TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 116


__ADS_3

“Ayahku selalu seperti itu. Dia selalu muncul jika butuh sesuatu dan pergi begitu saja jika terkena masalah.”


“Dia tinggal bersamaku di apartemen hanya karena dia membutuhkan sesuatu dibutuhkannya. Dulu dia pernah menitipkan sebuah gelang kepadaku sebelum masuk penjara.”


“Jika kau yakin tak akan menyesalinya, maka tinggalkan saja ayahmu. Jangan pernah kau menemuinya lagi, jika itu membuatmu kesulitan. Kau berhak melakukan hal seperti itu.”


Suasana kedai lengang sejenak. Hanya suara para pelanggan yang berburu makanan dari sepanjang jalan di street food. Anna masih terdiam memikirkan perkataan Zaid.


“Jika kau masih tak mampu untuk meninggalkan ayahmu, maka kau cukup bersikap baik saja padanya.”


Anna menghela nafas panjang. Porsi topokki miliknya sudah hampir habis. Dia beranjak mengambil minuman soju dan menenggaknya sloki per sloki.


“Sebenarnya gelang itu …… Aku menaruh gelang pemberian ayahku itu di dekat makam mendiang kakekku.”


Bagus sekali! Zaid mendapatkan informasi langsung dari mulut Anna. Kini dia tinggal hanya bergerak ke makam kakak Anna dan mengambil gelang itu.


Zaid tak menyangka dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya secepat ini. Dia bisa bergerak dan menyelesaikan misinya dengan cepat.


“Bahkan saat kakekku meninggal, ayahku tidak peduli dan malah melarikan diri. Maka itu aku menaruhnya bersama di Kakekku.”


“Aku yakin dia bisa menemukan gelang itu, jika dia sudah menyadari semua perbuatan buruknya. Dia akan mengunjungi makam kakek jika dia sudah sadar akan itu.”

__ADS_1


“Akan tetapi, aku yakin dia tak akan sadar. Kapan pun itu. Dia tak akan pernah menemukan gelang kuno yang dia mau itu. Tak akan pernah.”


Hari mulai menjelang sore. Satu botol telah dihabiskannya sendiri saat itu. Anna benar-benar dibuat stress dengan kelakuan ayahnya.


“Sekarang, aku akan meninggalkanmu, Anna. Maafkan aku,” batin Zaid.


Perpisahannya kali ini mungkin tak sedramatis, sama seperti perpisahannya dengan Alice di Italia, tapi, perpisahannya kali ini mungkin lebih berkesan.


Zaid harus bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang saat menyelesaikan misinya di negaranya sendiri.


“Aku punya sesuatu untukmu, Anna.” Zaid mengeluarkan sebuah koin emas berbentuk bulat. “Ini adalah sebuah jimat keberuntungan. Kau akan selalu mendapatkan keberuntungan jika kau membawa benda ini.”


“Ah, benarkah? Apa kau bercanda?” Anna menerima koin itu dan melihatnya sejenak. “Baiklah, aku akan membawa jimat ini.” Anna tersenyum, lalu memasukkan koin itu ke dalam kantongnya.


***


Malam harinya di markas Zaid. Terlihat dia yang baru saja kembali setelah seharian berada di luar. Malam itu juga dia telah mendapatkan gelang yang selama ini menjadi misi utamanya.


Usai mengantar Anna sore tadi, Zaid langsung menuju makam Kakak Anna untuk mengambil gelang tersebut. Kini, gelang itupun sudah berada di dalam genggamannya.


Dia melemparkan gelang itu kepada Emir yang tengah duduk menatap layar monitornya.

__ADS_1


“Wah, tak kusangka kau akan mendapatkan gelang itu secepat ini.” mir berseru girang. Melihat Zaid mampu mendapatkan gelang itu.


Zaid hanya mendengus, lalu duduk di sofa dan melamun sejenak.


“Ada apa denganmu? Apa kau sakit? Kenapa wajahmu seperti itu? Kau tak terlihat seperti biasanya.”  Emir berjalan mendekat. Duduk di sebelah Zaid.


“Sepertinya, gelang itu adalah misi terakhirku. Aku hanya mampu membantumu hingga detik ini saja. Karena aku ingin mengundurkan diri dari misi ini.”


Ruangan lengang. Emir pun bertanya-tanya. Kenapa Zaid ingin keluar dan terus membujuknya agar dia tetap menyelesaikan misi itu.


Akan tetapi, apa boleh buat. Keputusan Zaid suda bulat. Dan pastinya tak ada lagi orang yang mampu menahan Zaid, jika itu sudah menjadi keputusannya.


Sejak satu bulan yang lalu, seringkali Zaid merenung dan menyendiri. Dia selalu bertanya-tanya tentang apa sebenarnya tujuan hidupnya. Dan ini lah menurutnya waktu yang pas untuk menentukan jati dirinya.


Dia mungkin akan menghilang, melakukan perjalanan panjang untuk mencari jati diri. Mungkin mencari guru spiritual akan membantunya untuk membimbingnya.


Zaid ingin bebas. Terlepas dari semua ikatan. Hidup sendiri. Berdiri kokoh diatas kakinya sendiri. Tanpa ada agensi atau pihak manapun yang menyetirnya.


Sama persis seperti saat dia dikeluarkan dari militer beberapa tahun yang lalu. Dia ingin menjadi warga sipil biasa, yang menjalani kehidupan normal tanpa ada pihak manapun yang mengekangnya.


Pria dewasa yang sudah memutuskan dan memilih jalan hidupnya sendiri.

__ADS_1


Dan itulah akhir kisah Zaid.


TAMAT


__ADS_2