
“Biar kutanya satu hal padamu. Apa kau memberitahu semua yang kau lakukan padaku pada Kak Can?”
“Apa maksudmu?”
“Apa yang kalian bicarakan saat malam kemarin?”
“Kenapa kau bertanya? Apa aku juga harus melapor padamu?”
“JIka itu tentangku, maka kau ……”
“Tidak. Itu tentang ku, bukan tentangmu.” Zaid menyela. “Aku berkata jujur padanya.”
“Apa yang kau katakan?”
“Aku hanya berkata, Faktanya bahwa kau dan aku hanyalah rekan kerja. Akan tetapi, kau sangat menyulitkanku dan membuatku khawatir. Itu saja.”
“Sial! Kenapa kau berkata seperti itu? Sudah kubilang padamu, kan? Kita harus tetap berjarak satu meter.” Anna malah marah menggebu-nggebu. Membuat Zaid pun juga terbawa emosinya.
“Aku sudah menjaga jarak satu meter denganmu! Ukur saja dengan meteran jika kau tak percaya. Kau bisa tandai tempat berdiri mu sekarang ini, dan mengambil meteran, lalu mengukur sekarang juga.”
“Wah, rupanya kau pandai membantah. Apa kau sedang bermain-main denganku?”
__ADS_1
Zaid mendengus kesal.
“Bermain? Katamu, aku bermain? Sudah kubilang padamu jika aku menyukaimu. Aku tak berkata jika kau lah yang menyukaiku.”
“Kubilang pada kakakmu itu bahwa kau tak memiliki perasaan padaku. Kakakmu tak akan salah paham, jadi, kau tak perlu khawatir.”
Anna terdiam menunduk mendengarnya.
“Bagaimanapun juga, jika memang aku membuatmu tak nyaman. Aku minta maaf. Aku bisa menjamin ini tak akan terulang lagi. Aku permisi.” Zaid membungkuk, lalu pergi meninggalkan Anna sendirian.
***
Malam harinya di markas Zaid.
Usai dari rumah Can. Zaid tak langsung kembali ke markasnya. Dia berjalan-jalan sendirian. Menghabiskan waktu sendiri, dan merenung seorang diri.
Pergi ke sebuah bar sendiri. Menikmati tiga gelas whiskey, dan menghisap rokok. Melampiaskan semua pikirannya pada kepulan asap rokok yang dihembuskan.
Dan saat kembali ke markasnya, dia mendapati Emir yang tengah kebingungan.
Emir duduk di ujung ruangan. Membungkuk dan memegangi kepalanya sendiri. Terlihat lesu sekali malam itu.
__ADS_1
“Hei, Berandal! Apa yang kau lakukan disana? Kenapa wajahmu tampak lesu sekali? Kau stres?”
Emir mengangkat kepalanya dari meja. “Mulai saat ini, kau harus lebih berhati-hati.”
“Apa maksudmu?” Zaid mendekat. Duduk di depannya.
“Saat aku bersama atasanku, Pak Ricky tadi siang. Ada beberapa orang yang diam-diam mengintai kita saat kita makan di kedai tiongkok. Seperti biasa, aku selalu bertemu dengan dia di kedai, restoran, agar tak ada yang mencurigai kami.”
“Akan tetapi, sepertinya kami sudah ketahuan. Pasti ada pihak yang menyuruh mereka, karena juga menginginkan Patung Budha itu.”
Zaid menghela nafas. “Ini lebih cepat dari dugaanku. Kira-kira siapakah mereka?”
“Tikus-tikus yang mengikuti itu sepertinya juga bukan orang sembarangan. Mereka tampak ahli saat membuntuti dan menyelidiki kami diam-diam. Saat ini, posisi kita tak cukup bagus jika kita tetap mempertahankannya.”
“Kenapa kau harus pusing? Kita serang saja mereka dahulu,” usul Zaid.
“Menyerang? Caranya?”
“Mereka pasti mencari informasi tentang keberadaan kedua Patung Budha yang tersisa. Di satu sisi mereka pasti juga sudah tahu bahwa pihak kitalah yang memiliki Patung Budha pertama.”
“Aku yakin mereka mengincar Patung Budha yang telah kita miliki. Yang harus kita lakukan adalah, melempar umpan agar mereka menggigitnya.”
__ADS_1
Emir serius mendengarkan. Belum memahami sepenuhnya maksud Zaid.
“Jadi, kau harus memancing mereka. Entah esok atau lusa, kau harus kembali diikuti oleh mereka. Kau juga harus berpura-pura menelpon atasanmu.”