
Mendengar itu seketika lutut Nao lemas ia jatuh ambruk ke lantai, padahal satu jam lalu sebelum pulang, Nao melihat Ishak dan Lucy tampak tertawa untuk mengantar adik kecilnya itu sekolah.
Celaka tidak ada yang tahu.
Jantung Nao berdetak lebih kencang karena syok yang begitu tiba-tiba, bayangan kecelakaan menyelimuti benaknya. Bagaimana jika ayah dan adiknya meninggal?. "Gak! gak mungkin!." Nao menggelengkan kepalanya dengan air mata tanpa izin sudah jatuh.
Sarah menunduk, kondisinya sama dengan Nao. "Bi!."
Kepala pelayan langsung datang ketika di panggil. "Iya ada apa nyonya?." Melihat majikannya seperti itu kepala pelayan ikut panik.
"Suruh pak Ismail untuk siap-siap kita akan pergi sekarang juga, dan bibi kasih tahu Agam di kantor jika aku akan menemui Ishak dan Lucy yang kecelakaan." Ujar Sarah.
"Aduh baik nyonya." Si bibi langsung berlari mencari pak Ismail supir pribadi keluarga Leonardgo.
Pak Ismail yang mengetahui itu langsung siap-siap, si bibi pun berlari kembali untuk masuk ke dalam.
Si bibi yang melewati gedung olahraga menghentikan langkahnya. "Duh kasih tahu den Ares gak ya?."
Terlihat dari luar oleh si bibi, Ares yang sedang mengobrol dengan timnya di dalam.
Kepala pelayan itu memilih masuk saja untuk menemui Ares. "Den.."
Ares menoleh. "Ya ada apa bi?."
Dari dalam Ares melihat Nao dan Sarah masuk mobil, kemudian pak Ismail melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah. "Kemana mereka?."
"Aduh itu dia den, ada yang kecelakaan jadi nyonya segera pergi untuk melihatnya." Lapor bibi ikut resah.
Ares mengerutkan kening. "Siapa yang kecelakaan? kenapa Nao ikut serta."
"Katanya ayahnya non Nao dan Lucy den yang kecelakaan." Lapor si bibi.
__ADS_1
Mendengar itu seketika mata Ares membulat sempurna. "Ayah!!.."
Tanpa ganti baju terlebih dahulu, Ares meraih kunci mobilnya.
"Tunggu bro kau mau kemana?." Tanya Alex menahan Ares.
"Berlatihlah tanpa diriku ada urusan yang lebih penting, beri tahu yang lain." Timpal Ares segera berlalu menuju parkiran.
"Oke baiklah kalau begitu." Balas Alex.
Ares menancap gas mobil dengan kecepatan tinggi, ia ikut cemas membayangkan kecelakaan itu. "Oh damn it!."
Sesampainya di TKP, banyak sekali orang juga polisi dan ambulans.
Nao dan Sarah mendekati tempat kejadian untuk memastikan Ishak juga Lucy.
"Stop di larang untuk mendekat!." Tahan dua orang polisi.
"Saya putri dari beliau pak!." Tegas Nao.
Isak Nao semakin menjadi tat kala melihat ayahnya berlumuran darah juga tak sadarkan diri dibawa masuk ke dalam mobil ambulans. "No ayah!!."
Ambulans segera berlalu untuk menangani pasien.
Sarah menutup mulutnya masih syok. "Dimana putriku!?? pak dimana Lucy?."
Keadaan semakin kalut tat kala Lucy tak ditemukan.
"Apa mungkin tubuh gadis kecil itu hancur melihat banyaknya darah seperti ini?." Ujar salah satu warga.
"Diam!." Potong Nao tak kuasa jika memang terjadi.
Seorang polisi menghampiri Nao dan Sarah. "Bapak Ishak sudah dibawa ke rumah sakit A, kami akan mengurus ini jadi silahkan nyonya menyusul korban."
__ADS_1
"Satu lagi pak putriku dimana? aku masih tak tenang jika Lucy tak ditemukan!." Pekik Sarah.
Para pihak berwajib itu seketika berpencar untuk mencari anak kecil yang dimaksud.
Namun tak lama.
Suatu keajaiban, seorang wanita paruh baya berlari dari balik tembok tempat terjadinya kecelakaan, digendongnya Lucy yang lemah lunglai penuh luka dimana-mana.
"Aaakkhh!." Histeris Sarah tak kuasa menahan tangis, anak sekecil itu harus mengalami kecelakaan yang luar biasa.
Sarah menggendong tubuh kecil Lucy tak peduli jika darahnya mengenai tubuh. "Ini mama sayang sadarlah!."
Namun saat Sarah hendak berdiri untuk membawa Lucy ke rumah sakit, wanita itu seketika ikut tak sadarkan diri akan syok yang dialaminya. Sarah pingsan.
"Mama!." Cemas Nao.
Dalam waktu bersamaan Ares tiba di sana, Nao langsung menggendong tubuh Lucy. Dengan perlahan Ares mengangkat tubuh Sarah ke dalam mobilnya.
"Pak Ismail ikuti saya!." Ujar Ares.
"Baik den."
Ares melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Nao yang duduk di sampingnya terus mengelus tubuh lemah Lucy, Nao gemetar perasaannya tak karuan saat sebuah benda runcing menancap pada leher adiknya.
"Ku mohon kau jangan ikut pingsan itik, pejamkan matamu." Ujar Ares.
Nao patuh dengan matanya yang terus berlinang, ditambah mengingat kondisi Ishak.
Sekitar 10 menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Lucy dibawa para suster untuk ditangani sesegera mungkin, sama seperti Ishak, begitupun dengan Sarah yang mengalami syok berat ikut ditangani.
Nao dan Ares di luar menunggu, Nao terduduk lemas air matanya terus membasahi pipi, bagaimana jika Lucy dan Ishak tak bisa diselamatkan?.
Ares merengkuh tubuh Nao mendekapnya erat. "Tidak, tidak akan terjadi apa-apa, tenanglah sayang.."
__ADS_1
.
TBC