
Sekitar jam 8 malam barulah keluarga dipersilahkan masuk untuk melihat pasien.
Ruang rawat inap yang dipesan Ares tak tanggung-tanggung langsung cukup untuk 3 orang sekaligus.
Tampak Ishak, Lucy dan juga Ares terbaring tak sadarkan diri.
Sarah langsung berlari menghampiri putri kecilnya yang wajah dan leher gadis itu penuh dengan perban apalagi Ishak. Sarah kembali menangis. "S-sayang sembuh ya mama di sini nak."
Nao sendiri menghampiri ayahnya yang berbaring bersampingan dengan Ares, hanya mata, hidung dan mulut yang tak terbungkus perban. Ishak lebih parah, Nao mengecup kening ayahnya itu ia menyeka air matanya. "Segeralah buka mata ayah, aku di sini."
Kini Nao melirik Ares di sampingnya, Andrew dan Agam tampak mengobrol dengan dokter mengenai kondisi Ares.
"Kenapa kau harus melakukan ini?." Lirih Nao hatinya trenyuh tak bisa melihat Ares seperti itu.
Semua yang ada di sana tak satupun tak merasa kalut juga was-was, kecelakaan ini benar-benar tak terduga dan sangat memilukan.
"Mas!." Pekik Maya yang tiba di sana, ia langsung menghampiri Ishak dengan air mata yang sudah berlinang. "Kenapa bisa seperti ini?.." Maya terisak.
Nao menahan tubuh Maya agar tak mengenai tubuh ayahnya. "Tenangkan diri bu ayah pasti sembuh."
Maya semakin terisak saja apalagi setelah melihat Lucy, ia menghampiri anak sambungnya itu tak peduli ada Sarah yang sedang menungguinya di sana. "L-Lucy!."
Ruangan itu terdengar memilukan sekali dengan Isak tangis yang tak bisa ditahan.
"Sebelah sini ada ruang tunggu khusus, mari." Ujar dokter yang akan kembali melakukan pemeriksaan dan pengunjung tidak boleh ada yang mengganggu.
Di ruang tunggu mereka duduk dengan tatapan kosong, Agam menenangkan Sarah, Nao menenangkan ibu tirinya sementara Andrew sibuk menghubungi seseorang untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan Ben.
"Baik simpan rekaman itu dan saya akan ke sana sekarang!." Ujar Andrew seraya mengakhiri panggilan. "Pah aku harus pergi dulu bersama Ben."
Agam mengangguk. "Ya papa percayakan ini pada kalian."
__ADS_1
Ben dan Andrew berlalu meninggalkan rumah sakit itu.
Selang 10 menit...
Sarah berdiri kembali untuk melihat keadaan Lucy juga yang lain, para dokter yang tengah melakukan tugasnya mulai meninggalkan ruangan itu.
Dengan lembut Sarah mengelus wajah Ares. "Kau melampaui batas, cepat sembuh Ares mama."
Ditatapnya mantan suami, Sarah berharap tuhan mengabulkan permohonannya.
Kini wanita paruh baya itu duduk di samping Lucy, mengelus tangan mungilnya. "Mama di sini Lulu sayang."
Tanpa terasa Sarah memejamkan mata ia tertidur menunggu putrinya siuman, tak lama bagai mendapat keajaiban Sarah dapat merasakan tangan mungil Lucy merespon.
"M-mama..." Lirih Lucy masih lemah seraya membuka mata.
Mendapati itu Sarah kembali menangis bahagia. "Iya sayang ini mama."
"Leher Lucy gak mau ditusuk lagi ya..." Lirihnya pelan.
Sarah mendengar itu sontak menyeka air matanya ia menggelengkan kepala. "Gak, mama gak akan membiarkan itu lagi!."
Setelah melepas rasa cemas pada Lucy, Nao menyenderkan tubuhnya pada tembok dengan tangan menggenggam Ishak sebelah kanan, sementara Ares sebelah kiri. Dua pria itu sangat Nao sayangi. "Ayolah buka mata kalian.."
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10 malam.
Sarah dan Agam menemani Lucy yang diperiksa oleh dokter, gadis kecil itu kini sudah tersenyum walaupun tak terlalu jelas.
"Ukhuk! ukhuk!!."
Mereka semua menoleh.
__ADS_1
Nao terkejut saat Ishak menggenggam erat tangannya, ia terbangun dari koma dengan terbatuk-batuk. "Ayah!..."
Dokter berdatangan. "Akan kami periksa."
Rasa bahagia mereka bertambah dengan sadarnya Ishak dari koma, Maya memeluk Nao sambil menangis menatap Ishak yang kembali di tangani oleh dokter.
"Kondisinya secara bertahap mulai membaik, namun beliau masih lemah dengan kesadaran yang sebelumnya hilang apalagi luka-luka itu." Lapor dokter. "Perkembangannya akan kami pantau."
"Baik terimakasih dok." Ujar Agam.
"Sudah jadi tanggung jawab saya tuan, saya permisi jika ada apa-apa tekan tombol di samping pasien."
Mereka menganggukinya.
Kini Ishak dikelilingi oleh mereka, Agam tak melarang lagi jika Sarah dan Ishak bertemu seperti ini, ia mengalah demi Lucy juga Nao.
"Cepat sembuh!." Lanjut Agam.
Ishak masih tak berdaya bicara, ia hanya mengangguk pelan.
"Ayah..." Nao kembali menggenggam tangan ayahnya itu melepas rasa lara.
Maya tersenyum. "Jika tak ada Ares kau mungkin saat ini belum siuman mas."
Maya menunjuk Ares yang tepat masih berbaring tak sadarkan diri di samping Ishak. "Dia mendonorkan banyak sekali darah, bahkan tadi nyawanya hampir terancam demi dirimu."
Dengan perlahan Ishak menoleh, benar saja Ares ada di sana. Di tatapnya lama, tanpa sadar dari kedua sudut mata Ishak jatuh air bening membasahi perban yang membaluti wajah. "Ares.."
.
TBC
__ADS_1
Ayo jejaknya tinggalkan ya like di setiap episode, juga ketik komentar positifnya untuk membuat semangat thornim naik..🤗