
Ini benar-benar sulit bagi Ares, ikan itu benar-benar licin tak mudah untuk ditangkap. Entah ikan itu yang susah ditangkap, entah Ares yang tak mahir dalam menggunakan jaring.
"Ayo ayo cepatlah nanti ku beri uang tak apa mati juga." Ujar Ares jongkok berusaha semaksimal mungkin.
Namun nihil setiap ikan yang masuk pada jaring, ikan itu lompat kembali karena Ares tak bisa memindahkannya ke dalam ember. "Aaargh!."
Ishak menggelengkan kepalanya. "Yang begini mau jadi juragan ikan? haish."
Nao menggaruk kepala tak gatal.
Sudah hampir 15 menit belum ada satu pun ikan yang masuk ke dalam ember. "Bukan aku tak mahir hanya saja mereka terlalu licin." Frustasi Ares mulai berkeringat.
"Apa aku bisa memanggil anak buahku untuk datang ke sini, ayah mertua?." Lanjutnya yang sudah tak tahan lagi.
"Sebenarnya siapa di sini yang mau belajar?." Sindir Ishak. "Anak buahmu? ayo dapatkan satu saja lalu bawa pulang itu spesial dariku langsung."
Ares seketika teringat pada tujuan utamanya, pria itu langsung mengesampingkan rasa lelah dan kembali mengejar ikan.
Hanya di depan Ishak lah harga dirinya yang amat disegani seketika hilang.
Ibu-ibu dan para pegawai ikan yang berada di sana melihat kejadian itu, mereka terkekeh merasa lucu sekaligus kasihan dalam waktu bersamaan.
"Bukankah dia atlet yang sedang terkenal karena skillnya?."
"Owala iya toh suami dan anak gadisku mengidolakannya, kemarin waktu pertandingan nonton bu di televisi." Timpal pegawai yang lain. "Aku harus minta tanda tangan padanya, tampan sekali anak itu."
__ADS_1
"Katanya dia kakak tiri dari putri pak Ishak bu."
"Oh anak sambungnya bu Sarah?."
"Iya."
Byurrr!!!
Ares menjatuhkan tubuh saat mendapat ikan, tak peduli lagi dengan penampilan cool-nya, ia bawa ikan hasil tangkapannya itu ke dalam baju. Otot-otot perut pria tampan itu terekspos sebagian. "Ya akhirnya dapat juga!."
Dengan senyum penuh kemenangan Ares membawa ember isi satu ikan itu ke arah Ishak. "Sudah."
Ishak memijit keningnya. "Lihatlah karena kau kucek terus kolamnya, ikan-ikan ku hampir mati Leonardgo."
"Sudah ku bilang jangan panggil ayah, kau bukan anakku!." Kesal Ishak tak suka.
"I don't care." Lirih Ares dengan santai.
"Haish! mandi dan ganti bajumu pakai saja punyaku, Nao antar dia ke kamar ayah." Ujar Ishak.
"Baiklah." Patuh Nao. "Ikuti aku."
Saat Ares hendak melangkah, tiba-tiba Ishak mencegahnya. "Tidak-tidak! kenapa aku malah mengijinkan?."
"Sama ayah saja!." Timpal Ishak membawa Ares ke dalam.
__ADS_1
Nao sendiri mematung tak habis pikir dengan kejadian hari ini, wanita cantik itu memilih untuk menemui Lucy di kamarnya.
Setelah membersihkan diri Ares dibawa masuk ke kamar Ishak, ia terkejut saat mendapati fotonya terpajang jelas ketika sedang volly dua tahun yang lalu dalam olimpiade.
...(Ilustrasi)...
Ishak yang menyadari tatapan Ares tampak sedikit terkejut. "Ah itu Sarah yang memajangnya dia mengidolakan-mu." Bohong Ishak padahal itu dirinya sendiri. "Cepat ganti baju, ini!."
Ares mengerutkan kening seolah memikirkan sesuatu, namun ia tak mau ambil pusing seraya mengenakan pakaian yang diberi oleh Ishak.
"Pertandingan berikutnya akan berlangsung 2 minggu lagi, sebelum kembali ke Jepang aku akan sering kesini karena saham ku mulai beroperasi." Ujar Ares.
Ishak menatap jengkel bujang blasteran di hadapannya itu. "Menangkap satu ikan saja sudah seperti tadi apalagi mempelajari hal lain!."
Ares menyunggingkan senyum tipis. "Tak masalah asal hati ayah mertuaku ini tertangkap."
"Kau!... Benar-benar sudah tercium maksudnya."
.
TBC
Ayo jejaknya tinggalkan ya like di setiap episode, juga ketik komentar positifnya untuk membuat semangat thornim naik..🤗
__ADS_1