
Zaid mendengus kesal, menatap Emir. “Sekali lagi kau bahas hal itu, aku sendiri yang akan menembak kepalamu.”
Emir menelan ludah ketakutan, meski Zaid tak mungkin menembak kepala Emir.
“Astaga, kenapa wajahmu sepertimu. Apa kau takut jika aku akan benar-benar menembak kepalamu?”
Emir memalingkan wajahnya kesal.
“Sudahlah, bagaimanapun juga, aku tetap akan segera mengakhiri semua tugasku menjadi pengawal Can Yaman. Aku sudah memeriksa jadwal syuting, dan aku bisa menghilang begitu saja, saat dia sedang berakting.”
Zaid mengepalkan tangan berseru. Dia bangkit dari kursi. Mengambil beberapa bahan peledak dalam sebuah peti yang disimpannya di ruang tengah itu juga.
Tangannya sibuk merakit bahan peledak. Zaid ingin meninggalkan Can dan semua orang terdekatnya menggunakan metode yang juga digunakannya saat berada di Italia.
Beberapa bahan peledak itu terdiri dari barang-barang yang hanya diketahui oleh orang-orang khusus, atau orang-orang yang pernah berada di dalam militer, dan mengikuti latihan perang.
“Hei, berandal! Jangan bilang kau ….. Kau ingin meledakkan diri sama seperti saat kau di Italia?” Emir berjalan mendekat.
“Tentu. Kematian adalah akhir dari semuanya yang paling rapi dan mudah dilakukan.” Tangan Zaid masih sibuk merakit bom diatas meja.
__ADS_1
“Kali ini, aku akan membuat kematianku terlihat lebih rapi dan sempurna, daripada saat di Italia,” lanjutnya.
“Tidak. Tidak. Kau tak boleh melakukan itu disini.” Emir menggeleng tak setuju. “Jika kau berada di luar negeri, kau bisa melakukannya dengan cara itu, tapi, di Turki bom memang benar-benar sangat dilarang.”
“Jika kau melakukan hal yang sama di Turki, sama seperti saat kau di Italia, maka wajahmu akan terpampang besar keesokan harinya.”
“Semua media akan meliput kematianmu, dan semua masyarakat di Turki akan mengenali wajahmu. Kau lupa? disini kau tak mengganti identitas namamu. Namamu tetap Zaid sesuai akte kelahiran.”
“Brengsek!” Zaid kesal, lalu membanting bahan-bahan peledak kembali ke mejanya.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan membuat sesuatu yang sederhana saja. Bagaimana dengan kecelakaan mobil?”
“Mudah saja. Aku akan keluar dari penjara dengan gampang. Penjara di Turki tak seperti penjara di Italia, bukan?”
“Tidak. Tidak. Kau juga tak boleh melakukan itu. Kau tetap harus menjaga namamu.”
“Sial! Lantas, apa yang harus kulakukan?”
“Kau bisa mengundurkan diri saja dari sana, mudah bukan? Pelarian diri paling cocok di Turki adalah sebuah pengunduran diri.”
__ADS_1
“Apa itu cukup? Kurasa pengunduran diri tak akan cukup.”
“Tentu saja itu sangat cukup. Kau bisa bilang ke mereka bahwa kau sakit dan hampir sekarat. Aku yakin mereka tak akan menghentikan dan melarangmu, jika kau berkata begitu.”
“Jika begitu, maka aku masih meninggalkan jejak. Yang kuingin adalah, aku menghilang tanpa jejak.”
“Kalau begitu, kau harus melakukan sesuatu yang menjengkelkan dia. Dan aku yakin kau akan dipecat karena itu. Ya, itu benar. Kau harus menjadi dirimu sendiri. Watak aslimu. Tak suka diatur, dan bertindak sesuai kehendakmu.”
Zaid terdiam. Berpikir sejenak. “Kau benar. Itu ide bagus.”
“Ya. Pokoknya, kau tak boleh menggunakan bom disini, jika itu tak diperlukan.” Emir menghela nafas panjang, lalu pergi ke dapur memasak sesuatu.
***
Musim salju pun tiba. Musim yang sangat dinantikan oleh beberapa masyarakat di Istanbul, Turki, karena memiliki keindahan yang cukup memukau saat musim salju.
Suasana musim salju di Istanbul, Turki, mengubah kota menjadi dunia yang ajaib dengan lapisan putih murni yang menutupi bangunan bersejarah dan jalanan.
Saat salju pertama kali turun di Istanbul, suasana menjadi sejuk dan menyegarkan. Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitar terlihat berbeda.
__ADS_1