Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 100


__ADS_3

Berbeda dari sebelumnya kini Ares tak pernah membiarkan lawan mencetak poin, ia bagai singa ke-edanan dengan cara mainnya yang benar-benar gacor.


Sorak pendukung terus menggema, lawan main mereka dari Eropa kewalahan saat Ares berubah jadi licin. Melihat kapten menjadi power full tentunya yang lain ikut terbawa hingga mereka berhasil sampai set 5.


Sebelum set terakhir itu mereka istirahat terlebih dahulu.


"Apa Ares tidak apa-apa dengan mainnya yang semangat begitu?." Tanya Anna pada Andrew, khawatir saja jika tubuhnya kelelahan.


"Sudah biasa, ya kan dik?." Timpal Andrew menyenggol tangan Nao yang tak lepas memandangi Ares.


Nao terkekeh sekilas. "Ares terlalu berlebihan tapi dia juga tak mungkin membiarkan lawannya menang kak."


"Lebih tepatnya dia semangat karena restu dari om Ishak." Bisik Andrew.


Nao tersenyum, sebenarnya dari kemarin Nao bimbang karena tak mengabari Ares sama sekali untuk memberinya surprise, namun sekarang ia tak mempedulikan itu lagi semangat Ares kembali membara karena ada dirinya dan ayah Ishak sekaligus.


Ishak mengacungkan jempol tat kala Ares akan memulai pertandingan kembali. "Ayo hebohkan stadion nya bujang!!!."


Mendengar itu Ares tersenyum senang, semua orang yang ada di sana tentu menyoroti keluarga Ares banyak yang bertanya-tanya tentunya.


Pertandingan terasa menegangkan saat penentuan akhir pada set 5, di tambah Ares terluka pada tangannya hingga berdarah karena tergores, ia sempat di suruh coach untuk di ganti posisinya oleh tim B namun Ares menolak.


"Aaahh apa dia akan baik-baik saja main dengan tangannya yang terluka?." Lirih Ishak cemas.


Agam menatap khawatir saat Ares dibalut tangannya. "Kita lihat saja."


Mata Ares tertuju pada Nao, Nao menghela nafas panjang seolah memberi isyarat jika Ares harus hati-hati.


"Don't worry." Ucap Ares kembali masuk lapangan.


Dan pertandingan pun kembali dilanjutkan.


Poin mereka tidak beda jauh, hingga pada akhirnya stadion itu menggema saat tim Jepang berhasil mengalahkan lawan.


Ishak dan Agam berdiri begitu pun yang lain mereka bangga bertepuk tangan, Nao senang melihat keberhasilan Ares, tampak tim Jepang saling berpelukan karena perjuangan mereka akhirnya sampai untuk menuju final merebutkan juara 2 dan 1.


"Aku benar-benar akan melepaskan putriku." Lirih Ishak menyeka air matanya yang jatuh begitu saja, sudah terbayang di benak pria paruh baya itu Nao dan Ares yang akan bersanding di pelaminan.


"Putraku tidak akan membawa putrimu pergi, tenanglah kau ini." Agam menepuk bahu Ishak. "Menikahnya saja belum, nangisnya sudah duluan."


Ishak menepis tangan Agam. "Diamlah, kau tidak akan tahu rasanya karena anakmu dua-duanya cowok, sedangkan aku cewek semua Agam."


"Aku juga tau rasanya Nao juga anakku." Timpal Agam.


"Sudah-sudah, aku tidak akan pergi dari ayah maupun papa oke! sekarang mari kembali gembira dengan kemenangan Ares." Ucap Nao yang menengahi menggandeng dua pria paruh baya itu penuh rasa sayang.


Kini Ishak dan Agam tersenyum lagi, sementara Maya dan Sarah hanya menggelengkan kepala.


Setelah selesai berfoto, Ares beserta altet lain kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"Tadi itu luar biasa sekali, kau ini kenapa? awalan loyo tapi menuju set terakhir begitu gacor." Ucap Alex. "Are you oke bro?."


Ares yang memasukkan barang-barangnya terkekeh. "Kau tidak akan tahu rasanya setelah sekian lama, calon mertuaku akhirnya merestui hubunganku dengan putrinya Alex."


Dirangkulnya tubuh kapten tim itu oleh Alex. "Semuanya! kapten muda tampan perkasa ini sebentar lagi akan menikah!."


"Kau ini..."


Masih dengan rasa bahagia karena masuk final, semua atlet yang ada di sana mengangkat tubuh Ares karena ikut bahagia dengan keberhasilannya meraih restu Ishak juga.


