiklah, biar aku saja yang mengambilnya.” Can segera beranjak pergi dari ruang tengah.


“Dasar, Brengsek!” umpatnya dalam hati.


“Baiklah.” Zaid mengangguk. Mengikuti Can menerima paket dari Si Kurir.


Di depan rumahnya terlihat mobil box pengantar barang dengan seorang kurir yang berseragam lengkap juga topi khusus para kurir.


“Astaga, dimana paketku? Astaga, sepertinya ini berat sekali.”  Can mengambil paketnya dari dalam mobil, lalu membawanya masuk ke dalam.


“Semoga harimu menyenangkan, Tuan,” ucap Si Kurir.

__ADS_1


“Tentu.” Can melambaikan tangan pada Si Kurir.


Tak berselang lama, keluarlah Zaid untuk menutup pagar.


“Astaga, kau lagi! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Zaid ketus. Karena si Kurir yang mengantar paket itu adalah Emir.


“Stttt. Jangan bicara terlalu keras. Kau bisa ketahuan nanti.” Emir menarik tangan Zaid, bersembunyi di balik mobil. Mengambil sebuah tas ransel berukuran sedang di dalamnya.


“Bawa ini. Tas ini berisi beberapa pakaian dalammu yang tertinggal di markas. Juga beberapa kaos untuk keseharianmu.”


“Ah, bajingan kau!” Zaid mengambil tas ransel tersebut. “Dia bahkan sudah membelikanku sekitar 100 stel di hari pertamaku kemari. Ini gila.”


“Tak apa, setidaknya kau juga harus memiliki pakaianmu sendiri. Bawalah itu ke dalam. Di dalam itu ada beberapa barang yang bisa kau gunakan untuk menemani kekosonganmu.”


“Baiklah. Omong-omong, bagaimana dengan agen kita di Rusia? Bisakah mereka mendapatkan akses ke rumah Victor?”


Emir menggeleng. “Tidak. Mereka menolak untuk melakukan itu. Agen intelijen dalam negeri bahkan tak bisa menyentuh Victor sama sekali.”


“Dasar Brengsek! Aku semakin membencimu kali ini. Berapa lama lagi aku harus tinggal di ini?”


“Sudahlah.  Kau harus membuat dirimu senyaman mungkin. Kudengar dia juga membelikanmu mobil, bukan? Kau bahkan bisa keluar dari penjara dengan keamanan tinggi saat menyelamatkan Arthur.”


“Aku yakin kau pasti bisa melakukan sesuatu saat ini. Kau harus bisa mendekatinya. Rangkul dia, pegang tangannnya, lalu ….”


“TUTUP MULUTMU, BRENGSEK!” bentak Zaid. Emosi karena Emir hanya mengoceh tak memberi solusi apapun.

__ADS_1


Emir menggaruk-garuk kepalanya.  “Wah, kau memang sinting!” plak! Menepuk punggung Zaid. “Kenapa kau berteriak? Dasar Bodoh!”


Emir menutup mobil box belakangnya, lalu pergi dari halaman rumah Can. Agar Can tak mencurigainya.


__ADS_2