
“Baiklah, Pak Sutradara. Figuran satu dan dua akan melakukannya dengan baik,” teriak Anna. Anna pun segera menggunakan baju kolosal wanita yang ada di spot, lalu bersiap untuk menjadi figuran tambahan.
“Apa yang kau lakukan disana? Pakailah pakaian kolosal itu dan kemari,” ucap Anna pada Zaid yang masih duduk santai di spot.
Zaid hanya menggeleng tak menjawab, sementara Pak Sutradara sudah menyuruh Anna untuk mempercepatnya.
“Hei! Cepatlah kemari! Apa yang kau lakukan?”
Zaid kembali menggeleng. “Tidak. Aku tak mau mati. Ingat, jarak satu meter.”
“Ah, sial! Kita sedang bekerja sekarang, Kau tak perlu menjaga jarak denganku saat kita bekerja.” Anna kesal. Zaid membalikkan perkataannya sendiri.
“Baiklah.” Zaid pun segera menggunakan pakaian kolosal kerajaan pria, lalu berdiri di samping Anna. Mereka akan berjalan bersama layaknya pasangan serasi dalam sebuah cerita.
Satu dua tiga. Action!!!! Sutradara telah memberi aba-aba.
__ADS_1
Zaid langsung menggendong tubuh kecil Anna, berjalan menuju tempat yang telah ditentukan Pak Sutradara. Semua mata tertuju pada Zaid dan Anna. Begitupun Can yang melihat pemandangan itu dari kejauhan.
Matanya menatap ketus. Pasti telah terjadi sesuatu pada mereka berdua.
Dengan inisiatifnya sendiri, Zaid menggendong Anna. Membuat adegan lebih romantis, meski hanya pemeran figuran. Itu berada di luar skenario yang dikatakan sutradara.
Anna pun hanya diam. Dia tak bisa menolaknya karena syuting sedan berlangsung. Jika menolaknya, maka adegan akan semakin lama, karena harus mengulangnya kembali.
***
Hari demi hari dilalui Zaid. Dia tetap menjadi pengawal, alih-alih mendekati Anna dan mendapatkan apa yang menjadi prioritas utama, yaitu misi yang sedang dijalankan.
Hingga suatu hari di lokasi syuting dia berselisih dengan Sutradara, membuat kegaduhan tak terelakkan lagi.
Masih di lokasi syuting yang sama di Hagia Irine. Terlihat Pak Sutradara yang sedang memarahi sopir pribadi Can dan salah satu kru yang tinggal di kediaman Can.
__ADS_1
Dia duduk di kursinya dan memaki sopir pribadi Can yang hanya berdiri menunduk. Tak menjawab apapaun.
Di lokasi itu juga terlihat Zaid yang berdiri menyandar di tembok. Melihat Pak Sutradara memarahi, dan sesekali memukul sopir menggunakan gulungan kertas naskah.
Semua kata-kata ungkapan marah dilontarkan Pak Sutradara, karena di hari itu Can sudah sangat telat datang ke lokasi syuting dan membuat semua orang kesal karenanya.
Wajar Pak Sutradara merasa kesal. Kejadian itu tak hanya sekali dilakukan Can. Can berulangkali terlambat datang ke lokasi dan bahkan hingga menundanya saat dia tidak mood untuk syuting.
Contohnya di hari itu sendiri. Can sudah sangat telat datang ke lokasi, dan dia harus dirias dulu sebelum melakukan syuting. Dan merias pasti membutuhkan waktu yang cukup lama.
Membuat sopir dan krunya sendiri mendapatkan omelan dari Pak Sutradara.
Si Sopir pun hanya menunduk dan mengucapkan maaf pada Pak Sutradara.
“Maaf apanya. Kau terus meminta maaf sedari tadi seperti mesin rusak!” bentaknya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Anna pun datang ke lokasi. Menyaksikan semua kegaduhan yang terjadi. “Apa-apaan ini, Pak Sutradara? Kenapa kau memarahinya?”
“Nah, tepat sekali kau datang.” Pak Sutradara berdiri dari kursinya menatap Anna.