.


Hotel


Ares membuka pintu kamarnya dan...


Dor! dor! dor!


Suara terompet ditiup Ben dan juga Andrew, mereka menyambut Ares yang datang.


"Selamat!."


Mendapati itu Ares terkekeh kecil seraya menghampiri mereka, Nao tersenyum ke arahnya begitu pun juga dengan Ares.


Dua sejoli itu berpelukan dengan erat tak peduli lagi mereka saat ini dikelilingi oleh orang tua masing-masing.


"Sudah-sudah, sudah cukup." Ucap Ishak melepas pelukan mereka.


Semua yang ada di sana tertawa terutama Ares, keduanya pun berpelukan.


"Terimakasih ayah sudah merestui dan mempercayakan Nao kepadaku." Lirih Ares terharu.


"Ya, kau menang Ares." Balas Ishak menepuk-nepuk punggung pria tampan itu.


"Aku akan langsung menikahinya!." Mantap Ares dengan serius.


Semua yang ada di sana menatap Ares, termasuk Nao.


"Ini mungkin harusnya sudah dari jauh hari, namun karena begitu banyak rintangan aku baru bisa mengatakannya sekarang."


"Menjalin hubungan sebagai kekasih itu sangat tanggung, aku ingin menjadikan Nao sebagai pasanganku seutuhnya sampai kapanpun, dan dunia harus tahu itu."Lanjut Ares yang kembali menatap Nao.


Sarah, Agam, dan Ishak saling tatap.


"Papa setuju, namun kau harus meminta izin kembali pada orang tua Nao Ares." Ujar Agam tersenyum seraya mengangguk.


Sarah menatap ke arah lain, matanya tiba-tiba berkaca-kaca saat putrinya akan di lamar seperti ini oleh anak sambung sendiri.


"Mama sama seperti papamu, mama dulu tak setuju karena melihat om Ishak, namun karena Ishak kini juga sudah merestui mana mungkin mama juga tidak Ares." Ujar Sarah menyeka air matanya.

__ADS_1


Ares tersenyum. "Terimakasih banyak ma."


Hati Nao bergemuruh, ia ingin menangis namun bukan tangis kesedihan.


Kini Ares menghadap Ishak yang sudah menunduk menyeka air matanya.


"Ares ini diluar dugaan, om bisa sampai damai dengan kalian apalagi merestui mu dengan putriku, tapi berbahagialah kalian, aku percaya kau bisa menjaga dan menyayangi Nao lebih dariku." Lirih Ishak.


Ares yang saking bahagianya tak bisa berkata apa-apa lagi, Ishak dan dirinya berpelukan.


Mereka semua terharu ikut bahagia.


Setelah pertandingan itu mereka pulang bersama, dan secepatnya akan melangsungkan acara lamaran yang disusul acara pernikahan.


.


.


Dua hari berlalu



Nao dan Ares menatap foto yang dipajang di ruang tengah, dimana foto itu diambil kemarin saat mereka melangsungkan acara lamaran.


"Beberapa hari lagi kau akan menjadi suamiku kakak angkuh?."


Ares kini beralih menatap wajah cantik Nao seraya tersenyum. "Apa sampai punya anak nanti kau akan terus memanggilku dengan sebutan kakak angkuh itik?."


"Kau juga masih memanggilku itik, bagaimana kata anakku nanti?." Timpal Nao cemberut tak mau kalah.


Ares tertawa kecil mendapati itu ia langsung menarik tubuh Nao membawanya ke dalam dekapan. "I'am so sorry baby, bagaimana jika kita ubah sebutan kita mulai sekarang?."


"Ya, yang bagus."


Tampak Ares berpikir keras. "Honey? baby? sayang? my love?."


"Entah kenapa itu terasa menggelikan.." Bisik Nao.


"Iya ya, oke ketentuannya sekarang bebas saja mau memanggil apa sayang." Timpal Ares menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang Nao.


Nao terkekeh. "Katanya gak panggil sayang?."


"Ini spontan." Balas Ares menciumi leher jenjang itu dengan lembut sesekali ia gigit pelan.


"Ekhem! ekhem!." Sengaja Andrew yang lewat di sana. "Tempat lain masih ada adik-adikku."


.


TBC

__ADS_1


Ayo jejaknya tinggalkan ya like di setiap episode, juga ketik komentar positifnya untuk membuat semangat thornim naik..🤗


__ADS_2