
10 tahun kemudian...
Setelah selesai mengantar Keenan masuk sekolah untuk pertama kalinya menginjak bangku SMA, Nao dan Ares kembali masuk ke dalam mobil untuk pulang.
"Apa putra kita terlalu mandiri mas sehingga enggan sekali di antar, untungnya aku tetap maksa untuk antar." Ujar Nao.
Ares tersenyum sekilas. "Itu bagus mas menyukai sikap Keen yang tidak seperti anak remaja pada umumnya sayang."
"Kau yang terlalu tegas dalam mendidiknya." Timpal Nao yang mengingat bagaimana suaminya itu mendidik putra sulung mereka.
Ares sangat ikut andil dalam pembentukan karakter Keenan, ia tak mau walaupun Keen berasal dari keluarga terpandang ia tetap harus mandiri dan bijak tidak pandang bulu dalam hal apapun.
Ares memanjakan Keenan cukup sampai umur 10 tahun saja, sedangkan yang 5 tahunnya Keenan benar-benar dididik dengan baik maka sampai sekarang anak yang sudah berumur 15 tahun itu sudah apa-apa sendiri tak mau ditemani orang tua.
Keen tumbuh menjadi anak yang tampan dan cerdas, sejak kecil ia terkenal bandel namun setelah beranjak dewasa itu tidak lagi.
Rasa tanggungjawabnya muncul, apalagi setelah mengetahui jika ia adalah putra pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga besar yang terpandang di kalangan masyarakat.
Keen kini sudah memiliki seorang adik cantik berusia 5 tahun, ia bernama Helena Leonardgo Gilbert sudah duduk di bangku TK dan Keen sangat menyayanginya.
Namun karena buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Keen mewarisi sifat dingin seperti sang papa Ares.
15 tahun pernikahan dilalui oleh Ares dan Nao, suka duka itu benar-benar mereka rasakan bersama. Namun sebesar apapun masalah yang datang keduanya tak pernah berpikiran untuk bercerai saling menyayangi memegang prinsip satu sama lain agar tetap bahagia bersama hingga tua.
"Mas kalau begitu aku pulang duluan ya." Ujar Nao seraya menghampiri Ares yang sibuk di kursi kebesaran.
Ares melirik sang istri, sebelum Nao berlalu pergi Ares berdiri memeluk tubuh Nao dari belakang. Keduanya menatap luas kota itu dari atas perusahaan.
"Ada apa?." Tanya Nao mengelus wajah tampan Ares yang dengan nyaman menghirup aroma tubuhnya.
"Menghilangkan rasa capek dengan memeluk bidadari ku."
Nao terkekeh. "Bisa saja."
"Benar sayang, aku serius!." Timpal Ares.
Nao menghela nafas pasrah. "Iya-iya aku mengalah."
Dengan pelukan penuh kasih sayang Ares mengecup pipi Nao. "Sudah 15 tahun saja sejak kita menikah, kita telah melewati banyak hal yang luar biasa terimakasih sayang sudah bertahan hingga sejauh ini."
Nao mengembangkan senyumnya. "Ya, tak terasa kita sudah tua saja mas."
__ADS_1
"Tua dari mananya sayang?." Timpal Ares seraya membawa Nao kehadapan cermin besar yang terpampang di sana.
Keduanya tampak awet muda karena menerapkan pola hidup sehat. Ares semakin kekar saja begitupun dengan Nao yang aura istri seorang direktur-nya keluar.
"Menolak tua berarti ya?."
"Iya!."
Dua sejoli itu tertawa.
Setelah puas memeluk sang istri Ares melepasnya.
"Nanti mas pulang agak malam sayang ada meeting penting, tak perlu menunggu tidurlah duluan." Ujar Ares.
"Oke, kalau begitu jaga kesehatan."
"Of course."
Keduanya berciuman setelah itu Nao berlalu pergi meninggalkan perusahaan Ares.
.
Malam pun tiba..
Helena yang sedang menonton TV menoleh saat mamanya ikut duduk di sana. "Apa kakak tidak akan pulang ma?."
Nao mencubit gemas hidung mancung gadis kecil itu. "Iya sayang, katanya kakakmu akan menginap di opah Ishak."
Helena cemberut. "Kenapa tak mengajak aku? ini papa sama kakak dua-duanya gak pulang."
Nao langsung memeluk Helena menggelitiknya hingga tawa pecah menghangatkan ruangan itu.
"Tak apa, masih ada mama."
"Oke, hahaha sudah ma Helen geli." Helena minta ampun.
Nao terkekeh. "Cium dulu mama, baru berhenti."
Cup!
Barulah Nao berhenti menggelitik. "Nonton tv nya 15 menit lagi setelah itu Helen tidur!."
"Iya ma." Patuh Helena.
__ADS_1
"Bagus."
.
Sementara itu..
Di kediaman Ishak.
Di halaman samping.
Ishak berjalan ke arah Keen dengan membawa sesuatu di tangan, Keen sangat suka dengan ikan bakar buatan opahnya itu. "Makanlah.."
Keenan tampak senang langsung menyantapnya, sementara Ishak tersenyum seraya duduk di samping cucunya itu. "Pelan-pelan."
"Kenapa tidak dengan Helen Keen? opah rindu juga dengan adikmu."
"Mama sendirian karena malam ini papa lembur opah."
Ishak manggut-manggut.
"Oke tindakan cucu bijak, sering-sering datang ke sini jangan sama opah Agam terus!."
Sudah tak aneh bagi Keen diperebutkan, ia hanya mengangguk saja. "Iya opah."
Setelah selesai menyantap ikan bakar, cucu dan kakek itu mengobrol hingga seseorang menghubungi Ishak. Terpaksa Ishak pun ke tempat lain dulu untuk membahas pekerjaan.
Keen menatap langit malam itu yang begitu indah, namun tak lama fokusnya ter-buyarkan saat melihat seorang gadis cantik tampak berusia sekitar 13 tahunan berjalan menuju sudut tepi kolam untuk mengambil pel.
Keen mengerutkan keningnya, sepertinya gadis itu tahu akan keberadaannya namun entah kenapa ia berlaga seperti tidak tahu dan memilih pergi. "Siapa dia?." Batinnya.
"Sombong sekali!." Lirih Keenan.
Ucapan Keenan pelan namun masih terdengar, sehingga gadis itu seketika menghentikan langkahnya untuk melihat.
Tampak lelaki tampan yang menginjak masa remaja menatapnya, gadis itu yang awalnya ingin menyanggah seketika mengurungkan niat dan memilih diam saat sorot mata keduanya bertemu.
...{ Keenan Leonardgo Gilbert }...
.
__ADS_1
TBC