Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 51


__ADS_3

"Kita tak sedarah mam apa ada masalah dengan itu? justru jika aku tak bertemu dengan Ares mungkin saat ini aku masih keluar malam mengikuti party dimana-mana gonta-ganti pria." Lanjut Nao yang tetap masih berharap Sarah mengerti dengan isi hatinya.


Tidak ada yang salah dengan apa yang Nao ucapkan, Sarah mengakui dan menyadari itu.


Ares belum mengucapkan sepatah katapun ia terjebak. "Ma, pilihan itu apa tidak bisa dihilangkan? kita bisa menjalani hari saling berdampingan dengan pasangan masing-masing."


"Ini sangat sulit bagiku jika harus melepas Nao." Lanjut Ares mengingat perjuangannya, dimana ketika ia merupakan Casanova yang tidak bisa jatuh hati malah menemukan cintanya pada diri adik tiri sendiri. "Katakan alasannya?."


Sarah menyeka air mata yang turun. "Ya itu! karena kalian adik tiri Ares. Mama tidak bisa menjelaskan dengan detail."


"Nao kamu sekarang juga harus fokus pada skripsi masa depanmu masih panjang begitupun dengan Ares, kau calon direktur Airoo selanjutnya harus ingat dan fokus pada tujuan!." Lanjut Sarah. "Mama capek mau istirahat."


"Ma!?." Panggil Nao.


Sementara Sarah melangkah berlalu pergi menuju kamarnya dengan perasaan campur aduk.


Kini di sana hanya tinggal bertiga, mereka sama-sama menunduk.


"Sepertinya suasana keluarga ini tidak akan se-harmonis sebelumnya." Ujar Agam ia masih frustasi.


"Pah...." Lirih Ares dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Seolah mengerti dengan maksud anaknya, Agam hanya menghela nafas berat. "Papa tak masalah dengan hubungan kalian justru ingin berterimakasih kepada Nao karena telah merubah diri Ares."


"Tapi karena cinta kalian salah, inilah akibatnya. Entahlah papa juga butuh waktu begitupun dengan kalian berdua anak-anakku." Lanjut Agam seraya berdiri mengelus kepala Nao juga Ares, setelahnya berlalu pergi menyusul Sarah.

__ADS_1


Hening tidak ada yang bersuara, Ares juga Nao sendiri berkecamuk dengan pikiran masing-masing.


"Itik..."


Nao menoleh menatap kekasihnya, Ares semakin sakit hatinya ketika melihat mata Nao mulai berkaca-kaca.


"Kau memang menyebalkan kakak angkuh! sayangnya aku juga tidak bisa menahan perasaan ini." Air mata Nao jatuh, ini pertama kalinya ia menangis karena masalah pria. Padahal saat disakiti Aiden dulu sama sekali tak pernah malah tak sudi.


"Kau benar-benar mencintaiku ya?." Lirih Ares.


"Cih, pake nanya lagi!." Kesal Nao menutup wajah cantiknya yang semakin terisak.


Ares duduk di samping Nao memeluknya erat ia menyeka air mata itu dengan lembut. "Aku ada di sini honey, bagaimana jika kita ke belakang mencari angin segar?."



Nao duduk melihat setiap gerak Ares yang sedang melampiaskan amarahnya dengan bola volly, tampak tegar seolah tak terjadi apa-apa namun Nao tahu Ares juga sama seperti dirinya.


Keringat Ares membasahi tubuh, setelah puas ia pun melangkah menghampiri Nao dan duduk berhadapan dengannya.


Tidak bersuara hanya mata keduanya saling tatap cukup lama.


"Bagaimana jika kita kabur saja?." Ujar Nao. "Tapi kabur yang bahagia."


Ares terkekeh sekilas. "Bukan kabur namanya."

__ADS_1


"Jangan, jangan pergi Nao aku akan tetap di sampingmu, entah bagaimana akhirnya kita lalui saja." Lanjut Ares mengelus wajah cantik itu.


"Aku harus kembali bicara dengan mama, ada banyak hal yang juga tak ku ketahui. Dia seperti menyembunyikan sesuatu."Timpal Nao dengan raut wajah pasrah.


Ares menempelkan keningnya, hidung mancung mereka bersentuhan. Kali ini rasanya berbeda seolah mereka bersama untuk terakhir kalinya.


Diraihnya wajah tampan Ares, Nao mencium duluan bibir kekasihnya dengan lembut. Mendapati itu Ares menarik tengkuk Nao untuk memperdalam ciuman, ia lum*t dengan rakus menyesap dalam setiap inci manis Nao. "Aku akan sangat membencimu jika kau pergi, i love you itik."


"I love you too." Balas Nao dengan tatapan beratnya ia kembali membuka bibir, melanjutkan cumbuan panas mereka tak peduli tempat.


.


•Visual•


(Naomy Laura Gilbert)




(Ares Leonardgo)



__ADS_1


__ADS_2