
Nao terdiam saat menatap milik Ares yang sempurna, berurat juga berdiri tegak membuat wanita itu mengalihkan pandangan dengan pipi merona. "Apa tidak akan sakit lagi?." Batin Nao yang ngilu duluan mengingat pengalaman pertamanya.
Setelah pengaman terpasang Ares sengaja nakal menggesekkan kembali benda pusaka itu pada milik Nao. Nao harus bertanggung jawab karena telah berani main-main dengannya. "Ini hukuman-mu!." Bisik pria itu membenamkan wajahnya pada dada Nao mencumbu liar layaknya bayi kehausan.
"Bukankah kau tidak akan menyentuhku jika aku tak memintanya duluan!." Timpal Nao yang menahan gejolak pada tubuhnya akan gesekan nakal milik Ares.
"Karena aku tak bisa mengendalikan diri aturan itu dihilangkan, salahkan diri sendiri saja yang sudah memancing." Lanjut Ares mengelus wajah cantik Nao yang merah akan sentuhannya, wanita cantik itu masih menatap kesal Ares.
"Cih! kau.." Decak Nao yang masih marah juga menahan gelora tubuhnya yang sudah menginginkan lebih. "Jangan menyiksaku.."
"Hmmm, what? katakan sekali lagi baby." Sengaja Ares semakin memancing, sebelum meluncurkan rudalnya ia kembali mencium rakus bibir sexy yang sudah jadi candu itu.
Nao tak bisa berontak juga menolak sentuhan ini. Bercinta dengan amarah sedikit tak menyenangkan, mungkin Ares akan terus menggantungnya jika Nao tak mengalah dan meminta duluan.
"Aresssshhh!." Nao meremas punggung kekar kekasihnya saat pria tampan itu terus menggesekkan. "Jangan menyiksaku!."
Ares mengangkat sudut bibirnya, sudah cukup ia memancing Nao. "Kau mengijinkannya itik?."
"Jika pun aku menolak pasti takkan kau lepaskan!." Potong Nao.
"Kekasihku memang pintar." Ares mencium lembut leher jenjang Nao, setelahnya ia merubah posisi membuka sel*ngk*ngan kekasihnya untuk memulai penyatuan panas.
__ADS_1
Nao memejamkan mata, tangannya meremas kuat sprei saat milik Ares menerobos masuk. Ngilu dan sesak sekali rasanya. "Ares!...."
"Oh damn it!." Ares sudah menduga sensasi luar biasa ini, milik kekasihnya sangat menggoyahkan iman apalagi Nao sendiri rutin perawatan.
Dengan perlahan Ares memaju mundurkan pinggulnya mencapai ritme tertentu, ia kembali mencium rakus bibir Nao memudarkan rasa ngilu yang dirasakan sang kekasih.
Keduanya saling tatap dengan nafas yang bersautan, melihat manik indah itu membuat amarah Ares perlahan mereda. "Ku akui aku yang salah, bisakah kita jangan bertengkar?." Lirihnya tak bisa lama-lama padahal dia sendiri yang memulai.
Nao tersenyum dengan kesan mengejek. "No, i hate you!." Ucapnya lagi.
Ares menggigit bibir bawahnya gemas, keduanya kembali bercumbu penuh gairah. Gundukan kencang yang ikut naik turun itu Ares lahap dengan rakus.
D*sahan keduanya mengisi seluruh kamar apartemen Ares. Nao mencengkram kuat punggung kekar Ares saat hendak mencapai puncak.
Cup!
"Sebut namaku honey!.." Lirih Ares mempercepat ritmenya.
"Aresshh!.. Kauuuah!."
Hingga tak lama..
__ADS_1
"Aaaaaakkkh!." Erang keduanya bersamaan saat mencapai *******.
Nafas keduanya terengah-engah, Ares mengecup kening Nao ia merasakan denyutan bak memijitnya di bawah sana. Ares mencabut miliknya ia lepas pengaman itu diganti dengan yang baru.
Tragedi malam itu kembali terulang dengan orang yang sama malam ini.
Tak bisa bohong keduanya diselimuti gairah yang membara, ingin melakukan lebih untuk menyalurkan perasaan satu sama lain.
Tanpa melepas cumbuan panas Ares mengangkat tubuh Nao untuk ganti posisi. "Apa kau masih marah itik?."
"Tentu saja!..." Balas Nao menggigit leher Ares.
"Akh!." Ringis Ares, gigitan lembut itu membuatnya semakin bergairah tak bisa mengendalikan diri, ia kembali menggempur menyatukan milik keduanya.
Nao menyeimbangi gerakan liar sang kekasih. "Kak aku adikmu kita melakukan kesalahan besar! Mmmh!..."
"Tidak, tuhan yang menghadirkan perasaan ini. Kau adikku namun kau kekasihku Nao." Lirih Ares dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
.
TBC
__ADS_1