Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 54


__ADS_3

.


Acara makan malam berjalan lancar, Nao dan Sarah menikmati momen ini dengan perasaan tak karuan.


"Pulang ke rumah jangan keluyuran skripsi-mu harus diselesaikan jangan sampai ada dosen pembimbing yang menghubungi mama!." Tegas Sarah penuh penekanan.


Nao menggeleng. "Pulanglah duluan, aku ingin menemui Anna. Tentang skripsi aku berusaha melakukannya dengan baik ma."


Sarah tak bisa menahan Nao, ia peka putrinya juga butuh waktu dan teman curhat. "Ya lakukan saja."


Setelah selesai berucap Sarah berlalu pergi duluan dari restoran meninggalkan putrinya. Di sana hanya Nao sendiri, wanita cantik itu menunduk dengan kedua tangan meremas rambutnya.


Ini pilihan yang sulit namun tetap saja Nao secepatnya harus memilih sebelum semuanya terlanjur jauh.


"Tidak akan seperti ini jika aku bertemu Ares sebelum mama dan papa tak berpisah." Lirih Nao meratapi nasibnya yang broken home.


Semilir angin sepoi-sepoi menerpa kulit Nao, beberapa menit menikmati angin segar juga menenangkan diri. Nao mendapat solusi ia yakin dengan keputusannya yang ia timbangkan dari jauh hari.


"Oke, berani memulai berani juga mengambil resiko."


Ternyata bukan rumah Anna yang Nao tuju ia sengaja berbohong kepada Sarah, wanita cantik itu meninggalkan restoran membelah jalanan raya menuju apartemen kekasihnya Ares.


Selang 15 menit akhirnya Nao sampai..


Tepat di hadapan pintu kamar apartemen, Nao tak langsung masuk ia menghela nafas panjang berusaha tampak tenang. Sandi pintu itu Nao tekan dan tak lama pintu terbuka Nao pun masuk ke dalam.

__ADS_1


"Apa dia sudah pulang?." Batin Nao, sudut matanya melihat sekeliling.


Tak lama wanita itu mematung saat Ares lewat telanjang dada di hadapannya ke arah dapur.


Dapat dilihat oleh Nao tubuh kekar Ares dipenuhi keringat, mungkin kakak tirinya itu sehabis nge-gym tak peduli dengan luka tikaman yang masih diperban.


Melihat siapa yang datang Ares putar arah menghampiri Nao. "Tunggu, tiba-tiba menghilang tak menerima panggilan dan sekarang datang?." Sengaja Ares dengan tatapan tajam karena masih marah.


Nao menggaruk kepala tak gatal. "Kau juga sibuk, bukankah kita impas?."


"Ck!." Decak Ares, ia melangkah mendekati kekasihnya.


Namun Nao seketika mundur menjauh menahan langkah Ares dengan tangannya. "Jangan mendekat, aku juga tidak akan lama di sini kak."


Ares mengerutkan kening ia merasa ada yang tak beres. "Apa ada sesuatu?."


Ares terdiam ia menatap lekat wajah Nao mencari jawaban jika itu hanya bualan. "Kau becanda itik?."


Nao menggeleng. "Aku serius."


"Hahahahahahaha!." Ares tertawa terbahak-bahak seolah tak percaya hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi. "Jadi selama ini kau main-main denganku?."


Nao meremas ujung bajunya kuat menahan air mata, Nao rasa saat ini ia begitu cengeng. "Tidak, aku tidak main-main." Jujur Nao yang semakin hari perasaannya saja malah semakin besar terhadap Ares.


"Aku memutuskan untuk mengalah daripada mama dan papa bercerai, keharmonisan ini yang ku inginkan dari dulu dan tidak mau kembali hancur."

__ADS_1


"Akan banyak sekali yang menentang hubungan kita termasuk papaku Ishak." Kini Nao tak bisa menahan lagi air matanya.


"Tak perlu khawatir jika kita ditakdirkan bersama pasti akan kembali, itu yang ada dalam benakku karena sudah lelah juga pasrah." Lanjut Nao seraya menyeka air matanya.


Hati Ares bak diiris, tikaman pisau pada punggungnya bukan apa-apa dengan keputusan Nao. Pria tampan itu memegang erat tangan kekasihnya. "Itik, jodoh merupakan dua insan yang menolak perpisahan, lantas apa jika kau mengambil keputusan ini? aku akan sangat membencimu!."


"Benci saja kalau begitu." Tangis Nao semakin pecah yang membuat perasaan Ares semakin tak karuan. "Aku terpaksa melakukan ini dan kau juga harus mengerti."


Ares lemas melepas genggaman pada tangan Nao, pria tampan itu mondar-mandir menahan amarah mengacak rambutnya kasar. "Oke pergilah kita akhiri saja, aku tak bisa memaksa jika kau yang mengambil keputusan."


"Kita selesai!.." Lanjut Ares yang mundur beberapa langkah menjauhi Nao, mata pria itu terasa panas.


Tanpa berucap lagi Nao balik badan melangkah menuju pintu untuk pergi, sangat tak terduga jika hubungan keduanya kini berakhir.


Gagang pintu Nao pegang cukup lama ia berdiri di sana, Ares menatap nanar dari kejauhan.


Tangan Nao gatal seharusnya dari tadi ia meninggalkan apartemen ini, namun wanita cantik itu malah memilih balik badan berlari ke arah kakak tirinya. "Ares!.."


GREPH!


Nao berhambur pada tubuh bidang itu, Ares mendekap erat wanita yang dicintainya. Tanpa sadar Ares meneteskan air mata, yang jarang keluar bisa satu tahun sekali.


Nao mendongak ke atas menyatukan bibir keduanya, walaupun tak paham Ares menarik leher jenjang Nao memperdalam cumbuan panas. Pria tampan itu menyesap rakus mel*mat penuh agresif. "Apa ini?." Lirih Ares dengan nafas terengah-engah.


"Pertemuan pertama kita indah maka mengakhirinya juga harus demikian."

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2