
Sebelum Ares kembali ia menunggu ayahnya untuk membicarakan sesuatu di halaman rumah sakit.
Tak lama Agam muncul dan duduk di samping putranya. "Katakan ada apa?."
"Kak Andrew sudah tahu jika kecelakaan ini disabotase, aku sudah mengurusnya hanya tinggal menunggu umpan berhasil baru kita bawa ke pengadilan." Jelas Ares.
Agam mengerutkan kening ia terkejut. "Jadi benar ini di sabotase!? berani sekali katakan siapa pelakunya!."
Ares menghela nafas panjang. "Om Bram, sahabat papa sendiri."
"Apa!!." Pekik Agam.
Ares menjelaskan semuanya dengan detail tanpa terkecuali, ia berasumsi ini ada hubungannya dengan Tessa yang tak terima jika Nao merupakan wanita yang dicintainya.
"Maka dari itu selama aku di Jepang Nao tetap harus dalam pengawasan, karena orang tak bertanggung jawab pasti akan terus mengincarnya jika belum ditangani!." Tegas Ares.
Agam masih tak menyangka jika Bram akan menusuknya dari belakang, melihat bantuannya selama ini ternyata tak ia hiraukan malah membuat masalah yang mungkin akan membahayakan karirnya. "Kacang lupa kulit!."
"Oke papa akan mengurusnya menyuruh Rama untuk melakukan penangkapan, fokuslah pada kompetisi mu biar papa yang mengadili." Ujar Agam.
Ares mengangguki itu. "Baiklah."
"Selama Lucy masih dirawat papa juga akan sering kesini menemani mama."
"Apa papa kini tidak masalah dengan interaksi mama juga om Ishak?." Tanya Ares.
Agam menghela nafas panjang. "Kita memiliki anak jadi papa tak mau ada keburukan, walaupun papa dulu amat begitu membencinya Ares, ya kita saling membenci satu sama lain."
"Tapi seiring berjalannya waktu hingga kejadian hari ini, sepertinya papa maupun Ishak mulai berpikir dua kali, kau memiliki peran dalam hal ini karena sudah sedekat itu dengan Ishak." Lanjut Agam.
Ares tersenyum sekilas. "Kisah cintaku tak sepenuhnya sebuah kesalahan."
"Benar, papa tak lagi menentang itu terserah kalian namun selagi Ishak belum mengucapkan kata restu jangan memaksa, tunggu saja." Timpal Agam menepuk pundak Ares.
"Hmmm, sejauh ini aku sudah merasa lega melihat kalian bebas berinteraksi."
__ADS_1
"Ya begitulah, ayah mertuamu sangat menyebalkan Ares."
Keduanya terkekeh.
Karena kondisi Lucy semakin membaik, Sarah dan Nao akan membagi waktu untuk menemaninya.
Sarah sebagai istri CEO pasti memiliki jadwal khusus, yang nanti akan digantikan Nao untuk menemani Lucy di rumah sakit.
"Yasudah kamu pulanglah kamu juga masih banyak yang harus dipersiapkan untuk wisuda, Anna menunggu di rumah." Ujar Sarah peka dengan aktivitas Nao.
"Oke." Nao mengecup pipi Lucy sebelum pulang, Nao juga pamit pada ayahnya.
"Tetap hati-hati." Ujar Ishak yang diangguki Nao.
"Iya yah."
Nao pulang bersama Ares, karena mobil Nao sedang diamankan.
Di perjalanan menuju pulang..
"Terimakasih..." Ucap Nao menatap Ares yang fokus menyetir, banyak sekali yang dilakukan pria tampan itu untuk keluarganya.
"Aku tak tahu jika kau bisa sebaik ini kakak angkuh." Lirih Nao seraya menyeka air matanya yang tiba-tiba turun, rasa cinta dan sayangnya terhadap Ares malah semakin besar saja setiap harinya.
Ares menggigit bibir bawahnya ia gemas mengacak-acak rambut Nao. "Sebagai gantinya maka tetaplah jadi wanitaku sampai kapanpun, right?."
"Aku tak yakin kau mantan Casanova, mungkin saja suatu saat kau akan terpincut dengan wanita lain yang lebih dariku Ares." Lirih Nao.
Mendengar itu Ares sangat tak suka dengan jawaban Nao.
"Tidak ada di kamus ku itik, yang ada di sini aku yang takut jika perasaanmu terhadapku perlahan menghilang, kau juga dulunya hobi gonta-ganti pria." Timpal Ares.l tak mau kalah.
Sama seperti Ares, Nao juga tak suka mendengar jawaban itu. "No, jika harus diungkapkan perasaanku malah semakin menjadi terhadapmu dan stop bilang seperti itu karena masa lalu!."
Ares tersenyum senang melihat wajah cemberut Nao, rasanya ia ingin segera menjadikan wanita di sampingnya itu menjadi milik Ares seutuhnya.
__ADS_1
"Iya-iya enggak sweetie, kita melangkah menuju masa depan yang lebih baik."
Nao menganggukinya. "Sure.."
Mobil mereka pun sampai di halaman kediaman keluarga Leonardgo.
"Anna sudah sampai di sini?." Tanya Ares melihat mobil yang terparkir.
"Ya 30 menit yang lalu."
Namun tak jauh dari mobil Anna, mobil Andrew juga sudah ada di sana.
"Cepat sekali dia tiba di sini." Batin Ares.
Nao berjalan duluan untuk mencari keberadaan sahabatnya, begitupun Ares menyusul Nao untuk mencari keberadaan sang kakak.
Anna tak menjawab panggilan dari Nao, Nao kebingungan saat ini dimana keberadaan sahabatnya itu.
Sama seperti Ares juga yang tak menemukan keberadaan Andrew.
Hening beberapa saat, Nao dan Ares saling tatap seolah pikiran mereka connect pada sesuatu.
Didekatinya kamar Andrew untuk memastikan, belum juga masuk ke dalam Nao dan Ares dikejutkan dengan sesuatu yang tergeletak di lantai.
Nao dan Ares mematung.
"Oh my good.."
Karena pintu kamar Andrew tak sepenuhnya tertutup juga, sehingga samar-samar d*sahan lembut yang bersahutan terdengar keluar.
"Eungghh!... Ah!.. Honeyhhh!.."
Wajah Nao bak kepiting rebus mendapati itu, ia langsung balik badan untuk segera masuk ke kamarnya. Namun tangan kekar Ares tiba-tiba melingkar menahan perutnya. "Mau kemana??."
__ADS_1
.
TBC