Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 108


__ADS_3

Di ruang keluarga setelah sarapan..


Nao dan Ares berhadapan dengan Ishak juga Agam serta Maya dan Sarah.


"Pindah?." Ulang Agam setelah mendengar keinginan Ares.


"Iya pah."


"Jadi rumah itu sudah kau beli Res?." Lanjut Agam, putranya ini benar-benar menyiapkan semuanya dengan matang.


"1 Minggu yang lalu ku lakukan."


Ares berencana akan langsung pindah rumah, ia membeli mansion mewah hasil dari jerih payahnya tidak jauh dari Airoo Company. Setelah menikah ia sangat ingin tinggal bersama dengan Nao.


"Jika itu yang kau inginkan, lakukanlah. Papa tidak bisa memaksa kalian harus tinggal di sini, hiduplah dengan bahagia mulai semuanya dari awal." Ujar Agam mempersilahkan, ia masih tak menyangka jika putra keduanya sudah memiliki keluarga juga tanggung jawab.


"Mama sama seperti papa, asal kalian nyaman juga bahagia pergilah." Sarah menimpali.


Ares tersenyum begitupun juga dengan Nao.


"Jika itu keputusannya lakukanlah, ingat kataku Ares jaga dan lindungi putriku sayangilah dan cintai Nao lebih dari apa yang ku berikan padanya. Aku benar-benar menyerahkan Nao padamu." Ujar Ishak.


"Tentu saja ayah, jangan khawatir."


"Ya aku percaya dan memegang kata-katamu."


Pasangan pengantin baru itu pamit, sementara barang-barang mereka sudah dibawa oleh para anak buah Agam menuju tempat tinggal baru.


"Kami akan sering menemui kalian." Lirih Ares memeluk para orang tuanya.


"Jadi istri yang baik patuh sama suami ya, kau bukan single lagi sayang." Lirih Sarah memeluk Nao.


"Iya ma tentu saja."


"Bagus."


"Kami pamit."

__ADS_1


Agam dan Sarah juga Ishak dan Maya melambaikan tangannya mengantar kepergian Nao dan Ares dari mansion itu.


Mobil pun hilang dari pandangan.


"Aku juga sepertinya harus kembali, banyak pekerjaan yang ditinggalkan." Ucap Ishak.


"Tunggu!." Sarah menahan mantan suaminya.


Ishak dan Sarah saling tatap, hati mereka terpaut karena terikat ikatan batin sebagai orang tua dari Nao. Namun Sarah maupun Ishak sendiri mengesampingkan itu, mereka berdua sama-sama menyimpan masa lalu yang memiliki ruang tersendiri di hati keduanya.


"Ku harap setelah semua ini, aku bebas membawa Lucy bermain ke rumahku dan dia bebas melangkah ke manapun itu tanpa aturan ketat darimu lagi Ishak." Ujar Sarah.


Ishak menghela nafas panjang. "Ya lakukanlah kau bebas, tapi Lucy tetap tinggal di rumahku."


Sarah tersenyum. "Oke."


"Bawa saja ma kita culik Lucy dan suruh dia tinggal di sini." Timpal Agam dengan santai.


Tentu saja mata Ishak melotot ingin mencomot mulut Agam. "Kau ini ya!.."


"Sudah-sudah." Potong Sarah menengahi, ia memijit kening pusing. Dulu Sarah sering mendapati Nao dan Ares yang tak akur begini, sekarang malah bapak-bapak mereka. "Haduuuh."


"Terimakasih ya sudah menyayangi Lucy dengan baik Maya, kita bisa terus bersama demi anak-anak." Ucap Sarah.


"Ishak baik pada anakku tidak mungkin aku tak menyayangi Lucy juga." Bijak Maya. "Sering datanglah ke rumah dengan Agam, Lucy pasti senang."


"Tentu saja."


"Baiklah sampai nanti."


"Iya hati-hati."


Ishak dan Maya berlalu pergi meninggalkan pelataran rumah besar keluarga Leonardgo.


Sarah menyenderkan kepalanya pada pundak Agam. "Terimakasih sudah mau berdamai."


"Demi anak-anak, Ares tidak salah ia benar-benar menyatukan kita dengan Ishak sayang." Balas Agam, hatinya sekarang tenang tidak ada dendam dan amarah lagi.

__ADS_1


"Benar."


.


.


Setelah hampir 30 menit di perjalanan, akhirnya mobil Ares terparkir di halaman sebuah rumah besar yang megah.



Nao turun dari dalam mobil, ia melihat-lihat sekeliling rumah itu.


"Bagaimana?." Tanya Ares seraya melepas kacamata hitam yang dikenakan.


Saking kagumnya Nao sampai ia terdiam, namun tak bisa dipungkiri juga Ares memang orang yang hebat sangat fokus dengan tujuannya. "Aku tak bisa berkata apa-apa, selain bangga kepadamu kakak angkuh."


Cup!


Nao mengecup pipi Ares. "Tapi apa ini tidak terlalu kebesaran?."


Ares tak suka dengan pertanyaan Nao. "Nanti kan anak-anak kita yang mengisinya sayang."


"Memangnya mau anak berapa?."


"Terserah padamu itu tubuhmu sayang, tapi jika kau bertanya aku jawab saja." Balas Ares, ia tampak berpikir keras. "4-5 anak sepertinya menyenangkan."


Keduanya terkekeh.


Dielusnya wajah cantik itu dengan lembut. "Aku sudah mempersiapkan ini dari jauh hari, kita akan memulai kehidupan keluarga yang bahagia dan tetaplah di sampingku sampai kapanpun."


Hati Nao trenyuh ia langsung berhambur memeluk tubuh Ares, pria di hadapannya ini bukan hanya sekedar tampan dan memiliki kuasa namun Ares juga memperlakukannya layaknya sebagai ratu. Apalagi setelah melihat perjuangannya.


"Semuanya sudah selesai dirapikan tuan." Lapor anak buah yang membawa barang-barang atasannya.


"Baik terimakasih, kalian bisa kembali."


Para anak buah itu pun pamit berlalu pergi dari sana, Ares dan Nao sendiri masuk ke dalam tempat tinggal baru mereka.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2