Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 73


__ADS_3

Kota B


Nao berlari dengan cepat menyusul Ares yang sudah duluan tiba di halaman rumah ayahnya Ishak.


"Hey tunggu!." Nao menahan tubuh Ares.


Pria tampan itu tampak tenang tak mempedulikan reaksi Nao. "Why?."


"Ayolah apa yang akan kau lakukan di sini? bagaimana jika nanti ayah melakukan sesuatu yang membuat terjadinya keributan!." Timpal Nao seraya melihat sekeliling.


Ares mendorong pelan tubuh Nao. "Minggir itik, sudah ku bilang pulanglah jangan ikut."


"Ha!???." Nao tak habis pikir saat Ares pergi duluan memasuki rumah Ishak.


Wanita cantik itu mau tak mau menyusulnya dengan perasaan tak menentu, ia tahu ayahnya begitu galak.


"Permisi.." Sapa Ares dengan mengetuk pintu yang kebetulan memang terbuka.


Maya keluar dari dalam untuk melihat siapa yang datang, wajah wanita paruh baya itu tampak terkejut.


"Siapa bu?." Tanya Ishak muncul juga dari dalam.


Mereka berdua saling tatap cukup lama.


Nao di belakang merasa tegang tat kala Ares dan ayahnya sudah bertemu. "A-anu ayah jangan dulu....


"Kenapa bujang Francis ini nyasar ke sini?." Ujar Ishak tak suka.


Ares tampak santai saja seraya memberi salam kepada Sarah juga Ishak. "Apa kabar ayah mertua." Ucap Ares sengaja yang dipelototi Nao, namun pria itu tak peduli.


"Sekali lagi, aku bukan ayah mertuamu Leonardgo!." Bantah Ishak.


Maya merasa senang dengan kedatangan Ares, ia akan membujuk bujang Francis itu untuk memberi keringanan pada Angel. "Ares silahkan duduk."


Ares tersenyum penuh kemenangan. "Terimakasih ibu mertua."


"Bu!?." Timpal Ishak tak suka dengan sikap istrinya.

__ADS_1


"Sudah, mungkin Ares datang ke sini ingin membicarakan sesuatu yah." Lanjut Maya yang berlalu ke belakang untuk mengambil jamuan.


Nao menggaruk kepala tak gatal, tindakan Ares benar-benar diluar prediksi BMKG.


Mau tak mau Ishak duduk berhadapan dengan Ares. "Ada apa kau kemari? jika untuk meminta restu, om sudah bilang dari awal tidak akan pernah menyetujui kalian."


Maya datang membawa jamuan, setelahnya ia duduk di samping Ishak.


"Tak apa, bukan itu yang ku minta." Balas Ares dengan santai.


Perasaan Nao mulai tak enak.


"Aku akan memberikan keringanan untuk Angel dengan syarat aku bebas datang ke sini kapanpun hanya untuk menemui ayah mertua." Lanjut Ares.


Maya yang mendengar tampak excited. "Setuju, ibu setuju yah."


"Bu!." Potong Ishak lagi tak suka.


"Tak masalah toh Ares juga tak meminta kau merestui hubungan mereka, hanya ingin datang ke sini sesekali, ditambah ibu juga setuju karena Ares memberikan keringanan pada Angel." Ujar Maya yang sudah lelah membujuk polisi.


Ares menggeleng. "Salah besar."


Nao hanya menatap pasrah melihat Ares dan ayahnya yang sedang bernegosiasi.


"Kemari jangan terlalu dekat-dekat dengannya." Ishak menarik Nao untuk duduk di sampingnya.


Melihat itu Ares hanya tersenyum saja, andai Ishak tahu apa yang pernah terjadi di antara dia dan putrinya itu.


"Aku akan membuka bisnis pembenihan ikan yang beberapa minggu lagi akan dimulai, ini diluar dugaan ku karena sebelumnya tidak pernah menerima tugas seperti ini."


"Berhubung ayah mertua memiliki kolam ikan yang begitu banyak, aku butuh tata cara membudidayakannya, ya walaupun aku tidak akan terjun secara langsung." Lanjut Ares sorot matanya melirik Nao.


Tampak Ishak tertawa. "Kau mau diajari olehku ha?."


"Ya."


Nao diam saja memilih mendengarkan akhir dari negosiasi mereka.

__ADS_1


Tampak Ishak memikirkan tawaran Ares, Maya terus membujuknya juga. "Oke deal kamu boleh datang ke sini sesukamu hanya untuk kesepakatan ini, dan sesuai ucapanmu ubah peraturan ketat pada Angel di kantor polisi."


Sudut bibir Ares terangkat, keduanya bersalaman. "Deal!."


Maya tersenyum senang hari ini juga ia akan mendatangi Angel setelah Ares mencabut aturannya.


Ishak berdiri dari duduknya. "Oke sekarang ikut aku ke belakang kau harus melihat budidaya yang telah ku kembangkan."


"Baiklah."


Ishak berlalu duluan sementara Ares melepas jaketnya, melihat itu Nao menghampiri Ares. "Kau yakin?."


"Tidak ada yang tak bisa ku lakukan, lihat saja." Angkuhnya.


Nao menepuk jidatnya, Ares berlalu menyusul Ishak ke belakang.


Setibanya di belakang, dapat terlihat oleh Ares kolam ikat yang luas berpetak-petak dengan jenis ikan yang berbeda-beda juga.



Ishak memberikan jaring kepada Ares, ditatapnya jaring itu dengan lekat. "Untuk apa ini?."


"Turun dan tangkap lah ikan, itu kemampuan dasar jika kau ingin jadi juragan."


Ares tak langsung menjawab, seumur hidupnya ini tak pernah terbesit dalam pikiran Ares. Apa selain sebutan atlet ia juga akan menyandang gelar juragan ikan?.


Melihat ikan yang banyak Ares sudah merasa geli sendiri membayangkan betis kekarnya harus bergesekan dengan mereka.


Namun pria itu menggelengkan kepalanya, ia akan melakukan apapun untuk bisa dekat dengan ayah mertuanya yang galak itu, dan ini lampu hijau jangan dilewatkan.


Dengan perlahan Ares turun, mau dapat atau tidak turun saja dulu.


"Yah apa ini tak berlebihan?." Lirih Nao resah tak yakin, ketika melihat calon direktur Airoo company selanjutnya mengejar-ngejar ikan.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2