
Airoo company
Setelah mendata beberapa dokumen penting Ares membuka kembali beberapa berkas besar untuk disesuaikan.
Tak lama ia lemparkan berkas itu hingga jatuh berserakan. "Aaarrrgh!." Konsentrasinya hilang. "Oh damn it!."
Masalah di rumah juga hubungannya dengan Nao membuat Ares kehilangan jati diri, papanya Agam semakin mengembankan tugas kepemimpinan yang diluar dugaan.
Tampaknya papanya itu sengaja membuat Ares agar bisa lama-lama di perusahaan.
Ben yang baru masuk terkejut melihat ruang kerja Ares, sahabatnya itu berpenampilan tak seperti biasanya yang rapih kini seadanya saja walaupun tak menutupi ketampanan Ares. "Come on bro.."
"Ini benar-benar menyiksaku!." Lirih Ares melemparkan tubuhnya di kursi, beberapa saat yang lalu dia juga menghubungi Nao namun kekasihnya itu mendadak tak aktif.
"Kau memantaunya Ben?."
"Nao aman dalam pantauan-ku dia menghabiskan waktu bersama Anna yang kini telah kembali, tenang saja kekasihmu saat ini juga sedang berusaha fokus untuk skripsi." Lapor Ben.
Ares menghela nafas panjang. "Waktuku di sini hanya satu minggu lagi, aku sudah bicara kepada coach jika kau tak ikut main menggantikan posisiku di perusahaan."
"Oke, kau butuh itu untuk menenangkan diri. Coach mengandalkan mu." Timpal Ben yang sudah tahu semua tentang sahabatnya.
"Hmmm, pantau terus Nao jangan sampai ada satu pria pun yang mendekatinya!." Tegas Ares seraya mengambil kembali berkas yang berserakan di lantai.
__ADS_1
"Tentu saja."
"Rupanya kau balas dendam padaku itik." Gumam Ares yang sudah peka saat Nao sengaja menonaktifkan handphonenya.
.
"See you An." Nao melambaikan tangan saat sahabatnya masuk mobil untuk pulang.
Tadinya mereka akan menghabiskan malam namun terpaksa berpisah karena malam ini Sarah mengajak Nao untuk bertemu di suatu tempat.
"Kalo ada apa-apa panggil gue Na, gue pasti datang ingat!." Timpal Anna yang diangguki Nao.
Anna pun berlalu sementara Nao juga memasuki mobilnya menancap gas menuju tempat yang dituju.
Malam pun tiba..
Tampak Sarah sudah lebih dulu datang duduk di kursi restoran dekat pojok yang jauh dari orang-orang.
Ibu dan anak itu kini duduk berhadapan.
"Ada apa mam?." Mulai Nao tanpa gimmick-gimmick, sementara Sarah memesan makanan untuk mereka.
__ADS_1
Sebelum berucap Sarah menghela nafas agar rileks. "Kita sudah lama tak seperti ini, mama hanya ingin mengulanginya."
Nao mengerutkan kening pikirannya menerawang kemana-mana. "Tunggu, apa mama berencana untuk bercerai dengan papa!?."
Sarah tersenyum. "Cepat tanggap sekali putri mama tapi itu belum pasti Nao."
"Oke ma kita langsung ke inti saja, apa ada sesuatu yang ingin mama katakan selain dari sekian banyaknya pertanyaan yang ingin ku tanyakan." Serius Nao.
"Kau benar-benar mencintai Ares?."
"Sampai sejauh ini apa aku belum se-meyakinkan itu ma?."
"Mama serius, karena begitu tahu dirimu."
Nao pun mengangguk. "Iya ma, aku belum pernah merasakan rasa ini sebelumnya dan ini benar-benar menyiksa saat mama menentang."
"Coba katakan dengan jelas alasannya." Lanjut Nao serius.
"Karena kalian saudara tiri mama tak suka! Nao papamu Ishak jika tahu ini akan lebih menentang." Timpal Sarah penuh penekanan. "Mama baru sekarang menemukan kebahagiaan dan kau saksi mata mama Nao, bisakah mengerti untuk ini?."
Melihat mata Sarah dan bibirnya bergetar Nao terdiam sakit sekali jika mengingat perjuangan mamanya dulu, akan tega kah ia membuat mamanya berpisah dengan Agam?.
"Oke mama senang kamu berubah karena Ares juga, tapi Nao kalian tidak akan bisa bersama. Papamu dan Agam tidak akan pernah ada yang mengalah salah satunya, dan jika kamu masih tetap ingin melanjutkan hubungan, mending mama yang mundur melepas kebahagiaan mama." Lanjut Sarah dengan mata yang perlahan berkaca-kaca.
__ADS_1
Hati Nao seketika gamang ia meremas ujung bajunya kuat.
"Kecuali jika Ares bisa mengambil hati Ishak dan menyatukan Agam dengannya, namun itu mustahil dan secepatnya kamu harus memilih salah satu pilihan itu mama atau kamu yang mengalah Nao!."